Ada sepuluh ekor burung yang berjejer rapi pada dahan sebuah
pohon. Jika ada seseorang yang menembak satu ekor burung, berapa ekor burung
yang tersisa? Bila menembak 2 ekor burung? 5 ekor burung? 8?
Secara matematika, di tembak 1 sisa 9, bila di tembak 2 sisa 8,
kalau 5 ya 5, dan sisa 2 jika di tembak 8. Hanya saja jawaban itu boleh jadi
benar, boleh jadi salah.
Benar, jika burung yang di tembak itu adalah burung-burungan,
bagaimana bila itu adalah burung sungguhan?
Tepat sekali. Secara logika, tidak akan ada yang tertinggal,
burung-burung yang lain akan pergi. Tak akan tersisa seekor pun semenjak
tembakan pertama diluncurkan.
Apa yang terjadi pada burung-burung dan si penembak itu bisa
kita ambil pelajaran. Pelajaran 'bagaimana bila kita menyakiti orang lain?'.
Karena itu kawan, saat kita menyakiti seseorang, melukai
hatinya, boleh jadi tak hanya orang itu yang akan 'pergi', orang-orang di
sekitarnya pun akan 'pergi'. Dan tak menutup kemungkinan, orang-orang di
sekitar kita juga akan pergi menjauhi.
Kawan, mari kita berusaha untuk tidak menyakiti siapa pun. Luka
itu kadang bisa meninggalkan bekas. Sungguh kita jangan menyakiti siapapun,
apalagi dengan sengaja, karena kata 'maaf' tak selamanya mampu menyelesaikan
segalanya.
Kita sengaja atau tidak melakukannya, saat kita tahu kalau kita
telah melukai seseorang, ayo segera perbaiki hubungan.
Orang yang meminta maaf pertama kali, atau orang yang bahkan
meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya dia tidak melakukannya, itulah
orang-orang yang mulia hatinya, orang-orang yang punya harga diri tinggi. Dan meminta
maaf pertama kali, bukan berarti ia salah. Tapi ialah orang yang lebih mementingkan
ikatan itu daripada egonya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^