Oh angin, apa yang coba kau bisikkan padaku? Tentang keresahanmu kah?
Bila kau terkejut dengan apa yang kau saksikan, angin, aku pun begitu.
Abad ini, realita memang lebih imajinatif dari pada imajinasi itu sendiri. Rasanya bagaikan hidup di negeri dongengnya dongeng, lebih mustahil lagi dari negeri antah berantah yang
letaknya dimana, tak ada yang tahu.
Ya, angin, aku dengar, aku dengar. Kau mengadu tentang kasus Charlie Hebdo yang mengeluarkan majalah menghina Nabi dengan karikaturnya. Anehnya, mereka dianggap pahlawan. Kau bertanya, bagaimana mungkin ada kebebasan menghina? Bagaimana mungkin mereka malah dianggap pahlawan?
Bukankah tadi sudah ku katakan angin, abad ini realita jauh lebih imajinatif dari imajinasi itu sendiri. Di abad ini, tak ada batasan yang jelas mengenai kebebasan, padahal manusia mana yang akan mengatakan bahwa menghina itu adalah hal yang baik? Lebih dari itu, siapa yang sebenarnya rela ia atau orang yang dicintainya dihina?
Bahkan angin, saking bebasnya, di negeri ini, BBM pun diliberalisasi. Kau tak percaya? Kau mungkin masih mengingatnya, awal bulan lalu BBM turun. Komentar pertamaku mendengar itu, "ah, pencitraan...", tapi, tapi ternyata lebih dari itu!
Sungguh, realita lebih imajinatif. Bayangkan, harga BBM dilepas mengikuti harga pasar, harga minyak internasional. Kemungkinan, BBM akan naik lagi, dengan harga sekarang saja, rasanya ngos-ngosan.
Ah, ya, dengar-dengar, pihak asing juga diberi kebebasan untuk juga menjual premium tanpa dimintai pajak. Tapi pertamina, milik negeri sendiri dikenai pajak.
Terpikirkankah olehmu, angin, itu seperti orang tua yang menganakemaskan anak orang lain dan pada saat yang sama membebani anak sendiri. Ah, realita memang lebih imajinatif di masa ini.
Belum lagi soal drama politik negeri ini, antara KPK, Presiden, dan Kapolri. Oh, angin, bahkan orang-orang menganggap itu adalah pertempuran antara 'cicak vs buaya', atau seperti 'buaya darat vs lintah darat'. Tom and Jerry saja kalah imajinatifnya, angin, Ah!
Abad ini memang sudah bergerak lebih cepat menuju ketidakwarasan, aku yang berbicara dengan angin, iya, kau, kipas angin, berbicara denganmu tak akan dianggap aneh, karena realita benar-benar lebih imajinatif daripada imajinasiku yang menganggapmu punya lidah dan telinga. Imajinasiku yang membayangkan kau mengerti bahasa Indonesia, meskipun kau buatan Cina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^