Hey…mungkin dari situ aku bisa bertemu dengan ide? “Aku harus menulis”.
Termenung. Lama sekali, hening, kadang berisik, teriak kalut, menyesal, menumpahkan resah gelisah. Ide belum ditemukan.
Tak terasa hari mulai malam, malam sekali. “Aku harus menulis malam ini”.
Malam yang sudah larut. Sunyi senyap. Sampai-sampai suara angin dari kipas angin terdengar seperti suara hujan turun. Dan disaat seperti inilah, suara hati akan terdengar.
“Aku harus menulis malam ini”.
“Bagaimana kalau menulis tentang ilmu yang didapatkan hari ini? Tentang bagaimana akal bekerja, tentang bagaimana berpikir itu sebenarnya? Bagaimana?”
“Tidak, ini sudah terlalu malam. Pembahasannya terlalu berat. Untuk besok pagi saja.”
“Lalu apa yang harus aku tulis? Aku sudah berkomitmen untuk menulis setiap hari, Hey…ini hampir jam 12 malam.”
“Tulis saja, tulis apa yang ingin kau tulis, atau tulis apa yang tidak ingin kau tulis. Yang penting kau menulis. Mau seperti apa hasil tulisannya, biarlah itu menjadi sebuah kejutan diakhirnya. Percayalah, setelah membaca apa yang kau tulis malam ini kau akan terkejut dan berkata, ‘aku menulis ini?’ hehe…”
Suara-suara tadi mulai sayup terdengar. Kemana perginya? Entahlah…
Ada benarnya, yang penting menulis, agar lemas syaraf-syaraf menulis dan bisa menjadi habit, habit menulis.
Jika ide itu laksana kunci yang membuka pintu pikiran untuk mengalirkan ‘sesuatu’ menjadi kreativitas, maka begitu aku menemukan kunci itu akan kugenggam erat-erat. Seerat genggaman seorang anak yang balonnya tinggal empat karena meletusnya balon berwarna hijau.
Dan kalau pintu itu sudah terbuka, aku tak akan menutupnya lagi, pintu itu, pintu pikiranku akan tetap terbuka, terbuka selamanya. Atau bila sesuatu terjadi pada pintu itu, pintu pikiranku sehingga dia kembali tertutup, aku sudah menyiapkan rencana B.
Aku akan membuatkan gantungan kunci yang besar dan mencolok. Sehingga aku mudah mencari kunci itu, mencari ide. Brilian bukan?
Bagaimana kalau ide yang kita ibaratkan kunci tadi masih susah dicari? Sudah kupikirkan rencana C. Membuat kunci duplikat ATM; Amati, Tiru, Modifikasi. Hehe.
Dan kalau masih tak jua menemukan ide? Tenang, masih ada dua puluh tiga abjad yang tersisa untuk nama rencana-rencana berikutnya. Masih kurang juga? Keep calm, ada angka-angka yang bersedia menawarkan diri mereka untuk menjadi nama rencana-rencana berikutnya, “rencana 88” misalnya. Sampai rencana yang kesekian belum jua mendapatkan ide? Masa sih? Bener-bener belum ketemu-ketemu juga tuh ide? All is well, kalau kita tak menemukan ide jua untuk menulis, maka biarlah kita menulis tanpa ide. Biarlah tulisan itu mengalir membuat ide itu sendiri.
Termenung. Lama sekali, hening, kadang berisik, teriak kalut, menyesal, menumpahkan resah gelisah. Ide belum ditemukan.
Tak terasa hari mulai malam, malam sekali. “Aku harus menulis malam ini”.
Malam yang sudah larut. Sunyi senyap. Sampai-sampai suara angin dari kipas angin terdengar seperti suara hujan turun. Dan disaat seperti inilah, suara hati akan terdengar.
“Aku harus menulis malam ini”.
“Bagaimana kalau menulis tentang ilmu yang didapatkan hari ini? Tentang bagaimana akal bekerja, tentang bagaimana berpikir itu sebenarnya? Bagaimana?”
“Tidak, ini sudah terlalu malam. Pembahasannya terlalu berat. Untuk besok pagi saja.”
“Lalu apa yang harus aku tulis? Aku sudah berkomitmen untuk menulis setiap hari, Hey…ini hampir jam 12 malam.”
“Tulis saja, tulis apa yang ingin kau tulis, atau tulis apa yang tidak ingin kau tulis. Yang penting kau menulis. Mau seperti apa hasil tulisannya, biarlah itu menjadi sebuah kejutan diakhirnya. Percayalah, setelah membaca apa yang kau tulis malam ini kau akan terkejut dan berkata, ‘aku menulis ini?’ hehe…”
Suara-suara tadi mulai sayup terdengar. Kemana perginya? Entahlah…
Ada benarnya, yang penting menulis, agar lemas syaraf-syaraf menulis dan bisa menjadi habit, habit menulis.
Jika ide itu laksana kunci yang membuka pintu pikiran untuk mengalirkan ‘sesuatu’ menjadi kreativitas, maka begitu aku menemukan kunci itu akan kugenggam erat-erat. Seerat genggaman seorang anak yang balonnya tinggal empat karena meletusnya balon berwarna hijau.
Dan kalau pintu itu sudah terbuka, aku tak akan menutupnya lagi, pintu itu, pintu pikiranku akan tetap terbuka, terbuka selamanya. Atau bila sesuatu terjadi pada pintu itu, pintu pikiranku sehingga dia kembali tertutup, aku sudah menyiapkan rencana B.
Aku akan membuatkan gantungan kunci yang besar dan mencolok. Sehingga aku mudah mencari kunci itu, mencari ide. Brilian bukan?
Bagaimana kalau ide yang kita ibaratkan kunci tadi masih susah dicari? Sudah kupikirkan rencana C. Membuat kunci duplikat ATM; Amati, Tiru, Modifikasi. Hehe.
Dan kalau masih tak jua menemukan ide? Tenang, masih ada dua puluh tiga abjad yang tersisa untuk nama rencana-rencana berikutnya. Masih kurang juga? Keep calm, ada angka-angka yang bersedia menawarkan diri mereka untuk menjadi nama rencana-rencana berikutnya, “rencana 88” misalnya. Sampai rencana yang kesekian belum jua mendapatkan ide? Masa sih? Bener-bener belum ketemu-ketemu juga tuh ide? All is well, kalau kita tak menemukan ide jua untuk menulis, maka biarlah kita menulis tanpa ide. Biarlah tulisan itu mengalir membuat ide itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^