Pemahaman itulah yang kiranya
ingin disampaikannya padaku -setahun yang lalu oleh seorang kakak.
Sungguh ironi, aku baru memahaminya. Pernyataan itu memang benar-benar 'benar', sebenar 1+1=2 kalau kau mau tahu.
Oh...bukankah itu sudah berkali-kali disampaikan lewat lisan maupun tulisan? Bahkan seingatku, aku pernah mengatakannya, "engkau bisa, jika kau yakin bisa".
Setiap kali aku bercerita tentang masalah-masalah yang begitu berat, mengeluhkan banyak hal, bersikap pesimis, mengatakan tidak bisa, tidak mau, hingga ucapan-ucapan keputusasaan, beliau tidak mengatakan atau menjelaskan apapun selain "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..."
Bila aku telah terdiam dari keluhan-keluhanku yang dijawab dengan kalimat itu, lagi, dan lagi, "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..." barulah beliau mencoba menjelaskan, tetap, tetap dengan kalimat penutup "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..."
Ya, kau bisa, jika kau yakin kau bisa.
Lalu bagaimana kau tetap yakin kau bisa setelah kau mencoba dan kau dapati kau tidak bisa? Apakah kau akan berhenti mencoba?
Masih ingatkah kau saat pertama kali kau belajar berjalan?
Tentu akan lebih mudah memahami jika kita bisa mengingatnya bukan? Orang tua kita mungkin ingat.
Apakah waktu itu saat kita mencoba belajar untuk berjalan pertama kalinya kita langsung bisa? T-i-d-a-k. Kita tidak bisa.
Bayangkan, apa yang terjadi saat orang tua kita menyimpulkan kita tidak bisa berjalan, bisa dibayangkan?
Mengapa, mengapa mereka tidak berhenti mengajari kita berjalan padahal boleh jadi ratusan kali kita jatuh?
Simpel, mereka yakin kita bisa, bisa berjalan.
Karena itu aku pun ingin mengatakan,
"Bisa, bisa, kita bisa, bisa, kita bisa, bisa, jika kita yakin kita bisa..."
Sungguh ironi, aku baru memahaminya. Pernyataan itu memang benar-benar 'benar', sebenar 1+1=2 kalau kau mau tahu.
Oh...bukankah itu sudah berkali-kali disampaikan lewat lisan maupun tulisan? Bahkan seingatku, aku pernah mengatakannya, "engkau bisa, jika kau yakin bisa".
Setiap kali aku bercerita tentang masalah-masalah yang begitu berat, mengeluhkan banyak hal, bersikap pesimis, mengatakan tidak bisa, tidak mau, hingga ucapan-ucapan keputusasaan, beliau tidak mengatakan atau menjelaskan apapun selain "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..."
Bila aku telah terdiam dari keluhan-keluhanku yang dijawab dengan kalimat itu, lagi, dan lagi, "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..." barulah beliau mencoba menjelaskan, tetap, tetap dengan kalimat penutup "Bisa, bisa, Melly bisa, bisa, Melly bisa, bisa..."
Ya, kau bisa, jika kau yakin kau bisa.
Lalu bagaimana kau tetap yakin kau bisa setelah kau mencoba dan kau dapati kau tidak bisa? Apakah kau akan berhenti mencoba?
Masih ingatkah kau saat pertama kali kau belajar berjalan?
Tentu akan lebih mudah memahami jika kita bisa mengingatnya bukan? Orang tua kita mungkin ingat.
Apakah waktu itu saat kita mencoba belajar untuk berjalan pertama kalinya kita langsung bisa? T-i-d-a-k. Kita tidak bisa.
Bayangkan, apa yang terjadi saat orang tua kita menyimpulkan kita tidak bisa berjalan, bisa dibayangkan?
Mengapa, mengapa mereka tidak berhenti mengajari kita berjalan padahal boleh jadi ratusan kali kita jatuh?
Simpel, mereka yakin kita bisa, bisa berjalan.
Karena itu aku pun ingin mengatakan,
"Bisa, bisa, kita bisa, bisa, kita bisa, bisa, jika kita yakin kita bisa..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^