Percaya atau tidak, manusia
bertingkah laku sesuai dengan apa yang ia pahami, apa yang menjadi pemahamannya.
Bila hari sedang hujan lebat, kita akan menggunakan jaket, mematikan kipas
angin, atau meminum sesuatu yang menghangatkan badan, mungkin juga duduk dekat per’api’an.
Mengapa kita melakukan hal itu? Karena hampir
semua orang memahami kalau hujan maka harinya akan dingin.
Ada juga fenomena yang
saya tuh aneh sendiri. Gimana ngga aneh coba, sekarang bungkus rokok desainnya
makin menakutkan, langsung tuh dipasang gambar-gambar penyakit yang disebabkan
akibat rokok, tapi yang beli teuteup ngga sepi. Nah, hal itu terjadi karena ada
dua kemungkinan, pertama, ia punya pemahaman lain tentang rokok, atau kedua,
pemahamannya masih kurang terhadap dampak merokok.
Masih mau contoh
lain lagi? Kita bisa lihat kok, mengapa ada orang yang sholat, ada yang engga.
Ada yang minum khamr ada yang minum air mineral, hehe. Di saat ada yang menolak
Khilafah, pastilah ada yang menerima. Ada yang sudah menikah, ada yang masih
jomloh, lha, lho, yang terakhir abaikan sajah.
Jadi, mengapa bisa
berbeda-beda tingkah laku seseorang terhadap suatu ‘hal’ yang sama? Adakah faktor
lain selain dari karena pemahamannya? Bila ada, bisa ditambahkan, hehe. Kalau
karena faktor X, misal dipaksa atau diancam, dsb, itu lain cerita yaa…
Bila kita memikirkan
lebih jauh, lebih dalam lagi, maka memang benar jika pemahaman kita terhadap
sesuatu terbagi menjadi dua macam. Hal ini perlu kita ketahui, mengapa? Sebab
ini akan membuat kita mengerti orang seperti apa kita, mengapa kita melakukan
sesuatu dan mengapa tidak, sampai pada apakah kita melakukan ‘hal’ yang benar
atau tidak. Bahkan, dengan mengetahuinya, kita akan bisa memperbaiki dan
meluruskan perbuatan kita selama ini. Dan, semoga kita jua mengerti bagaimana
seharusnya kita menjalani hidup.
Menurut buku yang
saya baca, judulnya ‘Metode Perubahan Sosial Politik dengan Pertarungan
Pemikiran dan Perjuangan Politik Menurut Sunnah Rasulullah SAW,’ tulisan dari
Mahmud Abdul Karim Hasan, pemahaman itu ada dua macam.
Satu, yaitu ‘pemahaman
akan sesuatu’. Seperti contoh di atas tadi, hari yang hujan lebat akan
menimbulkan hawa dingin. Rokok itu berbahaya. Api itu bisa membakar. Minuman khamr itu
memabukkan. Dsb. Karena pemahaman dihasilkan dari pemikiran, maka contoh-contoh
yang disebutkan itu adalah hasil dari pemikiran kita yang sifat atau
hukum-hukumnya bersumber dari realita. Hal itu boleh jadi benar, boleh jadi
salah, tergantung sesuai atau tidak dengan realita.
Misalnya nih, seseorang
yang sangat lapar, begitu ditawarkan makanan, ia menolak. Ia menolak karena ia
meyakini bahwa makanan itu ada racunnya, dan racun itu mematikan. Ia berbuat
sesuai dengan apa yang ia pahami, seperti halnya contoh di atas tadi ketika
hari sedang hujan lebat. Kita akan bertingkah laku/berbuat sesuai dengan apa
yang kita pahami.
Dua, Pemahaman akan
kehidupan. Jika yang pertama tadi sifat/hukumnya bersumber dari realita, nah
pemahaman kedua ini hukum-hukumnya bersumber dari luar sesuatu yang dibahas.
Kita memahami, kalau khamr itu memabukkan, ini adalah pemahaman tipe satu,
pemahaman akan sesuatu.
Tapi, kita juga
memahami bahwa khamr itu haram kan? Nah, pemahaman kita bahwa khamr itu haram
darimana? Apakah khamr itu haram karena ia memabukkan? Ya, bukan karena
memabukkannya khamr itu haram, tapi karena Allah yang mengharamkannya. Kita pun tahu bahwa daging babi itu bisa
dimakan, itu pemahaman kita terhadap sesuatu. Namun, meskipun bisa dimakan,
kita tidak akan memakannya. Kita tidak memakannya karena daging babi itu
diharamkan memakannya.
Pemahaman kita
tentang sesuatu itu halal atau haram, wajib, sunnah, mubah, makruh, atau
sesuatu itu baik atau buruk, dan sesuatu itu benar atau salah, pemahaman
seperti itulah yang dikatakan pemahaman tentang kehidupan. Pemahaman yang
hukumnya bersumber dari luar sesuatu yang dibahas.
Kita memahami bahwa
sholat itu wajib, menutup aurat itu wajib, riba itu haram, atau contoh lain
seperti berhala itu haram, pluralisme itu haram, dan sampai pada pemahaman
bahwa demokrasi itu juga haram. Darimanakah pemahaman itu kita dapatkan? Benar sekali,
darimana lagi kalau bukan dari Allah? Kita mengakui bukan, bahwa akal kita tak
mampu memberikan penilaian yang seperti itu. Bahkan, sesuatu yang buruk menurut
kita pun bisa jadi sebenarnya baik, baik bagi Allah.
Karena pemahaman
tentang kehidupan ini bersumber dari luar sesuatu itu sendiri, dan akal kita
tidak mampu untuk memberi penilaian, maka tidak mungkin bukan, kita mengambil sesuatu yang sumbernya dari
sesuatu yang salah, apalagi dari manusia yang jelas bisa salah?
Berbeda dengan
pemahaman tipe satu, untuk pemahaman tipe dua, pemahaman tentang kehidupan ini,
Islam telah jelas menyatakan, bahwa satu-satunya yang berhak membuat hukum
hanyalah Allah.
“Sesungguhnya hak
membuat hukum itu hanya milik Allah. Ia
memerintahkan untuk tidak menyembah kecuali kepada-Nya.” ( QS Yusuf: 40)
“Barangsiapa yang
tidak memutuskan sesuatu dengan apa yang diturunkan Allah maka ia termasuk
orang-orang yang kafir.” (QS Al Maaidah: 44)
Pertanyaannya
adalah, bagaimana pemahaman kita tentang kehidupan, kawan? Bila awalnya salah,
semoga kita dimudahkan meluruskannya. Tapi, bila sudah benar pemahaman kita
tentang kehidupan ini, semoga tidak ada hal lain kecuali semakin bertambah
keyakinan kita, semakin mantap pemahaman itu. Sekali lagi, kita bertingkah laku/berbuat
bergantung pada apa yang kita pahami. Agar perbuatan kita benar, maka pemahaman
kita juga harus benar. Dan pemahaman yang benar harus bersumber dari sesuatu
yang pasti benar. Yang pasti benar itu adalah Islam, sungguh tak ada selainnya,
tak kan pernah ada.
Maaf bila tulisan
ini kesannya menggurui. Mari, saling mengingatkan kepada kebenaran, kepada
Islam, dengan begitu kita akan selalu mendapatkan mercusuar-mercusuar untuk menerangi
langkah kita. Insya Allah.
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya
peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS Adz Dzariyat: 55)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^