Apa arti 1436
H? Sehari sebelumnya, bertepatan tanggal 25 Oktober 2014 adalah tanggal 1
Muharram. Artinya tahun baru untuk kita, tahun baru umat Islam. Tahun yang
keberapa? Ya, yang ke 1436. Mengapa hitungannya 1436 tahun? Apa arti sebenarnya
usia tahun itu? Entahlah, mengapa jawaban dari pertanyaan itu atau pertanyaan
itu sendiri jarang sekali diungkap. Tak menarik untuk dilirik, tertutupi dengan
hingar bingar perayaannya. Tahun baru Islam 1436 H, esensinya, dimana.
Untuk
menjawab apa arti 1436 H, mari kita berjalan, kembali, memutar waktu. Dalam
hitungan masehi, kita akan memasuki ruang waktu 1392 tahun silam. Kembali ke
masa lalu, tahun 622 M. Apa yang terjadi di tahun itu?
Bayangkanlah,
kita berada di tahun 622, tanggal 23 September. Apa yang kau lihat kawan?
Pemandangan yang pernah kau lihat di layar kaca? Atau kau sudah pernah kesini?
Kita sekarang berada di Quba. Kau lihat orang-orang Muslim di sana? Dapatkah
kau lihat rona wajah mereka? Wajah penuh harap. Di tempat yang bergurun pasir
begini, tengah hari, panas matahari yang menyengat, kau tahu apa yang mereka
lakukan? Ya, mereka sedang menunggu. Menunggu seseorang yang hijrah dari
Mekkah. Semenjak mereka mendengar orang itu akan datang, setiap pagi mereka
keluar menuju tanah lapang menunggu kedatangan orang tersebut. Dan sampailah
pada hari ini. Setelah menunggu sekian lama, yang ditunggu akhirnya datang.
Ialah Rasulullah.
Lihatlah
betapa gembiranya mereka. Kau dengar hiruk pikuk dan gema takbir, subhanallah,
bergetar hati mendengarnya, terharu, air mata bahagia bercucuran jatuh. Ingin
rasanya berkumpul di sana bersama mereka. Merasakan apa yang mereka rasakan.
Melihat wajah itu, wajah Rasulullah. Tapi tak mampu, lantaran ini hanyalah
bayangan.
Ya,
Rasulullah berada di Quba. Setelah 4 hari kemudian, seusai shalat Jum'at,
Rasulullah memasuki Madinah. Sejak hari itulah Yastrib dinamakan
Madinatur-Rasul, yang kemudian disingkat Madinah. Inilah hari itu. Hari yang
sangat monumental. Semua rumah dan jalan ramai dengan suara tahmid dan taqdis.
Di tahun inilah, tahun 622 M ditetapkan sebagai tahun 1 H, tahun baru Islam.
Tahun 1 H,
tidak serta merta ditetapkan saat itu. Karena orang-orang arab meskipun telah
mempunyai penanggalan hijriyah tidak menetapkan ini tahun berapa. Saat itu
hanya tanggal dan bulan berapa. Sedangkan tahun, mereka menetapkannya
berdasarkan peristiwa penting apa yang terjadi ditahun itu. Misal peristiwa
ketika tahun Gajah.
Penetapan
tahun terjadi pada masa khalifah Umar ra. Ketika Abu Musa Al-Asy'ari, gubernur
kala itu, menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, tentu
membuat bingung karena hanya ada tanggal dan bulan.
Sekarang,
mari kita lihat suasana musyawarah untuk menetapkan tahun 1 H. Kau lihat? Di
sana ada Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., Abdurrahman bin Auf ra.,
Saad bin Abi Waqqas ra., Zubair bin Awwam ra., dan Thalhan bin Ubaidillah ra.
Ada yang
mengusulkan perhitungan dimulai pada tahun kelahiran Rasul. Atau dimulai pada
tahun pengangkatan Nabi Muhammad saw. menjadi Rasul. Namun yang diterima adalah
ketika Ali bin Abi Thalib mengusulkan tahun 1 H dihitung saat peristiwa
hijrahnya Rasul dari Mekkah ke Madinah. Kawan, bukankah ini menjelaskan kepada
kita betapa pentingnya momentum hijrahnya Rasul, sangat.
Pada saat
itulah, saat hijrahnya Rasul dari mekkah ke Madinah, kita mempunyai
pemerintahan sendiri, daulah Khilafah. Menjadi negara yang berdaulat. Kita
memiliki Undang-Undang formal, syariat dan hukum Islam sempurna diterapkan.
Hudud, qishash, rajam, potong tangan, dan hukum Islam lainnya mulai diterapkan.
Kejayaan itu membentang dari Maroko hingga Merauke. Adakah kau lupa? Atau baru
mengetahuinya karena memang fakta ini sengaja ditutupi oleh Barat agar kita
tidak bangkit kembali. Sungguh negara
Khilafah mampu bersaing dengan negara lain, bahkan mengungguli mereka. Menjadi
umat terbaik, umat nomor 1 seperti yang Allah firmankan,
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik
bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang fasik." (QS Ali Imran: 110)
Kejayaan itu
sanggup bertahan selama 13 abad lamanya. Sayang, pada tahun 1342 H tepatnya
tahun 1924, daulah Khilafah runtuh. Kawan tahu kenapa? Karena umat Islam
meninggalkan Islam. Sekarang tahun 1436 H, semenjak runtuhnya hampir seabad sudah kita tanpa seorang
khalifah, karena daulah Khilafah belum kembali tegak. Hampir seabad kita
laksana anak ayam yang kehilangan induknya. Padahal betapa penting dipilihnya
seorang khalifah sampai-sampai penguburan jenazah Rasul ditunda hingga
terpilihnya Abu Bakar ra. sebagai khalifah. Lihatlah sekarang apa yang terjadi
dengan umat muslim saat ini, terpuruk.
Apa arti 1436
H? Seandainya Khilafah tidak runtuh, itu berarti 1436 tahun sudah Islam
diterapkan dan tetap bertahan, tetap memimpin dunia, tetap menyejahterakan
umat, menjadi umat terbaik, selama 14 abad. Sungguh, apa arti 1436 H? Meskipun
daulah Khilafah runtuh tahun 1342 H, hitungan tahun hijriyah tetap terus
berlanjut. Tidakkah ini membuat kita bertanya, mengapa? Bila berdasarkan
sejarah bahwa tahun 1 H ditetapkan ketika daulah Islam tegak, maka mengapa
ketika daulah Islam runtuh hitungan itu tidak berhenti? Mengapa dilanjutkan?
Atau mengapa masih tetap ada?
Perhitungan
hingga tahun 1436 H, perhitungan yang terus berlanjut hingga zaman sekarang
-dan akan terus berlanjut hingga akhir zaman- benar-benar menunjukkan kepada
kita bahwa kehidupan Islam tidak akan mati. Tidak akan berhenti walau runtuh.
Saat ini kita telah kembali pada zaman jahiliyah. Padahal dulu Rasul hijrah ke
Madinah adalah untuk hijrah dari sistem jahiliyah kepada sistem Islam.
Umat Islam
kini semakin meninggalkan Islam, kembali jahiliyah, jahiliyah modern, lebih
parah dari jahiliyah dulu. Dulu anak perempuan dibunuh atau dikubur
hidup-hidup, sekarang yang masih dalam kandungan sudah dibunuh, bahkan
pelakunya dilindungi oleh negara dengan undang-undang aborsinya. Dulu zina
hanya dilakukan oleh orang dewasa, sekarang anak-anak sudah berani
melakukannya, yang menyayat hati itu ketika pelakunya adalah seorang pendidik,
pengajar, GURU, bayangkan!
Kawan, kini
saatnya kita hijrah sekali lagi, memperjuangkan untuk melanjutkan kehidupan
Islam, menegakkan kembali daulah Khilafah. Allahu akbar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^