Kau
tahu mengapa kegalauanmu tak jua sembuh? Engkau mengobatinya dengan mendengar
lagu-lagu galau kawan, itulah sebabnya. Bukannya terobati malah menambahi. Dan
kegalauanmu semakin menjadi.
Kau
bilang tak bisa hidup tanpa musik, “music
is my life”. Kau kata, hidupmu tanpa musik bagai taman tak berbunga.
Aduhai, begitu membosankan, tak berwarna. Begitukah? Maksudku, benarkah?
Musik
apa yang kau dengar? Lagu apa yang kau nikmati? Kau memahami tiap liriknya. Kau
mengerti bait-baitnya. Kau menghayati nada-nadanya. Sekarang katakanlah, apa
yang sebenarnya telingamu dengar? Apa yang kau isi di kepalamu?
Membuatmu
semakin dekat kah kepadaNya atau semakin jauh? Mengajakmu lebih taat kah padaNya
atau sebaliknya? Menambah galaumu kah atau menguranginya? Jujurlah pada dirimu,
dengarkan hati kecilmu. Adakah galaumu pergi? Hatimu terobati?
Berhentilah
mendengarkan sesuatu yang sia-sia kawan, mendengarkan sesuatu yang bukannya
menjadikan dekat membuat taat. Janganlah menikmati sesuatu yang menambah keras
hatimu dan galau jiwamu.
Kawan,
tulisan ini bukan sekadar tentang musik. Itu hanya lapisan luar yang meliputi
galaumu. Ada lapisan dalam yang harus dikupas, alasan mengapa engkau galau.
Tentang cintamu yang belum lagi halal.
Kau
galau karena kekasih hati tak jua menghubungi. BM belum dibaca, SMS tak
dibalas. Kemanakah ia? Sedang apa dan bersama siapa? Saat hatimu tersakiti, kau
sebut ujian cinta, mungkin kau bisa melewati. Namun begitu cintamu dikhianati
kau menangis, dunia serasa terhenti berputar, hidupmu tak lagi berarti hingga
ingin kau akhiri, betapa galaunya dirimu, sadarlah. Mungkin ini pertanda, bahwa
Allah memang tak meridhoi. Betapa Allah ingin menunjukan salahnya jalan cintamu
dengan pacaran.
Bagaimana
bila bersamanya kau melewati masa-masa indah. Hatimu berbunga-bunga tiap
harinya. Engkau bahagia. Berjuta rasanya. Apakah itu berarti Allah meridhoi?
Tidak. Sekali-kali tidak. Tetap, pacaran adalah hubungan dengan ikatan yang tak
halal. Allah hanya menghalalkan pernikahan bukan pacaran.
Tak
ada pacaran islami. Bagaimanapun bentuknya. Entah itu diawali dengan basmalah
lalu diakhiri dengan hamdalah. Bawa teman, agar tidak berdua-duaan. Saling
mengingatkan untuk sholat, puasa, zakat, naik haji, atau apalah yang islami.
Yang laki-lakinya bertato bulan dan wanitanya bertato bintang sehingga jika
bertemu jadinya bulan bintang, ah, apapun bentuknya, selamanya, yang bathil tak
bisa dicampur dengan yang haq. Islam tidak mengajarkan pacaran, Islam melarang.
Ada
banyak ayat dan hadist yang menerangkan keharaman pacaran, mungkin satu ayat
dan satu hadist ini sudah cukup mewakili,
Katakanlah kepada orang
laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An Nuur: 30)
Dalam
shahih Muslim dari Jabir bin Abdilah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau
bersabda: “Palingkan pandanganmu”.
Memang,
di situ tak ada kata yang menegaskan pacaran itu haram, sehingga itulah argumen
yang digunakan aktivis pacaran untuk membenarkan apa yang mereka lakukan.
Cukup, cukup dengan logika sederhana saja, argumen itu dapat terbantahkan.
Logikanya,
kita saja disuruh menahan pandangan, apalagi pacaran? Tidak mungkin bukan,
pacaran itu kalau bertemu, matanya ditutup terus?
Pacaran
sehat? Istilah apalagi ini… Walau sekadar jalan dan makan. Saling menyemangati
untuk belajar lebih rajin, bekerja lebih giat. Atau saling mengingatkan untuk
menjaga kesehatan, olahraga yang cukup, melarang tidur kemalaman, dsb, dst.
Sebagai muslim, tetap, tak dibolehkan pacaran, sekalipun katanya pacaran sehat.
Meski dampak positifnya ada, tak akan mengubah aturan Allah, pacaran tetap
haram, sama haramnya dengan minum khamr.
Ah,
tulisan ini kata-katanya sangat tidak cantik. Rasanya pun pahit. Rangkaian kalimatnya tak enak. Kenyataan tak selamanya manis didengar,
kawan. Semoga tulisan ini bisa menjadi obat galaumu. Seperti obat pada umumnya.
Pahit memang tapi menyembuhkan. Berharap begitu pula tulisan ini. Pahit memang
tapi menyadarkan. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^