Rabu, 29 Oktober 2014

Orang Cerdas Itu ...

Bolehkah saya bertanya? "Mengapa engkau melakukan apapun yang kau lakukan? Dan mengapa engkau tidak melakukan apapun yang tidak kau lakukan?"

Apapun jawabannya satu alasan yang pasti, seseorang melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, bergantung pada pengetahuannya tentang dampak dari apa yang ia lakukan dan dampak dari apa yang ia tidak lakukan. Ya, pengetahuan tentang dampak perbuatan. Entah itu dampak jangka pendek, jangka panjang, atau jangka panjang sekali.

Mengapa orang mau bangun pagi-pagi untuk olahraga? Mengapa ada yang mati-matian menghindari makan-makanan yang manis-manis atau makanan yang berlemak? Mengapa ada orang yang sholat dan ada yang tidak? Sama-sama muslimah, tapi ada yang menutup aurat, ada yang tidak menutup aurat? Dan pertanyaan mengapa-mengapa lainya. Mengapa?

Senin, 27 Oktober 2014

Zaman Apa, Zaman Apa Sekarang? Sekarang, Zaman Apa, Zaman Apa Sekarang?

Berada di zaman apa kita? Dulu, kalau saya mendengar ada orang yang mengatakan zaman sekarang zaman edan, saya tidak percaya. Setelah membuka mata lebar-lebar, IYA ternyata! Iya zaman edan! Sebenarnya menggunakan kata 'edan' itu agak kurang enak, kesannya 'kasar'. Tapi, gitu kenyataannya, mau ditutupi, mencari sebutan yang 'halusan' dikit, gimanaa gitu. Lha iya!

Coba, zaman sekarang orang yang berbuat baik malah dibilang carmuk. Orang yang tidak mau melakukan perbuatan maksiat, eh dituduh sok alim. Muslimah yang berhijab syar'i dilabeli kuno, ngga fashionable, dan dikata akan sulit dapat jodoh. Kalau ada yang menyampaikan tentang kebenaran, menyampaikan Islam, terus tidak mau mengikuti perkara yang bertentangan dengan Islam, apa sebutannya? Ya, dicap radikal, garis keras.

Apa Pernyataannya, Bagaimana Kenyataannya

Sedikit berbagi, "apa yang dibaca, yang dilihat, didengar, pun yang dipelajari belum tentu kebenaran. Kita perlu melakukan pembuktian."  Itulah pelajaran yang saya dapatkan dari UK. Bukan United Kingdom ya, lebih hebat malah. Dari situlah banyak pelajaran berharga yang diberikan, UK, Universitas Kehidupan.

Apa yang disebut dengan kebenaran menjadi barang langka. Langka karena disembunyikan, ditutup-tutupi, disamarkan, parahnya juga direlatifkan, kalau orang banyak yang bilang begitu, orang akan menganggapnya benar. Mau mendapatkan informasi yang benar-benar BENAR itu sulit. Memang diperlukan pemikiran yang mendalam sampai pemikiran yang cemerlang.

Belajar dari pengalaman, setiap kali membaca, saya tidak mau lagi buru-buru langsung percaya, kecuali saya tahu persis kebenaran sumbernya. Dulu main 'telan' saja, mudah percaya. Waktu itu saya ada membaca suatu berita, kebetulan saya tahu persis bagaimana kejadiannya. Tapi, setelah saya membaca berita yang menceritakan bagaimana kronologinya, jauh dari kenyataan, bahkan memutar balikan fakta.  Apalagi jika sesuatu itu kita dapat dari ujar bin ujar, peluangnya besar akan ditambah-tambah atau dikurang-kurang.

Minggu, 26 Oktober 2014

Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Enam

Apa arti 1436 H? Sehari sebelumnya, bertepatan tanggal 25 Oktober 2014 adalah tanggal 1 Muharram. Artinya tahun baru untuk kita, tahun baru umat Islam. Tahun yang keberapa? Ya, yang ke 1436. Mengapa hitungannya 1436 tahun? Apa arti sebenarnya usia tahun itu? Entahlah, mengapa jawaban dari pertanyaan itu atau pertanyaan itu sendiri jarang sekali diungkap. Tak menarik untuk dilirik, tertutupi dengan hingar bingar perayaannya. Tahun baru Islam 1436 H, esensinya, dimana.

Untuk menjawab apa arti 1436 H, mari kita berjalan, kembali, memutar waktu. Dalam hitungan masehi, kita akan memasuki ruang waktu 1392 tahun silam. Kembali ke masa lalu, tahun 622 M. Apa yang terjadi di tahun itu?

Kamis, 23 Oktober 2014

Hidup Hanya Sesulit Pikiran Kita

Kadang hidup itu hanya sesulit pikiran kita. Masalah yang dihadapi sering tak serumit yang kita bayangkan.

Sederhana...

Misalnya saja, saat kita sadar bahwa kuda yang kita kendarai itu mati, apa strategi yang terbaik untuk mengatasinya?

Ya, benar, sesederhana itu, strategi terbaiknya ya turun dong dari kudanya, hehe.
Cari kuda yang hidup, kalau tak ketemu, toh kita masih punya kaki yang kuat untuk berlari.

Namun, sayangnya tak banyak mereka yang berpikiran seperti itu. Berpikiran sesederhana itu.

Ada kok yang tetap memaksa kuda itu berjalan, berharap keajaiban datang dan 'que sera sera' kuda itu kembali hidup. Ada juga yang pasrah, karena kudanya mati, dia tak tahu harus berbuat apa, tetap duduk disitu dan meratapi. Bahkan ada juga lho, yang saat sadar kudanya mati, dia malah marah-marah pun kepada setiap orang yang lewat.

Barunang Miri, Desa yang Kurindu

Ada pedesaan terpencil yang bermil-mil jauh dari keramaian kota. Betapa tidak? Desa ini dikelilingi ribuan pohon sawit seperti pulau yang terdampar di tengah samudra.

Bila pertama kali coba-coba datang ke desa ini, menggunakan peta sekali pun akan tersesat. Inilah desa tempat ayahku dibesarkan yang hingga sekarang PLN tak jua tertarik untuk menerangi tempat ini.

Mengapa? Apa karena desa ini terlalu 'kecil' -yang bila turun ke sungai, ujung-ujung desa dapat terlihat dengan mudah tanpa teropong? Yang saat duduk di teras rumah hanya melihat pemandangan jalan selebar 2m lebih, di depannya sungai seukuran 7m lebih yang dibatasi hutan, setiap hari monyet-monyet berkelahi di sana.

Aw, Sekarang Inilah Aku

aw, itu dulu, dulu banget.
aw, itu masa lalu, lalu banget.
aw, aku bukan yang dulu.
aw, aku bukan masa lalu.
aw, lihat waktu, sekarang tanggal berapa?
sekarang bulan apa?
sekarang tahun berapa?
aw, lihat aku,
sekarang tinggiku seperti apa?
sekarang usiaku berapa?
sekarang aku bagaimana?
aw, adakah persamaannya?
aw, adakah perbedaannya?
aw, apakah tetap?
aw, apakah berubah?
aw, dulu memang aku, tetapi...
aw, bukan aku yang sekarang.
aw, inilah aku.
aw, beginilah aku.
aw, apa aku salah?

Karena Engkau Menyayanginya

Apa yang engkau rasakan saat melihat orang yang engkau sayangi melakukan perbuatan dosa?
Rasanya sakit kan?
Engkau akan sedih kan?
Engkau tak akan diam bukan?
Engkau tentu akan marah kan, saat dinasihati berkali-kali ia tetap tidak mau menurut?
Saat ia menjauhimu, engkau tetap disisinya kan, mengajaknya untuk bertaubat?
Bagaimana bila ia tetap melakukannya?
Engkau tak akan menyerah kan?
Tidurmu tak nyenyak, makan pun tak enak, engkau kepikiran kan?
Bahkan engkau rela ia membencimu, engkau akan tetap peduli padanya sampai ia tidak melakukan perbuatan itu, bukan?
Ya, engkau akan melakukan itu semua KARENA engkau menyayanginya.
Bila tidak, engkau malah diam saja, bahkan tidak tahu orang yang kau sayangi melakukan perbuatan dosa atau tidak HANYA karena engkau tak pernah ingin mencari tahu, sesungguhnya engkau BELUM menyayanginya sepenuhnya. Titik.

Dik, Hidupmu Pilihanmu

Dik, coba engkau pandangi revo biru yang duduk termenung di sana. Apa yang menarik darinya? Menurutku kedua bannya. Adik tahu kenapa?

Setiap kali aku mengendarainya, aku dapat merasakan ban-ban itu berputar dengan harmoni, selaras. Aku dapat menikmati perjalanan.

Dik, ada sesuatu yang lebih lagi dari itu. Yang membuat ban-ban motor itu terlihat sangat menarik dimataku. Ialah apa yang diajarkannya padaku.

Ban belakang mengajariku tentang masa lalu. Ban depan mengajariku tentang masa depan.

Yang Pertama Kali

Ada sepuluh ekor burung yang berjejer rapi pada dahan sebuah pohon. Jika ada seseorang yang menembak satu ekor burung, berapa ekor burung yang tersisa? Bila menembak 2 ekor burung? 5 ekor burung? 8?

Secara matematika, di tembak 1 sisa 9, bila di tembak 2 sisa 8, kalau 5 ya 5, dan sisa 2 jika di tembak 8. Hanya saja jawaban itu boleh jadi benar, boleh jadi salah.
Benar, jika burung yang di tembak itu adalah burung-burungan, bagaimana bila itu adalah burung sungguhan?

Tepat sekali. Secara logika, tidak akan ada yang tertinggal, burung-burung yang lain akan pergi. Tak akan tersisa seekor pun semenjak tembakan pertama diluncurkan.

Yang Tak Pernah Kembali

Dua minggu satu hari, berlalu begitu saja. Dan waktu itu tinggal dua hari sejak tanggal deadline revisi ditetapkan. Apa yang aku lakukan selama dua minggu satu hari? NOTHING!

Dua hari mengerjakan revisi benar-benar melelahkan. Hasilnya seadanya dan, dimarahin habis-habisan oleh dosen.

"KENAPA BARU SEKARANG?"

Apakah aku menyesal? JELAS, sangat menyesal. Rasanya ingin mengutuk diri sendiri jadi batu.

Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali. Sayangnya itu tidak akan terjadi, tidak akan pernah.

Menyesal memang. Tapi aku bersyukur karena penyesalanku masih berguna, aku bisa belajar dan memperbaikinya. Tak dapat ku bayangkan jika menyesal di akhirat kelak. Penyesalan terbesar dan tak ada gunanya. Meskipun begitu, janganlah menyesal sepertiku, kawan...
Dari kejadian itu, aku belajar.

Catatan Kecil

Sekarang telah pukul 12 lewat 9 menit, aku terbangun. Ada hal yang mengganggu pikiranku. Ah, aku lupa membuat tulisan untuk hari minggu.

Sekarang sudah senin. Sekitar seminggu yang lalu aku berkomitmen untuk menulis setiap hari dan mengumumkannya di facebook, tapi hari minggu tadi aku tidak menulis.

Apakah aku seorang pecundang, kawan? Oh, semoga tidak. Karena seorang pecundang dialah orang yang tidak mau memperbaiki kesalahannya, dia yang putus asa bangkit dari kegagalannya, dia menyerah dengan keadaannya. 

Siapa Anda?

Siapa yang tidak ingin tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya? Oh kawan, kalau kita tidak peduli tentang jati diri kita, bahkan tak ingin tahu, membiarkan berjalan begitu saja, kira-kira seperti apa kehidupan yang akan kita jalani? Bisa dibayangkan? 'hampa', 'bingung', 'ngga jelas', 'suka-suka', dsb, dst.

Jadi, pertanyaan 'siapa kita sebenarnya'? adalah pertanyaan penting, maksudku sangat penting (setuju kan?). Sebuah pertanyaan yang harus kita jawab dengan benar, mengapa? Taruhannya jati diri kita kawan, taruhannya hidup kita!

Ketika Ngga Ada Ide

Kala aku termenung memikirkan akan menulis apa hari ini, tak jua menemukan jawaban, aku pun memutuskan memikirkan apa saja yang telah kulakukan, dan apa yang akan kulakukan.


Hey…mungkin dari situ aku bisa bertemu dengan ide? “Aku harus menulis”.

Termenung. Lama sekali, hening, kadang berisik, teriak kalut, menyesal, menumpahkan resah gelisah. Ide belum ditemukan.

Tak terasa hari mulai malam, malam sekali. “Aku harus menulis malam ini”.

Malam yang sudah larut. Sunyi senyap. Sampai-sampai suara angin dari kipas angin terdengar seperti suara hujan turun. Dan disaat seperti inilah, suara hati akan terdengar.

Dua Jalan

Bismillah. Tulisan hari ini dibuka dengan ayat-ayat cinta dari Sang Pencipta. Teruntai indah dalam 10 ayat pertama surah Asy-Syams. Renungkanlah...

1. Demi matahari dan cahayanya dipagi hari,
2. dan bulan apabila mengiringinya,
3. dan siang apabila menampakkannya,
4. dan malam apabila menutupinya,
5. dan langit serta pembinaannya,
6. dan bumi serta
penghamparannya,
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Engkau Bisa Jika Kau Yakin Bisa

Pemahaman itulah yang kiranya ingin disampaikannya padaku -setahun yang lalu oleh seorang kakak.

Sungguh ironi, aku baru memahaminya. Pernyataan itu memang benar-benar 'benar', sebenar 1+1=2 kalau kau mau tahu.

Oh...bukankah itu sudah berkali-kali disampaikan lewat lisan maupun tulisan? Bahkan seingatku, aku pernah mengatakannya, "engkau bisa, jika kau yakin bisa".

Setiap kali aku bercerita tentang masalah-masalah yang begitu berat, mengeluhkan banyak hal, bersikap pesimis, mengatakan tidak bisa, tidak mau, hingga ucapan-ucapan keputusasaan, beliau tidak mengatakan atau menjelaskan apapun selain "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..."

Yang Lebih Hebat dari Pertemanan

Apa yg lebih hebat dari sebuah pertemanan? Apa yang lebih indah dari persahabatan?

Persaudaraan.

Hey, bukankah Allah telah mempersaudarakan kita? ^^

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujuraat: 10)

Waktu itu saat dijelaskan bagaimana hebat dan indahnya persaudaraan dalam Islam, ada satu hadis yang kuharap semua orang harus mengetahuinya.

Putri Tidur

Aku dan beberapa temanku dalam perjalanan ke sebuah pintu gerbang yang terletak di ujung hutan. Pintu gerbang itu adalah penghubung menuju kerajaan langit. Kami berangkat pada malam hari dengan kereta kencana, ya aku seorang putri, Putri Tidur.

Tapi aku bukanlah Putri Tidur yang seperti di dongengkan banyak orang. Yang dijuluki Putri Tidur yang tertidur setelah makan apel dari si penyihir jahat. Aku juga tak mengerti, yang kutahu hanyalah namaku Putri Tidur. Apakah karena aku suka tidur atau 'Tidur' itu memang sebuah nama tanpa makna.

Dalam perjalanan, entah bagaimana ceritanya aku terpisah sendirian mengendarai kereta, saat ada penjahat yang mengejar kami. Mereka berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng seperti batman. Namun sesaat sebelum terpisah pas di persimpangan, aku melihat dengan jelas, bahwa kereta kencana yang kami gunakan membelah diri layaknya amoeba membawa teman-temanku ke sisi kanan dan aku ke sisi kiri. Pun para penjahat bertopeng, berpencar mengejar kami.

Kamu Tahu Apa yang Kamu Lakukan

apa yang akan kau lakukan?

ada soal pilihan ganda dengan opsi a, b, c, d, dan e. Soal matematika tentang barisan aritmetika. Soal itu menanyakan tentang nilai "beda" (b) dari suatu barisan.

nah, saat kau mengerjakan soal itu, kau menemukan "beda" atau nilai b = 8.

Tatkala kau ingin memilih jawaban itu pada opsi yang telah disediakan, kau tak menemukan satupun opsi dengan nilai 8.

opsi a. 3, b. 4, c. 5, d. 6, dan e. 7. tak ada pilihan yang sesuai dengan jawabanmu. kau mencoba mngecek lagi siapa tahu jawabanmu salah, tapi ternyata kau mendapatkan hasil yang sama yaitu 8. berkali-kali kau mencoba dengan teliti, hati-hati, jawaban itu tetap sama, b = 8.

Lalu apa yang akan kau lakukan? akankah kau tetap memilih padahal tak ada pilihan yang benar?

Namaku CInta

Namaku Cinta.
Apa kamu juga Cinta?
Duhai Cinta,
Sebarkan,
seluas-luas langit,
sedalam-dalam samudra.
dan hari-hari
tiap-tiap insan di bumi,
Kan jadi
penuh warna,
penuh cinta.

Aku Api

Aku api.
Jika kau pun api,
maka kita menyatu.
Memberi kehangatan,
ke segala,
ke siapa dan apa,
di mana-mana.
Menjadikan sekitar
berapi-api.
Kehidupan akan membara.

Aku api.
Jika kau air,
kau menaklukanku.
Bila keganasanku menjadi,
hentikan.
Saat panas ku menyakiti,
padamkan.
Dan aku,
mencairkanmu
dari kebekuan.
Oh... sejuklah terasa.
Bahagia akan tetap terjaga.

Apa Itu Kesempatan?

"Sepertinya aku tidak punya kesempatan, aku tidak pernah punya kesempatan."

Hey, sebenarnya apa itu kesempatan?

Apakah kesempatan itu seperti peluang?
Kadang ada, kadang tidak. Bisa datang, bisa pergi.

Apakah kesempatan itu sebuah janji kehidupan?
Menunggu kehadirannya, menanti hingga tiba waktunya.

Dan apakah kesempatan itu sama dengan keajaiban? Tak bisa kita ciptakan, tak bisa kita percepat, tiba begitu saja, muncul sesukanya.

M.E.L.I.H.A.T

Mari kita mulai dengan kata MELIHAT.

Melihat.

Oke, kita sudah mulai dengan kata itu.

Apa yang anda pikirkan?
*ala facebook*

Mata? Ya, itulah yang juga terlintas dipikiran saya saat memikirkan kata melihat.

Lalu saya pun mencoba tanya-tanya sama si google, "fakta unik tentang mata". Dan saya menemukan satu fakta yang unik, salah satunya adalah bahwa kita sebenarnya tidak melihat dengan mata, tapi melihat dengan otak (saya lebih setuju jika maksud 'otak' disitu adalah 'akal').

Jadi, apa melihat itu sebenarnya?

The Way You Are

"Aku ke kanan, bukan ke kiri!", otak ku memperingatkan.
aku tersenyum, mengangguk. "bersabarlah sebentar lagi, kemana pun 'berjalan' saat ini, akan dipastikan untuk tetap ke kanan", hati kecilku berbisik.

"Yeah, the right man in the right place." kali ini kukatakan lewat lisanku berulang-ulang, mantap, buktinya tanganku mengepal dan mataku bersinar.

Awas, aku ingin lewat, kamu ingin menghentikanku? Tidak bisa, ini hidupku, pilihanku. Aku ingin berada di tempat yang tepat.

Hey, this is not about like or dislike, this is about ability. can you understand?

Skenario yang Menakjubkan

Skenario yang sungguh menakjubkan. Semakin ku memikirkan apa yang terjadi hingga saat ini, yang ku temui adalah, "segala sesuatunya selalu berhubungan".

Ya, selalu berhubungan dengan kejadian-kejadian yang telah lalu.

Dimasa lalu, bertemu dengan siapa, melakukan hal apa, bagaimana keputusan yang diambil, pasti berhubungan dengan masa sekarang.

Seolah semuanya seperti kebetulan, kebetulan yang menyenangkan, ya, seperti kebetulan yang sudah direncanakan.

Kita bertemu dengan si A, eh dari si A kita kenal dengan si B, jika dulu tidak melakukan itu, belum tentu sekarang bisa melakukan ini, mengapa dulu aku mengalami kejadian itu, oh ternyata ada hubungannya dengan yang ku alami sekarang, dsb. Ah, siapalah yang mampu merancang skenario sebegitu elegannya, kalau bukan Yang Maha Berkehendak yang membuatnya.

Takut Itu Pilihan

Pernahkah kawan, engkau takut terhadap hal-hal yang tidak ada, malah bisa jadi hal-hal itu tidak pernah ada?

Atau pernah merasa ketakutan kepada sesuatu yang belum terjadi, bahkan mungkin sebenarnya itu tidak akan pernah terjadi?

Saya pernah, beberapa kali. Ah, tak terhitung berapa kalinya saya takut.

Jika diingat-ingat kawan, berapa kali kita takut dan ketakutan itu hampir tidak pernah terjadi? Kalaupun terjadi, toh tak seburuk yang kita pikirkan. Lebih buruk? Berarti tak seperti yang kita bayangkan dong, iya ngga? hehe.

Kaki, Maju, Jalan!

Lho?!
Ada apa gerangan wahai kaki?
Mengapa engkau diam tak bergerak?

Hey? Kamu juga menjadi berat, kaki? Apa yang mengganggumu?

Tidak, tidak mungkin karena lelah kaki, engkau bahkan belum melangkah...

. . .

Oh, aku mengerti, ini yang sering orang bilang, bahwa langkah pertama itu memang berat, sulit.

Baiklah, aku akui kebenarannya. Tapi tak sedikit kok, orang-orang yang berhasil melakukannya.

Hmm...
Kakiku sayang, kamu sangat penting bagiku. Jika kamu tidak melangkah, aku tidak akan pernah tahu apa yang akan aku alami, aku akan kehilangan kesempatan, dan aku akan tertinggal semakin jauh, dan jauh.

Hmm...
Kakiku yang kuat, bersamamu aku ingin menapaki jalan kehidupan. Kita mungkin akan menemui rintangan, bisakah kamu tetap melangkah dengan keyakinan?

Dan satu hal, yang harus kamu ingat baik-baik wahai kaki, kita tak akan pernah bisa mencapai seribu langkah, bila kita tak memulai langkah pertama, kita harus berhasil melakukannya.

Kaki? Hey, apa yang sedang kau pikirkan? Apakah kamu tidak penasaran apa yang akan terjadi saat kau melangkah?

Penasaran? Sungguh?
Siap, Maju, Jalan!

Ah, KSATRIA

Ada BANYAAK kesempatan untuk menyerah sebenarnya.

Dari semenjak awal hingga mendekati akhirpun kesempatan untuk menyerah selalu ada, semakin besar.

Tak hanya kesempatan untuk menyerah, bahkan keinginan untuk menyerah juga menghinggapi.

Dari semenjak awal hingga mendekati akhirnya, keinginan untuk menyerah selalu menghinggapi, semakin kuat.

"Apakah masih ada jalan?", "bagaimana mungkin akan berakhir bahagia?", "bisakah aku menghadapinya?", ya, saat pertanyaan itu muncul dalam benak kita, terbuka lebarlah kesempatan untuk menyerah, dan keinginan untuk menyerah begitu menggebu merasuki jiwa.

Don't Hurt Anyone, Please

Ada beberapa hal yang tak bisa disembuhkan oleh waktu. Beberapa luka yang begitu dalam.

Dan jika luka itu di sini, di hati. Lama sekali sembuhnya. Bahkan kadang luka itu bisa kembali menganga.

Luka di hati tak seperti luka di tubuh kita yang lain. Meskipun tak ada darah yang mengucur, rasanya sangaat menyakitkan.

Setiap kita tentu pernah merasakan bagaimana sakitnya bukan? Karena kita tahu seperti apa rasanya, maka janganlah kita melukai hati orang lain.

Tak selamanya kata maaf menjadi obat penawarnya. Sungguh belum tentu kita mampu mengobati luka hati orang yang kita lukai.

Dan tahukah? Saat kita melukai hati seseorang, sebenarnya kita pun melukai hati kita sendiri.

Selalu Ada Cahaya

Sungguh tak perlu bersedih saat engkau menyaksikan rembulan tenggelam di wajahmu, berkali-kali.  Itu memang akan terjadi.

Jangan bersedih, Dengarlah kabar ini,

Hari baru telah datang, tinggal menunggu waktu saja, maksudku hanya sebentar lagi, matahari akan terbangun dari tidurnya. Terbangun dari tidurnya yang panjang.

Ingatlah akan selalu ada matahari yang terbit menggantikan tenggelamnya rembulan. Ya, sinar matahari akan mengantikan cahaya rembulan yang padam tenggelam. Dan engkau akan menyaksikan dunia ini akan kembali terang, lebih terang dari sebelumnya...

Akan selalu ada cahaya yang menyinari dunia ini dari kegelapan, kegelapan pasti akan berakhir.

Karenanya tak perlu bersedih saat rembulan tenggelam. Tersenyumlah menyambut terbitnya matahari. Matahari akan bersinar, itulah janji matahari pada rembulan yang pergi. Sekarang sudah tidak gelap lagi. Begitupula dengan hari-hari yang akan kau jalani. Ada matahari. ^^

Tahukah engkau siapa matahari itu sebenarnya?

Sini, dekatkan telingamu, akan kubisikan jawabannya, "Engkaulah sebenarnya matahari itu."

Sesekali Jalan Kaki

Eh, ternyata jalan kaki itu menyenangkan. Hari ini aku jalan kaki.

Kita bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat saat berkendaraan. Melihat dengan jelas bagaimana ekspresi orang-orang, wajah yang kelelahan, wajah yang tersenyum, bagaimana orang bersosialisasi, menyaksikan bagaimana daun berjatuhan, dan melihat lukisan awan yang indah di langit.

Mendengar suara yang tak bisa kita dengar. Mencium berbagai aroma. Merasakan hangatnya sinar mentari dan lembutnya angin yang menyapa. Apalagi untuk orang yang suka menulis, sambil berjalan kita bisa memikirkan cerita di kepala, kita pun dapat mengubahnya berkali-kali sebelum dituliskan.

Dan katanya, jalan kaki yang lama juga bisa menjadi salah satu alternatif obat hati lho, meningkatkan kesenangan, dan aku merasakannya. Jalan kaki itu menyenangkan, kalau dekat kan sebaiknya jalan kaki, olahraga, gitu.

Tapi, ada satu hal bagiku yang tidak menyenangkan saat jalan kaki, 'bertemu anjing'. Aa, dia menakutkan sekali, berhati-hatilah.

But overall, jalan kaki tetap salah satu pengalaman yang menakjubkan. Sesekali yuk, jalan kaki. ^^

Berubah? Don't Worry!

Aku adalah aku. Kamu adalah kamu. Soal siapa yang lebih hebat, siapa yang lebih baik, itu soal yang membosankan, sama sekali tidak penting, ku ulangi, tidak penting.

Yang penting adalah, kamu mau berubah. Berubah itu bukan berarti menjadi orang lain, sama sekali bukan. Tapi berubah adalah menjadi lebih hebat dari sebelumnya, menjadi lebih baik lagi.

Mengalami atau melakukan perubahan adalah hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Perhatikan, 'wajar', so don't worry. Karena berubah itu menandakan kita 'tumbuh' dan 'berkembang'. Bukankah tumbuh dan berkembang adalah salah satu ciri bahwa kita 'hidup'?

Jadi, bila kita tetap seperti yang dulu, tetap jalan di tempat, maka kita sebenarnya belum di katakan 'hidup'.

Bila Lampu di Kepala Menyala

"Duhai lampu di kepalaku, mengapa engkau menyala sekarang? Aku lelah, aku ingin istirahat."

"Keluarkan aku sekarang juga. Ada sesuatu yang menakjubkan; ide."

"Nanti saja ya..."

"Sekarang juga. Kalau tidak, aku akan segera meredup dan kepalamu akan kembali gelap."

"Oh, lampu yang ada di kepalaku, mengapa engkau begitu seenaknya? Engkau menyala tak pedulikan waktu. Bahkan kadang kau juga begitu teganya, di saat aku ingin kamu menyala, seperti apapun aku memintamu kau tidak mau jika kau tak ingin."

"Begitulah aku, karena itu kau harus selalu siap. Aku bisa menyala kapanpun aku mau. Bisa saat kau terbangun tengah malam, ketika kau sedang makan, melamun, naik kendaraan, atau disaat kau sibuk sekalipun aku bisa menyala. Namun, sayangnya aku tidak bisa menyala berlama-lama. Tahukah engkau, dalam hitungan detik aku bisa saja kembali meredup. Lebih dari itu, boleh jadi dalam waktu yang lama aku baru bisa menyala kembali. Dan kau pun menyesal."

Hanya Sesulit Pikiran Kita

Kadang hidup itu hanya sesulit pikiran kita. Masalah yang dihadapi sering tak serumit yang kita bayangkan.

Sederhana...

Misalnya saja, saat kita sadar bahwa kuda yang kita kendarai itu mati, apa strategi yang terbaik untuk mengatasinya?

Ya, benar, sesederhana itu, strategi terbaiknya ya turun dong dari kudanya, hehe.
Cari kuda yang hidup, kalau tak ketemu, toh kita masih punya kaki yang kuat untuk berlari.

Namun, sayangnya tak banyak mereka yang berpikiran seperti itu. Berpikiran sesederhana itu.

Ada kok yang tetap memaksa kuda itu berjalan, berharap keajaiban datang dan 'que sera sera' kuda itu kembali hidup. Ada juga yang pasrah, karena kudanya mati, dia tak tahu harus berbuat apa, tetap duduk disitu dan meratapi. Bahkan ada juga lho, yang saat sadar kudanya mati, dia malah marah-marah pun kepada setiap orang yang lewat.

Kelinci, Where Are You?

Hay, permisi, numpang tanya, ada yang melihat kemana perginya kelinci?

Saya adalah kura-kura yang sedang mencari kelinci. Oh, jangan menatap saya aneh seperti itu...

Saya tahu kok, saya tak akan menantangnya untuk lomba lari lagi. Kelinci pasti telah belajar dari kesalahannya.

Jika diadakan lomba lagi, sudah jelas siapa pemenangnya. Iya, sang Kelinci. Dia memang pelari yang cepat.

Untuk apa saya mencarinya ya? Saya ingin mengajaknya bekerja sama. Ada lomba lari, tapi rutenya tak hanya melewati jalur darat tapi juga melewati jalur air, nah saya yakin jika kami berdua bekerja sama, kami pasti akan menang.

Takut Gagal Itu Aneh!

Hari ini saya tertarik menulis tentang ‘kegagalan’. Ya, tema yang sudah acap kali dibahas. Namun menariknya, tema itu masih hangat hingga sekarang. Pertanyaan pembuka,

Hey, siapa yang ingin GAGAL? No one!

Ya, tak ada orang yang ingin gagal. Namun, faktanya, dalam hidup kita semua punya jatah gagal. Adakah yang tidak percaya, bahwa kita memang punya jatah gagal? Mungkin ada. Tapi, adakah orang yang sekali saja tak pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya? Mungkin tidak ada.

Jumat, 17 Oktober 2014

Tulisan yang Pahit


Kau tahu mengapa kegalauanmu tak jua sembuh? Engkau mengobatinya dengan mendengar lagu-lagu galau kawan, itulah sebabnya. Bukannya terobati malah menambahi. Dan kegalauanmu semakin menjadi.

Kau bilang tak bisa hidup tanpa musik, “music is my life”. Kau kata, hidupmu tanpa musik bagai taman tak berbunga. Aduhai, begitu membosankan, tak berwarna. Begitukah? Maksudku, benarkah?

Musik apa yang kau dengar? Lagu apa yang kau nikmati? Kau memahami tiap liriknya. Kau mengerti bait-baitnya. Kau menghayati nada-nadanya. Sekarang katakanlah, apa yang sebenarnya telingamu dengar? Apa yang kau isi di kepalamu?

Ini Tentang Keyakinan Bukan Khayalan


Karena keyakinan, seseorang dapat melihat sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mata. Mendengar sesuatu yang tak mampu didengar telinga. Mempercayai sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh akal. Yang mustahil boleh jadi mungkin baginya.

Karena keyakinan, seseorang bisa sekokoh karang, berani laksana singa, memilih disiksa daripada meninggalkan sesuatu yang ia yakini –bahkan memilih mati. Yang lain ragu, ia percaya. Yang lain takut, ia berani.

Karena keyakinan pula, tak peduli seluruh dunia menjauhi, semua orang membenci, dan banyak yang menyerah pergi. keyakinan yang mengakar kuat di hati, membuatnya tetap bertahan gagah berdiri. Tak goyah dengan jalan berduri.

Karena ini tentang keyakinan bukan khayalan.

Selasa, 14 Oktober 2014

Belajar dari Kisah Seekor Ikan



Ada kisah tentang seekor ikan. Kisah ini saya dapatkan dari mengikuti kajian rutin bulanan di kampus. Namun sebelum saya bercerita ada hal yang menarik. Ah, menarik, miris lebih tepatnya.

Sebenarnya hal ini sudah sering terjadi. Saking seringnya hal ini dianggap ‘biasa saja’, bukan masalah besar, bukan hal penting. Padahal hal ini ‘sesuatu’ sebenarnya. Sesuatu yang tabu, masalah besar, dan hal penting yang perlu diperhatikan.

Setiap kali kegiatan keagamaan, peminatnya sedikit, sedikit yang datang. Setiap kali kajian rutin bulanan dilaksanakan, sepi peserta. Apakah karena kegiatan itu tidak menarik?Atau banyak yang tidak tahu, sehingga gedung itu lebih banyak tempat yang kosong?

Senin, 13 Oktober 2014

Gara-Gara Diam

Anda muslim? Saya juga. Tahukah anda? Saya juga baru tahu. Ada dosa yang akan terus menerus mengalir kepada kita karena kita muslim. Dan dosa itu tidak bisa dihapuskan. Anda takut? Ya, saya juga takut, sangat takut.

Namun, akan lebih menakutkan lagi kalau kita berhenti jadi seorang muslim. Selama kita muslim, tiket masuk surga gratis sudah ditangan. Kita semua tahu itu. Itulah mengapa nikmat iman dan Islam adalah nikmat yang paling besar. Tiket itu akan hangus bila diakhir hayat kita, mati dalam keadaan tidak muslim. Jadi, pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan masuk surga atau tidak? Tapi, apakah kita akan mencicipi neraka dulu? Apakah kita akan dibersihkan dulu di neraka?

Lebih Awal


Pada suatu hari, ah, rasanya lama sekali tidak menggunakan kalimat pembuka itu. Oke, pada suatu hari yang berkabut, berbau asap, saya pergi keluar. Di sini memang sedang dilanda asap, sebulanan sudah. Lebih bahkan. Nah, tepatnya pada sabtu siang saya pergi mengunjungi teman baik yang sedang berbahagia. Berbahagia  atas kelahiran anak pertamanya, perempuan.

Menulis!

Setiap kali ingin menulis, terdengar suara yang mirip dengan suara saya. Entah darimana datangnya. Dari kepala atau dari hati. Nyaring terdengar. Berteriak. Berkali-kali suara itu muncul. Suara yang lebih dari membuat saya merinding. Suara yang membuat saya hilang keinginan untuk menulis. Suara yang dapat memadamkan semangat api menelurkan ide. Suara yang melupakan saya dengan komitmen untuk menulis setiap hari. Suara yang selalu meneriakkan, “Mengapa menulis itu? Harusnya menulis skripsi”. Apakah suara itu yang salah? Jika saya mengiyakan, maka saya melakukan pembenaran.