Senin, 19 Januari 2015

Pemahaman yang Menjadi Mercusuar

Percaya atau tidak, manusia bertingkah laku sesuai dengan apa yang ia pahami, apa yang menjadi pemahamannya. Bila hari sedang hujan lebat, kita akan menggunakan jaket, mematikan kipas angin, atau meminum sesuatu yang menghangatkan badan, mungkin juga duduk dekat per’api’an.  Mengapa kita melakukan hal itu? Karena hampir semua orang memahami kalau hujan maka harinya akan dingin.

Ada juga fenomena yang saya tuh aneh sendiri. Gimana ngga aneh coba, sekarang bungkus rokok desainnya makin menakutkan, langsung tuh dipasang gambar-gambar penyakit yang disebabkan akibat rokok, tapi yang beli teuteup ngga sepi. Nah, hal itu terjadi karena ada dua kemungkinan, pertama, ia punya pemahaman lain tentang rokok, atau kedua, pemahamannya masih kurang terhadap dampak merokok.

Masih mau contoh lain lagi? Kita bisa lihat kok, mengapa ada orang yang sholat, ada yang engga. Ada yang minum khamr ada yang minum air mineral, hehe. Di saat ada yang menolak Khilafah, pastilah ada yang menerima. Ada yang sudah menikah, ada yang masih jomloh, lha, lho, yang terakhir abaikan sajah.


Jadi, mengapa bisa berbeda-beda tingkah laku seseorang terhadap suatu ‘hal’ yang sama? Adakah faktor lain selain dari karena pemahamannya? Bila ada, bisa ditambahkan, hehe. Kalau karena faktor X, misal dipaksa atau diancam, dsb, itu lain cerita yaa…

Bila kita memikirkan lebih jauh, lebih dalam lagi, maka memang benar jika pemahaman kita terhadap sesuatu terbagi menjadi dua macam. Hal ini perlu kita ketahui, mengapa? Sebab ini akan membuat kita mengerti orang seperti apa kita, mengapa kita melakukan sesuatu dan mengapa tidak, sampai pada apakah kita melakukan ‘hal’ yang benar atau tidak. Bahkan, dengan mengetahuinya, kita akan bisa memperbaiki dan meluruskan perbuatan kita selama ini. Dan, semoga kita jua mengerti bagaimana seharusnya kita menjalani hidup.   

Menurut buku yang saya baca, judulnya ‘Metode Perubahan Sosial Politik dengan Pertarungan Pemikiran dan Perjuangan Politik Menurut Sunnah Rasulullah SAW,’ tulisan dari Mahmud Abdul Karim Hasan, pemahaman itu ada dua macam.

Satu, yaitu ‘pemahaman akan sesuatu’. Seperti contoh di atas tadi, hari yang hujan lebat akan menimbulkan hawa dingin. Rokok itu berbahaya.  Api itu bisa membakar. Minuman khamr itu memabukkan. Dsb. Karena pemahaman dihasilkan dari pemikiran, maka contoh-contoh yang disebutkan itu adalah hasil dari pemikiran kita yang sifat atau hukum-hukumnya bersumber dari realita. Hal itu boleh jadi benar, boleh jadi salah, tergantung sesuai atau tidak dengan realita.

Misalnya nih, seseorang yang sangat lapar, begitu ditawarkan makanan, ia menolak. Ia menolak karena ia meyakini bahwa makanan itu ada racunnya, dan racun itu mematikan. Ia berbuat sesuai dengan apa yang ia pahami, seperti halnya contoh di atas tadi ketika hari sedang hujan lebat. Kita akan bertingkah laku/berbuat sesuai dengan apa yang kita pahami.

Dua, Pemahaman akan kehidupan. Jika yang pertama tadi sifat/hukumnya bersumber dari realita, nah pemahaman kedua ini hukum-hukumnya bersumber dari luar sesuatu yang dibahas. Kita memahami, kalau khamr itu memabukkan, ini adalah pemahaman tipe satu, pemahaman akan sesuatu.

Tapi, kita juga memahami bahwa khamr itu haram kan? Nah, pemahaman kita bahwa khamr itu haram darimana? Apakah khamr itu haram karena ia memabukkan? Ya, bukan karena memabukkannya khamr itu haram, tapi karena Allah yang mengharamkannya.  Kita pun tahu bahwa daging babi itu bisa dimakan, itu pemahaman kita terhadap sesuatu. Namun, meskipun bisa dimakan, kita tidak akan memakannya. Kita tidak memakannya karena daging babi itu diharamkan memakannya.

Pemahaman kita tentang sesuatu itu halal atau haram, wajib, sunnah, mubah, makruh, atau sesuatu itu baik atau buruk, dan sesuatu itu benar atau salah, pemahaman seperti itulah yang dikatakan pemahaman tentang kehidupan. Pemahaman yang hukumnya bersumber dari luar sesuatu yang dibahas.

Kita memahami bahwa sholat itu wajib, menutup aurat itu wajib, riba itu haram, atau contoh lain seperti berhala itu haram, pluralisme itu haram, dan sampai pada pemahaman bahwa demokrasi itu juga haram. Darimanakah pemahaman itu kita dapatkan? Benar sekali, darimana lagi kalau bukan dari Allah? Kita mengakui bukan, bahwa akal kita tak mampu memberikan penilaian yang seperti itu. Bahkan, sesuatu yang buruk menurut kita pun bisa jadi sebenarnya baik, baik bagi Allah.

Karena pemahaman tentang kehidupan ini bersumber dari luar sesuatu itu sendiri, dan akal kita tidak mampu untuk memberi penilaian, maka tidak mungkin bukan,  kita mengambil sesuatu yang sumbernya dari sesuatu yang salah, apalagi dari manusia yang jelas bisa salah?

Berbeda dengan pemahaman tipe satu, untuk pemahaman tipe dua, pemahaman tentang kehidupan ini, Islam telah jelas menyatakan, bahwa satu-satunya yang berhak membuat hukum hanyalah Allah.

“Sesungguhnya hak membuat hukum itu hanya milik Allah.  Ia memerintahkan untuk tidak menyembah kecuali kepada-Nya.” ( QS Yusuf: 40)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan sesuatu dengan apa yang diturunkan Allah maka ia termasuk orang-orang yang kafir.” (QS Al Maaidah: 44)

Pertanyaannya adalah, bagaimana pemahaman kita tentang kehidupan, kawan? Bila awalnya salah, semoga kita dimudahkan meluruskannya. Tapi, bila sudah benar pemahaman kita tentang kehidupan ini, semoga tidak ada hal lain kecuali semakin bertambah keyakinan kita, semakin mantap pemahaman itu. Sekali lagi, kita bertingkah laku/berbuat bergantung pada apa yang kita pahami. Agar perbuatan kita benar, maka pemahaman kita juga harus benar. Dan pemahaman yang benar harus bersumber dari sesuatu yang pasti benar. Yang pasti benar itu adalah Islam, sungguh tak ada selainnya, tak kan pernah ada.

Maaf bila tulisan ini kesannya menggurui. Mari, saling mengingatkan kepada kebenaran, kepada Islam, dengan begitu kita akan selalu mendapatkan mercusuar-mercusuar untuk menerangi langkah kita. Insya Allah.

“Dan tetaplah  memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS Adz Dzariyat: 55)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^