Selasa, 08 April 2014

Kekuatan Kebaikan

Saya menyukai sebuah cerita. Ada cerita yang saat saya membaca sampai akhirnya membuat saya tersentak dan mendapatkan pelajaran mahal. Akan saya ceritakan secara singkat. Begini ceritanya…

Entah bagaimana mulanya, istri dari suami itu selalu bertengkar dan tidak pernah cocok dengan mertuanya. Sang suami sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, karena diantara kedua belah pihak sama-sama merasa benar dan tentu tak ada yang mau disalahkan. Rupanya sang istri yang sudah tidak tahan lagi dengan keadaan tersebut diam-diam mengunjungi pamannya untuk meminta dibuatkan racun. Ya, racun. Seperti sinetron kan?
Kawan tentu sudah bisa menebak apa tujuan sang istri itu, benar sekali, untuk membunuh mertuanya yang tidak lain adalah ibu suaminya sendiri. Sang paman tersenyum mendengar permintaan keponakannya. Dia berkata, “Baiklah jika engkau meminta demikian, akan kubuatkan. Tetapi, aku ingin menyarankan beberapa hal. Pertama, lebih baik racun yang dibuat itu adalah racun yang membunuh secara perlahan. Karena kau akan dicurigai, jika tiba-tiba mertuamu mati, dan selama itu engkau harus bersabar.” “Saya setuju paman” katanya. “Kedua, meskipun mertuamu mati secara perlahan, ada kemungkinan engkau akan disalahkan karena hubungan kalian yang buruk, nah agar engkau tidak disalahkan dan juga benar-benar  tak akan dicurigai, maka engkau harus berbuat baik kepada mertuamu, jika kamu melakukan itu maka bisa dipastikan kau akan selamat, tak akan ada satupun yang berpikiran bahwa kamu yang membunuhnya,” jelas sang paman. Tanpa  berpikir panjang lagi, sang istri itu langsung menyetujuinya.

Begitu sampai di rumah, dia langsung menjalankan saran pamannya, membuat racun racikan sang paman pada setiap makanan dan minuman mertuanya. Mencoba untuk mengalah dan menuruti semua keinginan mertuanya, tak lupa juga memasang wajah yang berseri-seri, apapun yang terjadi dia tetap berbuat baik kepada mertuanya. Dia pun melakukan hal itu dengan sabar, dan tak terasa hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga suatu ketika sang mertua itu tersentuh hatinya dan menjadi sayang terhadapnya. Mertua itu juga berubah sifat dan sikapnya terhadap menantunya, sudah seperti ibu dan anak kandung sendiri. Dan mereka juga sering menghabiskan waktu bersama. Tak disangka, sang istri tadi juga mulai menyayangi mertuanya, dia tidak ingin mertuanya mati. Dia pun menyesal atas apa yang dilakukannya, maka dengan segera dia mendatangi pamannya untuk meminta penawar racun. Tragis bukan?

Mendengar apa yang telah terjadi, sang paman lagi-lagi tersenyum. “Kamu tak perlu khawatir, yang kamu berikan selama ini bukanlah racun, melainkan obat untuk menjaga kesehatan.”

Baiklah, kawan bisa membayangkan sendiri bagaimana ekspresi dan perasaan sang istri tadi. Nah, pelajaran apa yang dapat diambil dari cerita diatas? Pepatah ini mungkin dapat mewakilkan, batu yang keras itu dapat berlubang juga oleh lembutnya tetesan air. Itulah kekuatan kasih sayang, kekuatan kebaikan, meski engkau berpura-pura sekalipun, bayangkan apalagi engkau sungguh-sungguh melakukannya? Kekuatannya akan semakin dahsyat.

Percayalah, cara terbaik untuk membalas orang yang tidak berbuat baik kepada kita justru dengan tetap berbuat baik kepadanya seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah kepada seorang Yahudi tua, sebatang kara, dan buta yang selalu menghina dan sangat membenci Rasulullah. Rasulullah tetap berbuat baik kepadanya. Memberinya makan setiap hari dan tidak pernah terlambat sedetikpun, padahal Yahudi itu selalu bercerita betapa ia sangat membenci Rasulullah kepada orang yang memberinya makan yang sebenarnya tak lain adalah orang yang dibencinya sendiri, namun Rasulullah tetap bersabar dan tak sedikitpun membencinya.

Rasulullah tetap menghormatinya sebagai orang yang lebih tua dan tak sakit hati atas apa yang selalu diucapkan Yahudi meski hampir setiap hari dia mengatakannya, Rasulullah tetap menyuapinya dengan lembut. Bahkan sampai Rasulullah meninggal pun, Rasulullah tetap mengingat Yahudi tua itu. Beliau menyuruh Abu Bakar untuk menggantikannya memberi makan kepada Yahudi tua yang buta itu.

Datanglah Abu Bakar kepada Yahudi tua yang buta itu. Seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya, yahudi tua itu menceritakan keburukan-keburukan Rasulullah dan mengatakan betapa senangnya ia mendengar kabar wafatnya Rasulullah. Mendengar itu, Abu Bakar hanya menangis dan tetap berbuat baik kepada Yahudi tua yang buta itu, dan mencoba menyuapinya seperti yang sering dilakukan Rasulullah. Akan tetapi, Yahudi itu dapat merasakan bahwa yang menyuapinya saat ini bukanlah seorang pemuda yang sama seperti pemuda yang menyuapinya. Yahudi yang buta itupun bertanya kemana pemuda itu. Mendengar pertanyaan itu, semakin deras air mata Abu Bakar dan semakin keras tangisnya. Beliau pun mengatakan, bahwa pemuda itu tak lain adalah Rasulullah yang sangat dibencinya. Segera saja Yahudi tua yang buta itu menangis, sungguh menyesal atas perbuatannya dan detik itu juga memutuskan untuk masuk Islam.

Yakinlah, bahwa suatu hari nanti, selama kita tetap berbuat baik kepada seseorang yang berbuat buruk kepada kita, tak lupa menyelipkan namanya dalam doa-doa kita, kebencian yang sebesar gunung itu akan menjadi sebutir debu. Bahkan harimau yang ganaspun akan luluh. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^