Hari
ini saya tertarik menulis tentang ‘kegagalan’. Ya, tema yang sudah acap kali
dibahas. Namun menariknya, tema itu masih hangat hingga sekarang. Pertanyaan
pembuka,
Hey,
siapa yang ingin GAGAL? No one!
Ya,
tak ada orang yang ingin gagal. Namun, faktanya, dalam hidup kita semua punya
jatah gagal. Adakah yang tidak percaya, bahwa kita memang punya jatah gagal?
Mungkin ada. Tapi, adakah orang yang sekali saja tak pernah mengalami kegagalan
dalam hidupnya? Mungkin tidak ada.
Rasulullah
yang beliau adalah utusan Allah, juga pernah mengalami kegagalan. Saat beliau
ditolak di Thoif, salah satunya. Beliau juga pernah merasakan pahitnya
kekalahan dalam perang uhud. Atau ketika beliau diembargo selama
bertahun-tahun. Jika demikian, takut gagal itu aneh sebenarnya,
bukan begitu?
Ada
pesan dari pak Dahlan Iskan, pesan yang ngena banget di hati. Pesan yang akan mengubah pandangan kita
tentang kegagalan. Oke, langsung saja, ini pesan beliau,
“Setiap orang punya jatah
gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda”
Logikanya,
bukankah untuk menghabiskan jatah gagal, kita harus menghadapi kegagalan demi
kegagalan? Ada tokoh yang selalu disebut-sebut bila bicara tentang kegagalan.
Ya, Thomas Alfa Edison. Ia berhasil membuat bola lampu setelah berhasil
melewati ribuan kali kegagalan.
Thomas
pernah ditanya apa kunci dari kesuksesanya. “Saya sukses, karena telah
kehabisan apa yang dinamakan kegagalan”. Berapa kali kita mengalami kegagalan?
Ribuan kali seperti Thomas? Jangan sampai kita masih menyisakan banyak
kegagalan ketika kita tua. Semoga jatah gagal kita habis sebelum kita tutup
usia. Karena gagal di akhirat sudah lain cerita.
Menghabiskan
jatah gagal. Gagal yang dimaksud, bukan gagal sembarang gagal. Melainkan gagal
yang terjadi bukan karena kita sendiri yang mengagalkannya, tapi karena kita
digagalkan. Gagal karena faktor X. Gagal karena Allah yang menggagalkan. Gagal
karena Allah punya rencana lain yang lebih hebat. Gagal karena kita sudah
berusaha maksimal. Gagal yang tidak kita sengaja.
Ya,
sisa berapa lagi jatah gagal kita? Merenungkan hal ini, membuat saya menyadari
satu hal. Ternyata saya belum memulai untuk menghabiskan jatah gagal. Kalaupun
saya gagal, itu karena wajar gagal. Gagal karena wajar gagal, tidak masuk
hitungan kan?
Saat
saya tidak menang lomba, tidak lulus April kemarin, atau ketika target-target
tidak tercapai, dan masih banyak lagi kegagalan-kegagalan lain yang setelah
dievaluasi memang wajar gagal. Wajar gagal karena saya tidak sungguh-sungguh,
tidak 100% menjalaninya.
Berapa
kali saya menghadapi kegagalan yang sesungguhnya? Saya jadi takut, bila ternyata
saya tidak menghabiskan jatah gagal di masa muda, maka saya akan menghadapi
kegagalan itu di masa tua. Atau jika selama hidup saya tak menghabiskannya,
maka saya takut saya merasakannya di kehidupan setelah mati.
Sekali
lagi, kita bukan ingin gagal, tapi ingin menghabiskan jatah gagal. Meskipun
ingin menghabiskan jatah gagal, bukan berarti kita berharap gagal. Semua
orang pasti mengharapkan kesuksesan untuk setiap apa yang dilakukannya. Namun,
kalau kita menemukan kegagalan, kita tak perlu bersedih apalagi putus asa. Hey,
itu berarti kita telah menggugurkan jatah gagal kawan! Yuk kita habiskan. Tetap
semangat! ^^9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^