Rabu, 21 Januari 2015

Filosofi Deret Aritmetika

Untuk mencapai tujuan atau cita-cita, setiap orang punya langkah yang berbeda-beda, bukan begitu?

Nah, karena berbeda-beda, maka akan terbagi menjadi beberapa golongan.

Golongan ini dikategorikan dengan langkah ala matematika. Filosofi materi deret aritmetika versi saya. Hehe.

Termasuk golongan yang manakah kita?

Ada yang menggunakan langkah begini,
1+2+3+4+5+...+~

Langkah-langkah yang maju dan mengalami peningkatan. Merekalah orang-orang yang persistancenya tinggi, tidak hanya bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas. Tujuan mereka akan tercapai.

"Hari ini harus lebih baik dari kemarin", begitulah prinsip mereka.

Yang seperti ini juga ada,
1+1+1+1+1+...+1

Senin, 19 Januari 2015

Pemahaman yang Menjadi Mercusuar

Percaya atau tidak, manusia bertingkah laku sesuai dengan apa yang ia pahami, apa yang menjadi pemahamannya. Bila hari sedang hujan lebat, kita akan menggunakan jaket, mematikan kipas angin, atau meminum sesuatu yang menghangatkan badan, mungkin juga duduk dekat per’api’an.  Mengapa kita melakukan hal itu? Karena hampir semua orang memahami kalau hujan maka harinya akan dingin.

Ada juga fenomena yang saya tuh aneh sendiri. Gimana ngga aneh coba, sekarang bungkus rokok desainnya makin menakutkan, langsung tuh dipasang gambar-gambar penyakit yang disebabkan akibat rokok, tapi yang beli teuteup ngga sepi. Nah, hal itu terjadi karena ada dua kemungkinan, pertama, ia punya pemahaman lain tentang rokok, atau kedua, pemahamannya masih kurang terhadap dampak merokok.

Masih mau contoh lain lagi? Kita bisa lihat kok, mengapa ada orang yang sholat, ada yang engga. Ada yang minum khamr ada yang minum air mineral, hehe. Di saat ada yang menolak Khilafah, pastilah ada yang menerima. Ada yang sudah menikah, ada yang masih jomloh, lha, lho, yang terakhir abaikan sajah.

Minggu, 18 Januari 2015

Esok, Masihkah Milik Kita?


Ketika hari ini membuka facebook, kebetulan membaca status dari teman. Isi statusnya membuat siapa pun yang membacanya, mungkin akan terpikir tentang nasibnya.

Statusnya tentang ucapan 'selamat jalan' dan doa untuk teman kami yang dulu satu SMA. Mendengar kabar teman sebaya meninggal, itu rasanya memang tidak menyangka, kaget.

Teringat dulu ketika malamnya smsan sama seorang teman, besoknya janjian mau ketemu karena kami beda sekolah.

Esok harinya, saya sudah di tempat kami janji bertemu. Namun bukan ia yang datang, tetapi orang lain yang mengabarkan, bahwa ia telah meninggal.Tentu saja telinga saya tidak percaya mendengarnya. Bahkan, ketika hadir di pemakamannya pun, saya masih tidak percaya.