Kamis, 23 Oktober 2014

Takut Gagal Itu Aneh!

Hari ini saya tertarik menulis tentang ‘kegagalan’. Ya, tema yang sudah acap kali dibahas. Namun menariknya, tema itu masih hangat hingga sekarang. Pertanyaan pembuka,

Hey, siapa yang ingin GAGAL? No one!

Ya, tak ada orang yang ingin gagal. Namun, faktanya, dalam hidup kita semua punya jatah gagal. Adakah yang tidak percaya, bahwa kita memang punya jatah gagal? Mungkin ada. Tapi, adakah orang yang sekali saja tak pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya? Mungkin tidak ada.

Rasulullah yang beliau adalah utusan Allah, juga pernah mengalami kegagalan. Saat beliau ditolak di Thoif, salah satunya. Beliau juga pernah merasakan pahitnya kekalahan dalam perang uhud. Atau ketika beliau diembargo selama bertahun-tahun.   Jika demikian, takut gagal itu aneh sebenarnya, bukan begitu?

Ada pesan dari pak Dahlan Iskan, pesan yang ngena banget di hati.  Pesan yang akan mengubah pandangan kita tentang kegagalan. Oke, langsung saja, ini pesan beliau,

“Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda”

Logikanya, bukankah untuk menghabiskan jatah gagal, kita harus menghadapi kegagalan demi kegagalan? Ada tokoh yang selalu disebut-sebut bila bicara tentang kegagalan. Ya, Thomas Alfa Edison. Ia berhasil membuat bola lampu setelah berhasil melewati ribuan kali kegagalan.

Thomas pernah ditanya apa kunci dari kesuksesanya. “Saya sukses, karena telah kehabisan apa yang dinamakan kegagalan”. Berapa kali kita mengalami kegagalan? Ribuan kali seperti Thomas? Jangan sampai kita masih menyisakan banyak kegagalan ketika kita tua. Semoga jatah gagal kita habis sebelum kita tutup usia. Karena gagal di akhirat sudah lain cerita.

Menghabiskan jatah gagal. Gagal yang dimaksud, bukan gagal sembarang gagal. Melainkan gagal yang terjadi bukan karena kita sendiri yang mengagalkannya, tapi karena kita digagalkan. Gagal karena faktor X. Gagal karena Allah yang menggagalkan. Gagal karena Allah punya rencana lain yang lebih hebat. Gagal karena kita sudah berusaha maksimal. Gagal yang tidak kita sengaja.

Ya, sisa berapa lagi jatah gagal kita? Merenungkan hal ini, membuat saya menyadari satu hal. Ternyata saya belum memulai untuk menghabiskan jatah gagal. Kalaupun saya gagal, itu karena wajar gagal. Gagal karena wajar gagal, tidak masuk hitungan kan?

Saat saya tidak menang lomba, tidak lulus April kemarin, atau ketika target-target tidak tercapai, dan masih banyak lagi kegagalan-kegagalan lain yang setelah dievaluasi memang wajar gagal. Wajar gagal karena saya tidak sungguh-sungguh, tidak 100% menjalaninya.

Berapa kali saya menghadapi kegagalan yang sesungguhnya? Saya jadi takut, bila ternyata saya tidak menghabiskan jatah gagal di masa muda, maka saya akan menghadapi kegagalan itu di masa tua. Atau jika selama hidup saya tak menghabiskannya, maka saya takut saya merasakannya di kehidupan setelah mati.

Sekali lagi, kita bukan ingin gagal, tapi ingin menghabiskan jatah gagal. Meskipun ingin menghabiskan jatah gagal, bukan berarti kita berharap gagal. Semua orang pasti mengharapkan kesuksesan untuk setiap apa yang dilakukannya. Namun, kalau kita menemukan kegagalan, kita tak perlu bersedih apalagi putus asa. Hey, itu berarti kita telah menggugurkan jatah gagal kawan! Yuk kita habiskan. Tetap semangat! ^^9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^