Rabu, 29 Oktober 2014

Orang Cerdas Itu ...

Bolehkah saya bertanya? "Mengapa engkau melakukan apapun yang kau lakukan? Dan mengapa engkau tidak melakukan apapun yang tidak kau lakukan?"

Apapun jawabannya satu alasan yang pasti, seseorang melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, bergantung pada pengetahuannya tentang dampak dari apa yang ia lakukan dan dampak dari apa yang ia tidak lakukan. Ya, pengetahuan tentang dampak perbuatan. Entah itu dampak jangka pendek, jangka panjang, atau jangka panjang sekali.

Mengapa orang mau bangun pagi-pagi untuk olahraga? Mengapa ada yang mati-matian menghindari makan-makanan yang manis-manis atau makanan yang berlemak? Mengapa ada orang yang sholat dan ada yang tidak? Sama-sama muslimah, tapi ada yang menutup aurat, ada yang tidak menutup aurat? Dan pertanyaan mengapa-mengapa lainya. Mengapa?


Mengapa orang tetap merokok, tak bisa berhenti merokok padahal ia tahu dampak dari perbuatannya? Saya kadang geli kalau melihat iklan rokok. Dulu keterangan dibawahnya, "merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin", Keterangan itu tak membuat orang serta merta berhenti merokok, sekarang keterangannya direvisi, singkat dan semakin ngeri, "merokok membunuhmu". Dengan begitu, apakah membuat turunnya jumlah perokok secara pesat? Tidak. Coba seandainya harga sebungkus rokok dinaikkan jadi satu milyar, dijamin akan banyak orang berhenti merokok, hehe

Contoh lain, jika cerita tentang Pinokio itu benar adanya, setiap orang yang berbohong, hidungnya akan bertambah panjang. Kira-kira berani ngga orang-orang untuk berbohong? Orang tidak akan berani berbohong, takut kalau hidungnya tambah panjang. Atau sholat subuh di mesjid, kalau misalnya, ada pengumuman “bagi yang sholat subuh di mesjid  berjamaah, akan mendapatkan uang satu juta rupiah”, kira-kira jamaah yang sholat akan bertambah atau tidak?

Begitulah, kita melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan apa yang kita pahami. Apa yang kita pahami tentang dampak dari perbuatan yang kita lakukan. Hanya saja seperti contoh di atas tadi, kebanyakan orang hanya melihat jangka pendek, jarang untuk melihat jangka panjang, apalagi jangka panjang sekali.

Karena hanya orang yang cerdaslah yang saat ia melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan memikirkan tak hanya jangka pendek dan jangka panjang saja, tapi juga sampai memikirkan dampak perbuatannya pada jangka panjang sekali, dampak setelah kematian, di akhirat kelak. Seperti kata Rasul,

"Orang yang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang yang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah"

Bukan hal yang mustahil kalau ada orang yang mengatakan, "Walau gunung emas kau berikan, uang sebanyak buih dilautan kau tawarkan, atau lelaki tampan sejagad kau serahkan, pun sebaliknya, seribu tusukan akan kau layangkan, satu detik saja kau meminta untuk memperlihatkan sehelai rambut ini kepada yang bukan mahram, niscaya tak akan kukabulkan."

Mengapa ia bisa demikian? Karena ia memahami ada kenikmatan yang jauh lebih lagi, dan siksa yang jauh lebih pedih lagi. Ia tahu dampak dari perbuatan yang ia lakukan. Ia memikirkan dampak jangka panjang sekali. Ialah orang yang cerdas. Pun, ketika kita berpuasa, kita pasti tidak berani makan meski hanya sebutir nasi atau minum setetes air kalau belum waktunya. Saya yakin kita semua tahu alasannya mengapa.

Jadi orang yang cerdas itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^