Sabtu, 17 Januari 2015

Pesan Penting

Setelah shalat ashar berjama’ah di langgar dekat sekolah SD yang sekaligus dijadikan tempat TK Al-Qur’an, seperti biasa kami berkumpul mendengar ceramah dari sang Ustadz. Waktu itu, saya masih kecil. Entah kelas berapa, saya lupa. Tapi, ada satu hal yang sampai sekarang masih segar dalam ingatan, pesan dari sang Ustadz kala itu. Meskipun saya baru mengerti pesannya sekarang, berpuluh tahun sejak pesan itu disampaikan.

Saya mengingatnya karena cara beliau menyampaikannya seolah itu adalah sesuatu yang teramat penting. Saya mengingatnya karena ekspresi beliau menggambarkan bahwa kami harus melakukannya. Saya benar-benar mengingatnya dari nada suara beliau yang langsung menembus hati kami. Ya, saya ingat bahkan tanpa niatan mengingatnya.

Beliau menutup ceramahnya dengan satu pesan, kurang lebih begini, “Ada satu hal penting yang jangan kalian lupakan ketika sujud terakhir dalam shalat, mintalah agar Allah memberi hidayah, bahkan itu yang sebenarnya harus selalu kalian minta.”
Jujur, waktu itu saya tidak tahu apa itu hidayah. Ah, mengapa dulu saya tidak bertanya? Tapi yang dapat saya tangkap adalah hidayah itu sesuatu yang penting, sangat penting. Dan karena itu pesan dari ustadz, saya yakin tentu hidayah itu adalah sesuatu yang baik.

Ada kejadian lucu, pasca pesan itu disampaikan. Karena yang ada dalam pikiran saya hidayah itu adalah sesuatu yang sangat penting, saya yang masih anak-anak, ketika sujud terakhir saya berdoa dengan bersuara, “Ya Allah berilah hamba hidayah”, saya mengucapnya 3 kali. Terang saja, saat shalat selesai saya ditertawakan teman kanan kiri. Sungguh, saya tidak tahu kalau tidak boleh bersuara ketika berdoa disujud terakhir.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan sedikit pencerahan, bahwa hidayah itu adalah petunjuk. Tapi, saya belum benar-benar mengerti mengapa berdoa memohon hidayah/petunjuk adalah sesuatu yang penting.

Dan sampailah saya menemukan penjelasan dari mp3 ustadz Dwi Condro tentang hidayah dan dhalalah (kesesatan). Barulah saya mengerti, bahwa hidayah yang dimaksud ustadz saya dulu, mungkin adalah hidayah taufiq, hidayah bonus dari Allah. Jika demikian, maka hidayah taufiq dari Allah itu memang sesuatu yang harus kita minta, sesuatu yang harus kita usahakan untuk mendapatkannya, sesuatu yang sama sekali bukan untuk ditunggu kedatangannya.

Karena mengapa? Ternyata, hidayah itu punya 3 makna. Pertama, hidayah Al-Khalqi, yaitu akal yang Allah berikan.

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad: 10)

Jadi, jika ada orang yang mengatakan belum dapat hidayah, maka sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah itu. Tak cukup dengan yang pertama, Allah pun memberikan hidayah yang kedua, yaitu hidayah Al-Irsyad wa Al-Bayan, hidayah yang diturunkan Allah dengan diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Rasulullah saw kepada seluruh manusia.

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. Ash-Shaff: 9)

Misalnya ada orang yang belum shalat, belum menutup aurat, belum mau mengkaji Islam, itu berarti belum dapat hidayah?

Apakah berharap hidayah yang ketiga? Hidayah yang ketiga, hidayah bonus dari Allah ialah hidayah yang berupa persetujuan atau kemudahan yang datang dari Allah ketika seseorang menjalankan aktivitas menaati-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah memberikan taufiq kepada seorang hamba yang maksimal menjalankan ketaatan kepada Allah agar dapat menjalankan ketaatan itu dengan lebih mudah.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Maka, bagaimana kita bisa berkata, “Aku belum dapat hidayah”, jika untuk berdoa meminta hidayah kepada Allah saja kita tidak melakukan? Bagaimana kita mengadu belum dapat hidayah, padahal sejak lama hidayah itu turun dan telah sampai kepada kita? Bagaimana kita beralasan “ada saatnya, lagi belum dapat hidayah”, kalau mengambilnya kita enggan?

Sungguh, bagaimana? Ba-gai-ma-na?  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^