Setelah shalat ashar
berjama’ah di langgar dekat sekolah SD yang sekaligus dijadikan tempat TK
Al-Qur’an, seperti biasa kami berkumpul mendengar ceramah dari sang Ustadz.
Waktu itu, saya masih kecil. Entah kelas berapa, saya lupa. Tapi, ada satu hal
yang sampai sekarang masih segar dalam ingatan, pesan dari sang Ustadz kala itu.
Meskipun saya baru mengerti pesannya sekarang, berpuluh tahun sejak pesan itu
disampaikan.
Saya mengingatnya karena
cara beliau menyampaikannya seolah itu adalah sesuatu yang teramat penting.
Saya mengingatnya karena ekspresi beliau menggambarkan bahwa kami harus
melakukannya. Saya benar-benar mengingatnya dari nada suara beliau yang langsung
menembus hati kami. Ya, saya ingat bahkan tanpa niatan mengingatnya.
Beliau menutup ceramahnya
dengan satu pesan, kurang lebih begini, “Ada satu hal penting yang jangan kalian
lupakan ketika sujud terakhir dalam shalat, mintalah agar Allah memberi
hidayah, bahkan itu yang sebenarnya harus selalu kalian minta.”
Jujur, waktu itu saya
tidak tahu apa itu hidayah. Ah, mengapa dulu saya tidak bertanya? Tapi yang
dapat saya tangkap adalah hidayah itu sesuatu yang penting, sangat penting. Dan
karena itu pesan dari ustadz, saya yakin tentu hidayah itu adalah sesuatu yang
baik.
Ada kejadian lucu, pasca
pesan itu disampaikan. Karena yang ada dalam pikiran saya hidayah itu adalah
sesuatu yang sangat penting, saya yang masih anak-anak, ketika sujud terakhir
saya berdoa dengan bersuara, “Ya Allah berilah hamba hidayah”, saya mengucapnya
3 kali. Terang saja, saat shalat selesai saya ditertawakan teman kanan kiri. Sungguh,
saya tidak tahu kalau tidak boleh bersuara ketika berdoa disujud terakhir.
Seiring berjalannya
waktu, saya menemukan sedikit pencerahan, bahwa hidayah itu adalah petunjuk.
Tapi, saya belum benar-benar mengerti mengapa berdoa memohon hidayah/petunjuk
adalah sesuatu yang penting.
Dan sampailah saya
menemukan penjelasan dari mp3 ustadz Dwi Condro tentang hidayah dan dhalalah
(kesesatan). Barulah saya mengerti, bahwa hidayah yang dimaksud ustadz saya dulu,
mungkin adalah hidayah taufiq, hidayah bonus dari Allah. Jika demikian, maka
hidayah taufiq dari Allah itu memang sesuatu yang harus kita minta, sesuatu
yang harus kita usahakan untuk mendapatkannya, sesuatu yang sama sekali bukan
untuk ditunggu kedatangannya.
Karena mengapa? Ternyata,
hidayah itu punya 3 makna. Pertama, hidayah Al-Khalqi, yaitu akal yang Allah
berikan.
“Dan
Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)
Jadi, jika ada orang
yang mengatakan belum dapat hidayah, maka sesungguhnya Allah telah memberikan
hidayah itu. Tak cukup dengan yang pertama, Allah pun memberikan hidayah yang
kedua, yaitu hidayah Al-Irsyad wa Al-Bayan, hidayah yang diturunkan Allah
dengan diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Rasulullah saw kepada seluruh
manusia.
“Dia-lah
yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama
yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang
musyrik benci.” (QS. Ash-Shaff: 9)
Misalnya ada orang yang
belum shalat, belum menutup aurat, belum mau mengkaji Islam, itu berarti belum
dapat hidayah?
Apakah berharap hidayah
yang ketiga? Hidayah yang ketiga, hidayah bonus dari Allah ialah hidayah yang
berupa persetujuan atau kemudahan yang datang dari Allah ketika seseorang
menjalankan aktivitas menaati-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah
memberikan taufiq kepada seorang hamba yang maksimal menjalankan ketaatan
kepada Allah agar dapat menjalankan ketaatan itu dengan lebih mudah.
“Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)
Maka, bagaimana kita
bisa berkata, “Aku belum dapat hidayah”, jika untuk berdoa meminta hidayah
kepada Allah saja kita tidak melakukan? Bagaimana kita mengadu belum dapat
hidayah, padahal sejak lama hidayah itu turun dan telah sampai kepada kita? Bagaimana
kita beralasan “ada saatnya, lagi belum dapat hidayah”, kalau mengambilnya kita
enggan?
Sungguh, bagaimana? Ba-gai-ma-na?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^