Untuk mencapai tujuan atau cita-cita, setiap orang punya langkah yang berbeda-beda, bukan begitu?
Nah, karena berbeda-beda, maka akan terbagi menjadi beberapa golongan.
Golongan ini dikategorikan dengan langkah ala matematika. Filosofi materi deret aritmetika versi saya. Hehe.
Termasuk golongan yang manakah kita?
Ada yang menggunakan langkah begini,
1+2+3+4+5+...+~
Langkah-langkah yang maju dan mengalami peningkatan. Merekalah orang-orang yang persistancenya tinggi, tidak hanya bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas. Tujuan mereka akan tercapai.
"Hari ini harus lebih baik dari kemarin", begitulah prinsip mereka.
Yang seperti ini juga ada,
1+1+1+1+1+...+1
Rabu, 21 Januari 2015
Senin, 19 Januari 2015
Pemahaman yang Menjadi Mercusuar
Percaya atau tidak, manusia
bertingkah laku sesuai dengan apa yang ia pahami, apa yang menjadi pemahamannya.
Bila hari sedang hujan lebat, kita akan menggunakan jaket, mematikan kipas
angin, atau meminum sesuatu yang menghangatkan badan, mungkin juga duduk dekat per’api’an.
Mengapa kita melakukan hal itu? Karena hampir
semua orang memahami kalau hujan maka harinya akan dingin.
Ada juga fenomena yang
saya tuh aneh sendiri. Gimana ngga aneh coba, sekarang bungkus rokok desainnya
makin menakutkan, langsung tuh dipasang gambar-gambar penyakit yang disebabkan
akibat rokok, tapi yang beli teuteup ngga sepi. Nah, hal itu terjadi karena ada
dua kemungkinan, pertama, ia punya pemahaman lain tentang rokok, atau kedua,
pemahamannya masih kurang terhadap dampak merokok.
Masih mau contoh
lain lagi? Kita bisa lihat kok, mengapa ada orang yang sholat, ada yang engga.
Ada yang minum khamr ada yang minum air mineral, hehe. Di saat ada yang menolak
Khilafah, pastilah ada yang menerima. Ada yang sudah menikah, ada yang masih
jomloh, lha, lho, yang terakhir abaikan sajah.
Minggu, 18 Januari 2015
Esok, Masihkah Milik Kita?
Ketika
hari ini membuka facebook, kebetulan membaca status dari teman. Isi statusnya
membuat siapa pun yang membacanya, mungkin akan terpikir tentang nasibnya.
Statusnya
tentang ucapan 'selamat jalan' dan doa untuk teman kami yang dulu satu SMA. Mendengar
kabar teman sebaya meninggal, itu rasanya memang tidak menyangka, kaget.
Teringat
dulu ketika malamnya smsan sama seorang teman, besoknya janjian mau ketemu
karena kami beda sekolah.
Esok
harinya, saya sudah di tempat kami janji bertemu. Namun bukan ia yang datang,
tetapi orang lain yang mengabarkan, bahwa ia telah meninggal.Tentu saja telinga
saya tidak percaya mendengarnya. Bahkan, ketika hadir di pemakamannya pun, saya
masih tidak percaya.
Orang yang ISTIMEWA itu Mengikuti Arus!
Orang-orang yang istimewa itu
sedikit, ya, memang demikian faktanya. Mereka sedikit karena mereka berbeda
dari kebanyakan orang. Apakah mereka berbeda karena melawan arus? Dulu saya
pikir iya. Namun ketika memikirkannya lagi sekali, dua kali, saya rasa tidak.
Jika kita mengambil
hikmah dari ikan yang agar dapat tetap hidup, ia harus bergerak melawan arus
mencari makanannya, dan memang, hanya ikan yang mati mengikuti arus, maka hal
itu tak dapat disalahkan. Tapi, mungkin bukan ‘melawan arus’nya yang kita jadikan
patokan, melainkan ‘gerak’ dari ikan tadi. Sebagaimana ikan yang ‘bergerak’
menandakan bahwa dia ‘hidup’, maka terlebihlah kita, manusia.
Apalagi bila
kita mengambil pelajaran dari hukum I Newton, “Benda diam akan cenderung tetap
diam dan suatu benda yang bergerak akan cenderung bergerak…”, bila kita
senantiasa bergerak, maka kita akan cenderung selalu bergerak.
Jadi, mengapa
orang-orang yang istimewa itu berbeda? Karena mereka bergerak, itu pasti.
Karena apa lagi? Ya, seperti judul
tulisan ini, mereka berbeda justru bukan karena mereka melawan arus, tetapi
mereka berbeda karena mereka mengikuti arus. Sampai sini mau protes? Hehe.
Tenang, tenanglah dulu, penjelasannya belum selesai, belum sempurna.
Sabtu, 17 Januari 2015
Pesan Penting
Setelah shalat ashar
berjama’ah di langgar dekat sekolah SD yang sekaligus dijadikan tempat TK
Al-Qur’an, seperti biasa kami berkumpul mendengar ceramah dari sang Ustadz.
Waktu itu, saya masih kecil. Entah kelas berapa, saya lupa. Tapi, ada satu hal
yang sampai sekarang masih segar dalam ingatan, pesan dari sang Ustadz kala itu.
Meskipun saya baru mengerti pesannya sekarang, berpuluh tahun sejak pesan itu
disampaikan.
Saya mengingatnya karena
cara beliau menyampaikannya seolah itu adalah sesuatu yang teramat penting.
Saya mengingatnya karena ekspresi beliau menggambarkan bahwa kami harus
melakukannya. Saya benar-benar mengingatnya dari nada suara beliau yang langsung
menembus hati kami. Ya, saya ingat bahkan tanpa niatan mengingatnya.
Beliau menutup ceramahnya
dengan satu pesan, kurang lebih begini, “Ada satu hal penting yang jangan kalian
lupakan ketika sujud terakhir dalam shalat, mintalah agar Allah memberi
hidayah, bahkan itu yang sebenarnya harus selalu kalian minta.”
Jumat, 16 Januari 2015
Rahasia Di Atas 100%
Hai, hai, hello, hello, hai…
Yeap, saya memang sedang senang hari ini,
senangnya seperti melihat durian nenek saya, buahnya runtuh, hehe. Lebay? Iya,
sesekali, hihi.
Ah, bagaimana tak senang? Lagi, saya menemukan
rahasia. Tepatnya sih, dikasih rahasia. Nah, karena ngga ada perjanjian rahasia
itu harus ditutup rapat-rapat, maka tak berdosa dong bila saya membocorkannya?
Semoga kawan-kawan semua sudah pernah mendengar
rahasia ini, lho?! Iya, karena rahasia ini lebih baiknya kalian sudah mengetahuinya
lebih dulu dibandingkan saya yang baru mengetahuinya.
Penasaran? Itulah yang saya harapkan, hehehe.
Uhm, sebelumnya, maaf ya, rahasia ini hanya untuk mereka yang ‘ambisi’ terhadap
ilmu, mereka yang tak bosan belajar, dan untuk mereka yang selalu ingin
meningkatkan kemampuannya.
Rabu, 14 Januari 2015
Realita Lebih Imajinatif, Angin...
Oh angin, apa yang coba kau bisikkan padaku? Tentang keresahanmu kah?
Bila kau terkejut dengan apa yang kau saksikan, angin, aku pun begitu.
Abad ini, realita memang lebih imajinatif dari pada imajinasi itu sendiri. Rasanya bagaikan hidup di negeri dongengnya dongeng, lebih mustahil lagi dari negeri antah berantah yang
letaknya dimana, tak ada yang tahu.
Ya, angin, aku dengar, aku dengar. Kau mengadu tentang kasus Charlie Hebdo yang mengeluarkan majalah menghina Nabi dengan karikaturnya. Anehnya, mereka dianggap pahlawan. Kau bertanya, bagaimana mungkin ada kebebasan menghina? Bagaimana mungkin mereka malah dianggap pahlawan?
Langganan:
Postingan (Atom)