Jumat, 17 Oktober 2014

Tulisan yang Pahit


Kau tahu mengapa kegalauanmu tak jua sembuh? Engkau mengobatinya dengan mendengar lagu-lagu galau kawan, itulah sebabnya. Bukannya terobati malah menambahi. Dan kegalauanmu semakin menjadi.

Kau bilang tak bisa hidup tanpa musik, “music is my life”. Kau kata, hidupmu tanpa musik bagai taman tak berbunga. Aduhai, begitu membosankan, tak berwarna. Begitukah? Maksudku, benarkah?

Musik apa yang kau dengar? Lagu apa yang kau nikmati? Kau memahami tiap liriknya. Kau mengerti bait-baitnya. Kau menghayati nada-nadanya. Sekarang katakanlah, apa yang sebenarnya telingamu dengar? Apa yang kau isi di kepalamu?

Membuatmu semakin dekat kah kepadaNya atau semakin jauh? Mengajakmu lebih taat kah padaNya atau sebaliknya? Menambah galaumu kah atau menguranginya? Jujurlah pada dirimu, dengarkan hati kecilmu. Adakah galaumu pergi? Hatimu terobati?

Berhentilah mendengarkan sesuatu yang sia-sia kawan, mendengarkan sesuatu yang bukannya menjadikan dekat membuat taat. Janganlah menikmati sesuatu yang menambah keras hatimu dan galau jiwamu.

Kawan, tulisan ini bukan sekadar tentang musik. Itu hanya lapisan luar yang meliputi galaumu. Ada lapisan dalam yang harus dikupas, alasan mengapa engkau galau. Tentang cintamu yang belum lagi halal.

Kau galau karena kekasih hati tak jua menghubungi. BM belum dibaca, SMS tak dibalas. Kemanakah ia? Sedang apa dan bersama siapa? Saat hatimu tersakiti, kau sebut ujian cinta, mungkin kau bisa melewati. Namun begitu cintamu dikhianati kau menangis, dunia serasa terhenti berputar, hidupmu tak lagi berarti hingga ingin kau akhiri, betapa galaunya dirimu, sadarlah. Mungkin ini pertanda, bahwa Allah memang tak meridhoi. Betapa Allah ingin menunjukan salahnya jalan cintamu dengan pacaran.

Bagaimana bila bersamanya kau melewati masa-masa indah. Hatimu berbunga-bunga tiap harinya. Engkau bahagia. Berjuta rasanya. Apakah itu berarti Allah meridhoi? Tidak. Sekali-kali tidak. Tetap, pacaran adalah hubungan dengan ikatan yang tak halal. Allah hanya menghalalkan pernikahan bukan pacaran.

Tak ada pacaran islami. Bagaimanapun bentuknya. Entah itu diawali dengan basmalah lalu diakhiri dengan hamdalah. Bawa teman, agar tidak berdua-duaan. Saling mengingatkan untuk sholat, puasa, zakat, naik haji, atau apalah yang islami. Yang laki-lakinya bertato bulan dan wanitanya bertato bintang sehingga jika bertemu jadinya bulan bintang, ah, apapun bentuknya, selamanya, yang bathil tak bisa dicampur dengan yang haq. Islam tidak mengajarkan pacaran, Islam melarang.

Ada banyak ayat dan hadist yang menerangkan keharaman pacaran, mungkin satu ayat dan satu hadist ini sudah cukup mewakili,

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An Nuur: 30)

Dalam shahih Muslim dari Jabir bin Abdilah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: “Palingkan pandanganmu”.

Memang, di situ tak ada kata yang menegaskan pacaran itu haram, sehingga itulah argumen yang digunakan aktivis pacaran untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Cukup, cukup dengan logika sederhana saja, argumen itu dapat terbantahkan.

Logikanya, kita saja disuruh menahan pandangan, apalagi pacaran? Tidak mungkin bukan, pacaran itu kalau bertemu, matanya ditutup terus?

Pacaran sehat? Istilah apalagi ini… Walau sekadar jalan dan makan. Saling menyemangati untuk belajar lebih rajin, bekerja lebih giat. Atau saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan, olahraga yang cukup, melarang tidur kemalaman, dsb, dst. Sebagai muslim, tetap, tak dibolehkan pacaran, sekalipun katanya pacaran sehat. Meski dampak positifnya ada, tak akan mengubah aturan Allah, pacaran tetap haram, sama haramnya dengan minum khamr.

Ah, tulisan ini kata-katanya sangat tidak cantik. Rasanya pun pahit. Rangkaian kalimatnya tak enak. Kenyataan tak selamanya manis didengar, kawan. Semoga tulisan ini bisa menjadi obat galaumu. Seperti obat pada umumnya. Pahit memang tapi menyembuhkan. Berharap begitu pula tulisan ini. Pahit memang tapi menyadarkan. Semoga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^