Selasa, 14 Oktober 2014

Belajar dari Kisah Seekor Ikan



Ada kisah tentang seekor ikan. Kisah ini saya dapatkan dari mengikuti kajian rutin bulanan di kampus. Namun sebelum saya bercerita ada hal yang menarik. Ah, menarik, miris lebih tepatnya.

Sebenarnya hal ini sudah sering terjadi. Saking seringnya hal ini dianggap ‘biasa saja’, bukan masalah besar, bukan hal penting. Padahal hal ini ‘sesuatu’ sebenarnya. Sesuatu yang tabu, masalah besar, dan hal penting yang perlu diperhatikan.

Setiap kali kegiatan keagamaan, peminatnya sedikit, sedikit yang datang. Setiap kali kajian rutin bulanan dilaksanakan, sepi peserta. Apakah karena kegiatan itu tidak menarik?Atau banyak yang tidak tahu, sehingga gedung itu lebih banyak tempat yang kosong?


Aneh sebenarnya, bukankah menuntut ilmu islam itu wajib? Lebih dari itu, bukankah ada pahala besar yang Allah janjikan? Dimohonkan ampun oleh seluruh ikan-ikan dilautan, didoakan para malaikat, dibangga-banggakan Allah dihadapan malaikat-malaikat, dimudahkan jalan menuju surga, dinaikan derajat kita, bahkan tiap langkah kaki kita dihitung pahala, tidakkah itu menggiurkan? Tidakkah itu menarik?

Berbagai cara juga telah dilakukan. Mengundang pemateri luar kota yang luar biasa, bahkan sudah promosi di kelas-kelas. Tetap, yang datang sedikit, selalu begitu.

Mungkin kisah tentang ikan inilah jawabannya. Kisah yang menggambarkan mengapa semua itu terjadi. Begini kisahnya,

Ada seekor ikan kecil yang hidup dipermukaan laut. Ikan itu menghabiskan bertahun-tahun hidup dipermukaan laut saja. Sampai suatu hari dia berpikir dan mengambil satu kesimpulan.

Lautan itu kotor, tidak layak untuk habitatnya. Mengapa ikan itu menyimpulkan demikian? Karena dia hanya melihat permukaannya saja, permukaan laut, apa yang dia lihat? Ya, sampah-sampah plastik, benda-benda yang membusuk, pun kotoran-kotoran manusia yang menambah aroma bau di lautan itu.

Siapa yang betah tinggal di tempat seperti itu? Namun menyimpulkan bahwa lautan itu bukan habitat yang cocok untuk ikan tadi adalah kesalahan besar. Seandainya ikan itu tahu lebih dalam. Tahu keindahan sebenarnya yang ada dalam lautan itu. Dan satu lagi kemalangan sang ikan, ia tinggal ditempat yang salah, permukaan lautan yang kotor. Seandainya ia berenang lebih jauh melihat, mencari permukaan lautan yang bersih tentu ia akan menemukan.

Terlanjur sudah. Ikan itu telah terpesona dengan keindahan daratan. Dilihatnya butiran-butiran pasir putih yang bercahaya. Pohon-pohon yang menari-nari dibelai angin. Bunga-bunga cantik nan harum mewangi, dan segala keindahan-keindahan lainnya. Ikan itu memutuskan, habitatnya adalah daratan bukan lautan. Sangat disayangkan, tinggal menunggu waktu saja, sang ikan mati tergelepar di daratan. Mengapa? Ya, karena daratan bukan habitat untuk ikan.

Seandainya ikan itu tahu lebih jauh, tahu lebih dalam. Ia akan menyimpulkan sesuatu yang benar. Bahwa lautan itu nyaman, bersih, dan sangat indah, jauh lebih indah dari daratan. Ia tentu akan bangga dengan habitatnya, bahagia tinggal di situ, tak akan terpikir sedikitpun pergi meninggalkan habitatnya. Karena sang ikan meyakini, lautanlah habitatnya, tempat satu-satunya dimana dia bisa hidup.

Apa yang dialami ikan tadi, sepertinya juga dialami kaum muslim abad ini. Sebagaimana sang ikan yang meninggalkan habitatnya hanya karena hal-hal buruk yang ia lihat, maka begitu pula kebanyakan kaum muslim yang meninggalkan Islam. 

Islam diidentikan dengan mengekang, ribet, miskin, bodoh, tidak gaul, kejam, hingga teroris. Seandainya tahu lebih dalam.

Lihatlah bagaimana majlis ilmu, yang disitu membahas tentang Islam, banyak yang enggan datang. Sedangkan ketika kuliah, pelajaran agama Islam hanya satu semester itu pun hanya 2 sks, seolah Islam itu tidak penting untuk dipelajari.

Belum soal muslimah, tak sedikit yang malah malu menunjukan identitasnya dengan menggunakan kerudung dan jilbab. Apalagi soal aturan hidup yang dipakai, pandangan hidup yang digunakan, kini bukan lagi Islam yang dipakai. Terpesona dengan keindahan semu kehidupan barat.

Seperti ikan tadi, seandainya ia tahu lebih dalam, maka sebelum kita benar-benar bernasib sama seperti sang ikan, benar-benar tersesat di jalan yang terang, sebelum semuanya terlambat, mari kita mengenal Islam lebih jauh, mempelajarinya lebih dalam, betapa indah sebenarnya Islam. Yuk Ngaji! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^