Senin, 27 Oktober 2014

Zaman Apa, Zaman Apa Sekarang? Sekarang, Zaman Apa, Zaman Apa Sekarang?

Berada di zaman apa kita? Dulu, kalau saya mendengar ada orang yang mengatakan zaman sekarang zaman edan, saya tidak percaya. Setelah membuka mata lebar-lebar, IYA ternyata! Iya zaman edan! Sebenarnya menggunakan kata 'edan' itu agak kurang enak, kesannya 'kasar'. Tapi, gitu kenyataannya, mau ditutupi, mencari sebutan yang 'halusan' dikit, gimanaa gitu. Lha iya!

Coba, zaman sekarang orang yang berbuat baik malah dibilang carmuk. Orang yang tidak mau melakukan perbuatan maksiat, eh dituduh sok alim. Muslimah yang berhijab syar'i dilabeli kuno, ngga fashionable, dan dikata akan sulit dapat jodoh. Kalau ada yang menyampaikan tentang kebenaran, menyampaikan Islam, terus tidak mau mengikuti perkara yang bertentangan dengan Islam, apa sebutannya? Ya, dicap radikal, garis keras.

Minuman keras itu haram kan, tapi sekarang orang jual itu boleh ngga? Boleh, tepatnya dibolehin. Menghilangkan nyawa orang itu dosa kan, aborsi itu menghilangkan nyawa ngga? Bahkan aborsi menghilangkan nyawa dengan sengaja, sekarang pelakunya diapain? Di-lin-du-ngi. Dulu sih, masih malu-malu korupsi, transaksinya di bawah meja, Sekarang? Terang-terangan di atas meja, pun meja-mejanya diembat. Pacaran itu boleh ngga dalam Islam? Tapi coba lihat di tv-tv, di sinetron atau film-film, ngajarin pacaran, kan? Acara gosip dan ramalan bintang yang jelas termasuk dosa, sudah menjadi santapan lezat sehari-hari.

Zaman sekarang, jujur itu mahal. Menyontek, menyuap, ah udah biasa. Kasus-kasus hamil diluar nikah bukan fenomena tabu lagi. Orang bunuh diri semakin sering terjadi. Perilaku di zaman sekarang lebih keji lagi dari binatang. Zaman sekarang ada anak yang menuntut orang tuanya, melaporkannya ke polisi, menggugat ke pengadilan, seperti kasus nenek Fatimah lalu, oh teganya. Yang lebih tega lagi,  Supardi warga Karangploso 14, Bangkingan Wetan, Surabaya, Jawa Timur, apa yang dilakukannya? Dia sungguh tega memenggal kepala ibunya sendiri, tak cukup itu, ia memakan dengan lahapnya hati ibunya sendiri. Duh, zaman sekarang. Ada juga berita seorang anak memperkosa ibunya, ayah memperkosa anaknya sendiri sampai hamil, bahkan ada seorang ayah di Zimbabwe yang tega memperkosa anaknya yang masih berusia satu tahun.  

Belum lagi zaman sekarang, kebutuhan pokok dan barang-barang bukannya turun malah semakin naik, TDL naik, BBM rasanya baru kemarin dinaikkan, ini mau dinaikkan lagi. Banyak yang putus sekolah gara-gara biaya sekolah yang semakin tinggi. Tak sedikit orang yang meninggal kadang-kadang hanya karena tak ada biaya untuk berobat. Pengangguran semakin bertambah, apalagi bila pasar bebas sudah masuk, akan semakin bertambah banyak lagi pengangguran karena kalah kualitas SDM, bisa-bisa paman jualan pentol itu bule, orang asing.

Ah, kalau semua kerusakan yang terjadi di zaman sekarang dituliskan, niscaya akan jadi daftar yang sangat panjang. Pasrahkah kita dengan kondisi seperti ini? sekarang bukan lagi era aku, tapi era kita. Ini adalah masalah kita bersama. Tak hanya pemimpin yang diminta pertanggung jawaban, kita pun demikian.  Tidak mustahil sebenarnya untuk mengubah keadaan zaman sekarang, bila kita mau mengubahnya. Sungguh Allah akan membantu kita untuk mengubah kondisi ini karena Allah telah berjanji,

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS Ar-Ra'd: 11)

Bagaimana solusi yang harus kita lakukan? Setelah melakukan pengkajian yang begitu mendalam, Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama, mujtahid, hakim pengadilan (Qadi) di Palestina, yang merupakan cucu dari ulama besar pada masa Khilafah Utsmaniyah, Syeikh Yusuf An-Nabhani, menerangkan bahwa hanya ada satu solusi yaitu KHILAFAH. Karena itulah, cara kita untuk mengubah kondisi sekarang adalah dengan memperjuangkan Khilafah. Yuk ngaji! Yuk berjuang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^