Minggu, 18 Januari 2015

Orang yang ISTIMEWA itu Mengikuti Arus!

Orang-orang yang istimewa itu sedikit, ya, memang demikian faktanya. Mereka sedikit karena mereka berbeda dari kebanyakan orang. Apakah mereka berbeda karena melawan arus? Dulu saya pikir iya. Namun ketika memikirkannya lagi sekali, dua kali, saya rasa tidak.

          Jika kita mengambil hikmah dari ikan yang agar dapat tetap hidup, ia harus bergerak melawan arus mencari makanannya, dan memang, hanya ikan yang mati mengikuti arus, maka hal itu tak dapat disalahkan. Tapi, mungkin bukan ‘melawan arus’nya yang kita jadikan patokan, melainkan ‘gerak’ dari ikan tadi. Sebagaimana ikan yang ‘bergerak’ menandakan bahwa dia ‘hidup’, maka terlebihlah kita, manusia.

          Apalagi bila kita mengambil pelajaran dari hukum I Newton, “Benda diam akan cenderung tetap diam dan suatu benda yang bergerak akan cenderung bergerak…”, bila kita senantiasa bergerak, maka kita akan cenderung selalu bergerak.

          Jadi, mengapa orang-orang yang istimewa itu berbeda? Karena mereka bergerak, itu pasti. Karena apa lagi?  Ya, seperti judul tulisan ini, mereka berbeda justru bukan karena mereka melawan arus, tetapi mereka berbeda karena mereka mengikuti arus. Sampai sini mau protes? Hehe. Tenang, tenanglah dulu, penjelasannya belum selesai, belum sempurna.

           Oke, lanjut, sekarang saya mau bertanya, apa realita yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan ini? Apakah segala kerusakan yang sudah sistemik dan multidimensi ini terjadi karena orang-orangnya mengikuti arus? Tidak, sekali-kali tidak. Segala kerusakan yang terjadi, sekarang, karena orang-orangnya bergerak melawan arus. Ya, karena kebanyakan dari mereka tidak mengikuti arus, tidak mengikuti arus kebenaran.

          Bukankah daulah Khilafah runtuh karena umat muslim meninggalkan Islam? Karena tidak lagi menggunakan sistem Islam? Umat muslim bergerak keluar dari arus aturan Islam. Seandainya umat muslim tetap mengikuti aturan Islam secara kafah, tetap berada di dalam arus Islam, tidak melawan arus dengan pergi mengikuti arus selain Islam, sampai sekarang mungkin Khilafah akan tetap berdiri. Saat ini adalah saat dimana orang-orang bergerak melawan arus, pantaslah kerusakan terus-menerus terjadi.

Contoh yang sudah menjadi rahasia umum  adalah berapa banyak muslimah yang sampai hari ini masih ‘enggan’ menjalankan aturan agamanya dengan menutup aurat, menjaga kehormatan dirinya dengan tidak pacaran sebelum menikah? Kita diharamkan untuk mengambil riba, tapi dengan apa ekonomi kita saat ini dibangun? Kita punya hutang yang mungkin bunganya hampir sama dengan besar hutangnya. Kita sebagai umat muslim telah dipersaudarakan oleh Allah, tetapi ketika ribuan muslim di negeri lain dibunuh, kita hanya diam karena tersekat nasionalisme. Bahkan kita, kaum muslim, yang sebenarnya berserikat dalam tiga hal, padang rumput, air, dan api, semuanya justru dinikmati oleh asing. Sungguh, sudah terlalu jauh melawan arus.

Karena masa sekarang orang sedang ramai-ramai melawan arus, itulah yang membuat orang-orang yang istimewa berbeda, mereka tetap teguh mengikuti arus, teguh mengikuti apa yang diperintahkan di dalam Islam. Disaat orang-orang berbuat kerusakan dengan melawan arus, mereka justru melakukan perbaikan. Walaupun mereka yang mengikuti arus, tetap berada dalam arus kebenaran, mereka malah terasing, mereka tak akan goyah.

Satu hal, mereka  memilih untuk tidak melawan arus, bukan karena mereka ingin dianggap istimewa. Mereka tetap bertahan dalam ‘arus’, karena mereka meyakini, mengikuti arus, arus Islam, adalah sesuatu yang benar. Kebenaran yang tak akan pernah berubah, selama-lamanya.

Mari mengikuti arus, kembali kepada arus, arus kebenaran, arus Islam. ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^