Orang-orang yang istimewa itu
sedikit, ya, memang demikian faktanya. Mereka sedikit karena mereka berbeda
dari kebanyakan orang. Apakah mereka berbeda karena melawan arus? Dulu saya
pikir iya. Namun ketika memikirkannya lagi sekali, dua kali, saya rasa tidak.
Jika kita mengambil
hikmah dari ikan yang agar dapat tetap hidup, ia harus bergerak melawan arus
mencari makanannya, dan memang, hanya ikan yang mati mengikuti arus, maka hal
itu tak dapat disalahkan. Tapi, mungkin bukan ‘melawan arus’nya yang kita jadikan
patokan, melainkan ‘gerak’ dari ikan tadi. Sebagaimana ikan yang ‘bergerak’
menandakan bahwa dia ‘hidup’, maka terlebihlah kita, manusia.
Apalagi bila
kita mengambil pelajaran dari hukum I Newton, “Benda diam akan cenderung tetap
diam dan suatu benda yang bergerak akan cenderung bergerak…”, bila kita
senantiasa bergerak, maka kita akan cenderung selalu bergerak.
Jadi, mengapa
orang-orang yang istimewa itu berbeda? Karena mereka bergerak, itu pasti.
Karena apa lagi? Ya, seperti judul
tulisan ini, mereka berbeda justru bukan karena mereka melawan arus, tetapi
mereka berbeda karena mereka mengikuti arus. Sampai sini mau protes? Hehe.
Tenang, tenanglah dulu, penjelasannya belum selesai, belum sempurna.
Oke, lanjut, sekarang saya mau bertanya, apa
realita yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan ini? Apakah segala kerusakan
yang sudah sistemik dan multidimensi ini terjadi karena orang-orangnya
mengikuti arus? Tidak, sekali-kali tidak. Segala kerusakan yang terjadi,
sekarang, karena orang-orangnya bergerak melawan arus. Ya, karena kebanyakan
dari mereka tidak mengikuti arus, tidak mengikuti arus kebenaran.
Bukankah
daulah Khilafah runtuh karena umat muslim meninggalkan Islam? Karena tidak lagi
menggunakan sistem Islam? Umat muslim bergerak keluar dari arus aturan Islam.
Seandainya umat muslim tetap mengikuti aturan Islam secara kafah, tetap berada
di dalam arus Islam, tidak melawan arus dengan pergi mengikuti arus selain
Islam, sampai sekarang mungkin Khilafah akan tetap berdiri. Saat ini adalah
saat dimana orang-orang bergerak melawan arus, pantaslah kerusakan
terus-menerus terjadi.
Contoh yang sudah menjadi
rahasia umum adalah berapa banyak
muslimah yang sampai hari ini masih ‘enggan’ menjalankan aturan agamanya dengan
menutup aurat, menjaga kehormatan dirinya dengan tidak pacaran sebelum menikah?
Kita diharamkan untuk mengambil riba, tapi dengan apa ekonomi kita saat ini
dibangun? Kita punya hutang yang mungkin bunganya hampir sama dengan besar
hutangnya. Kita sebagai umat muslim telah dipersaudarakan oleh Allah, tetapi
ketika ribuan muslim di negeri lain dibunuh, kita hanya diam karena tersekat
nasionalisme. Bahkan kita, kaum muslim, yang sebenarnya berserikat dalam tiga
hal, padang rumput, air, dan api, semuanya justru dinikmati oleh asing. Sungguh,
sudah terlalu jauh melawan arus.
Karena masa sekarang orang
sedang ramai-ramai melawan arus, itulah yang membuat orang-orang yang istimewa berbeda,
mereka tetap teguh mengikuti arus, teguh mengikuti apa yang diperintahkan di
dalam Islam. Disaat orang-orang berbuat kerusakan dengan melawan arus, mereka
justru melakukan perbaikan. Walaupun mereka yang mengikuti arus, tetap berada
dalam arus kebenaran, mereka malah terasing, mereka tak akan goyah.
Satu hal, mereka memilih untuk tidak melawan arus, bukan karena
mereka ingin dianggap istimewa. Mereka tetap bertahan dalam ‘arus’, karena
mereka meyakini, mengikuti arus, arus Islam, adalah sesuatu yang benar.
Kebenaran yang tak akan pernah berubah, selama-lamanya.
Mari mengikuti arus, kembali
kepada arus, arus kebenaran, arus Islam. ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^