Minggu, 26 Oktober 2014

Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Enam

Apa arti 1436 H? Sehari sebelumnya, bertepatan tanggal 25 Oktober 2014 adalah tanggal 1 Muharram. Artinya tahun baru untuk kita, tahun baru umat Islam. Tahun yang keberapa? Ya, yang ke 1436. Mengapa hitungannya 1436 tahun? Apa arti sebenarnya usia tahun itu? Entahlah, mengapa jawaban dari pertanyaan itu atau pertanyaan itu sendiri jarang sekali diungkap. Tak menarik untuk dilirik, tertutupi dengan hingar bingar perayaannya. Tahun baru Islam 1436 H, esensinya, dimana.

Untuk menjawab apa arti 1436 H, mari kita berjalan, kembali, memutar waktu. Dalam hitungan masehi, kita akan memasuki ruang waktu 1392 tahun silam. Kembali ke masa lalu, tahun 622 M. Apa yang terjadi di tahun itu?

Bayangkanlah, kita berada di tahun 622, tanggal 23 September. Apa yang kau lihat kawan? Pemandangan yang pernah kau lihat di layar kaca? Atau kau sudah pernah kesini? Kita sekarang berada di Quba. Kau lihat orang-orang Muslim di sana? Dapatkah kau lihat rona wajah mereka? Wajah penuh harap. Di tempat yang bergurun pasir begini, tengah hari, panas matahari yang menyengat, kau tahu apa yang mereka lakukan? Ya, mereka sedang menunggu. Menunggu seseorang yang hijrah dari Mekkah. Semenjak mereka mendengar orang itu akan datang, setiap pagi mereka keluar menuju tanah lapang menunggu kedatangan orang tersebut. Dan sampailah pada hari ini. Setelah menunggu sekian lama, yang ditunggu akhirnya datang. Ialah Rasulullah.

Lihatlah betapa gembiranya mereka. Kau dengar hiruk pikuk dan gema takbir, subhanallah, bergetar hati mendengarnya, terharu, air mata bahagia bercucuran jatuh. Ingin rasanya berkumpul di sana bersama mereka. Merasakan apa yang mereka rasakan. Melihat wajah itu, wajah Rasulullah. Tapi tak mampu, lantaran ini hanyalah bayangan.

Ya, Rasulullah berada di Quba. Setelah 4 hari kemudian, seusai shalat Jum'at, Rasulullah memasuki Madinah. Sejak hari itulah Yastrib dinamakan Madinatur-Rasul, yang kemudian disingkat Madinah. Inilah hari itu. Hari yang sangat monumental. Semua rumah dan jalan ramai dengan suara tahmid dan taqdis. Di tahun inilah, tahun 622 M ditetapkan sebagai tahun 1 H, tahun baru Islam.

Tahun 1 H, tidak serta merta ditetapkan saat itu. Karena orang-orang arab meskipun telah mempunyai penanggalan hijriyah tidak menetapkan ini tahun berapa. Saat itu hanya tanggal dan bulan berapa. Sedangkan tahun, mereka menetapkannya berdasarkan peristiwa penting apa yang terjadi ditahun itu. Misal peristiwa ketika tahun Gajah.

Penetapan tahun terjadi pada masa khalifah Umar ra. Ketika Abu Musa Al-Asy'ari, gubernur kala itu, menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, tentu membuat bingung karena hanya ada tanggal dan bulan.

Sekarang, mari kita lihat suasana musyawarah untuk menetapkan tahun 1 H. Kau lihat? Di sana ada Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., Abdurrahman bin Auf ra., Saad bin Abi Waqqas ra., Zubair bin Awwam ra., dan Thalhan bin Ubaidillah ra.

Ada yang mengusulkan perhitungan dimulai pada tahun kelahiran Rasul. Atau dimulai pada tahun pengangkatan Nabi Muhammad saw. menjadi Rasul. Namun yang diterima adalah ketika Ali bin Abi Thalib mengusulkan tahun 1 H dihitung saat peristiwa hijrahnya Rasul dari Mekkah ke Madinah. Kawan, bukankah ini menjelaskan kepada kita betapa pentingnya momentum hijrahnya Rasul, sangat.

Pada saat itulah, saat hijrahnya Rasul dari mekkah ke Madinah, kita mempunyai pemerintahan sendiri, daulah Khilafah. Menjadi negara yang berdaulat. Kita memiliki Undang-Undang formal, syariat dan hukum Islam sempurna diterapkan. Hudud, qishash, rajam, potong tangan, dan hukum Islam lainnya mulai diterapkan. Kejayaan itu membentang dari Maroko hingga Merauke. Adakah kau lupa? Atau baru mengetahuinya karena memang fakta ini sengaja ditutupi oleh Barat agar kita tidak bangkit kembali.  Sungguh negara Khilafah mampu bersaing dengan negara lain, bahkan mengungguli mereka. Menjadi umat terbaik, umat nomor 1 seperti yang Allah firmankan,

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS Ali Imran: 110)

Kejayaan itu sanggup bertahan selama 13 abad lamanya. Sayang, pada tahun 1342 H tepatnya tahun 1924, daulah Khilafah runtuh. Kawan tahu kenapa? Karena umat Islam meninggalkan Islam. Sekarang tahun 1436 H, semenjak runtuhnya  hampir seabad sudah kita tanpa seorang khalifah, karena daulah Khilafah belum kembali tegak. Hampir seabad kita laksana anak ayam yang kehilangan induknya. Padahal betapa penting dipilihnya seorang khalifah sampai-sampai penguburan jenazah Rasul ditunda hingga terpilihnya Abu Bakar ra. sebagai khalifah. Lihatlah sekarang apa yang terjadi dengan umat muslim saat ini, terpuruk.

Apa arti 1436 H? Seandainya Khilafah tidak runtuh, itu berarti 1436 tahun sudah Islam diterapkan dan tetap bertahan, tetap memimpin dunia, tetap menyejahterakan umat, menjadi umat terbaik, selama 14 abad. Sungguh, apa arti 1436 H? Meskipun daulah Khilafah runtuh tahun 1342 H, hitungan tahun hijriyah tetap terus berlanjut. Tidakkah ini membuat kita bertanya, mengapa? Bila berdasarkan sejarah bahwa tahun 1 H ditetapkan ketika daulah Islam tegak, maka mengapa ketika daulah Islam runtuh hitungan itu tidak berhenti? Mengapa dilanjutkan? Atau mengapa masih tetap ada?

Perhitungan hingga tahun 1436 H, perhitungan yang terus berlanjut hingga zaman sekarang -dan akan terus berlanjut hingga akhir zaman- benar-benar menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan Islam tidak akan mati. Tidak akan berhenti walau runtuh. Saat ini kita telah kembali pada zaman jahiliyah. Padahal dulu Rasul hijrah ke Madinah adalah untuk hijrah dari sistem jahiliyah kepada sistem Islam.

Umat Islam kini semakin meninggalkan Islam, kembali jahiliyah, jahiliyah modern, lebih parah dari jahiliyah dulu. Dulu anak perempuan dibunuh atau dikubur hidup-hidup, sekarang yang masih dalam kandungan sudah dibunuh, bahkan pelakunya dilindungi oleh negara dengan undang-undang aborsinya. Dulu zina hanya dilakukan oleh orang dewasa, sekarang anak-anak sudah berani melakukannya, yang menyayat hati itu ketika pelakunya adalah seorang pendidik, pengajar, GURU, bayangkan!

Kawan, kini saatnya kita hijrah sekali lagi, memperjuangkan untuk melanjutkan kehidupan Islam, menegakkan kembali daulah Khilafah. Allahu akbar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^