Bolehkah saya bertanya?
"Mengapa engkau melakukan apapun yang kau lakukan? Dan mengapa engkau
tidak melakukan apapun yang tidak kau lakukan?"
Apapun jawabannya satu alasan
yang pasti, seseorang melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu,
bergantung pada pengetahuannya tentang dampak dari apa yang ia lakukan dan dampak
dari apa yang ia tidak lakukan. Ya, pengetahuan tentang dampak perbuatan. Entah
itu dampak jangka pendek, jangka panjang, atau jangka panjang sekali.
Mengapa orang mau bangun
pagi-pagi untuk olahraga? Mengapa ada yang mati-matian menghindari
makan-makanan yang manis-manis atau makanan yang berlemak? Mengapa ada orang
yang sholat dan ada yang tidak? Sama-sama muslimah, tapi ada yang menutup
aurat, ada yang tidak menutup aurat? Dan pertanyaan mengapa-mengapa lainya.
Mengapa?
Mengapa orang tetap merokok, tak
bisa berhenti merokok padahal ia tahu dampak dari perbuatannya? Saya kadang
geli kalau melihat iklan rokok. Dulu keterangan dibawahnya, "merokok dapat menyebabkan kanker,
serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin", Keterangan
itu tak membuat orang serta merta berhenti merokok, sekarang keterangannya
direvisi, singkat dan semakin ngeri, "merokok
membunuhmu". Dengan begitu, apakah membuat turunnya jumlah perokok
secara pesat? Tidak. Coba seandainya harga sebungkus rokok dinaikkan jadi satu
milyar, dijamin akan banyak orang berhenti merokok, hehe
Contoh lain, jika cerita tentang
Pinokio itu benar adanya, setiap orang yang berbohong, hidungnya akan bertambah
panjang. Kira-kira berani ngga orang-orang untuk berbohong? Orang tidak akan
berani berbohong, takut kalau hidungnya tambah panjang. Atau sholat subuh di
mesjid, kalau misalnya, ada pengumuman “bagi yang sholat subuh di mesjid berjamaah, akan mendapatkan uang satu juta
rupiah”, kira-kira jamaah yang sholat akan bertambah atau tidak?
Begitulah, kita melakukan sesuatu
atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan apa yang kita pahami. Apa yang kita
pahami tentang dampak dari perbuatan yang kita lakukan. Hanya saja seperti
contoh di atas tadi, kebanyakan orang hanya melihat jangka pendek, jarang untuk
melihat jangka panjang, apalagi jangka panjang sekali.
Karena hanya orang yang cerdaslah
yang saat ia melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan memikirkan
tak hanya jangka pendek dan jangka panjang saja, tapi juga sampai memikirkan
dampak perbuatannya pada jangka panjang sekali, dampak setelah kematian, di
akhirat kelak. Seperti kata Rasul,
"Orang yang cerdas ialah orang yang dapat
mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang yang bodoh
ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan
mendapatkan ampunan Allah"
Bukan hal yang mustahil kalau ada
orang yang mengatakan, "Walau gunung emas kau berikan, uang sebanyak buih
dilautan kau tawarkan, atau lelaki tampan sejagad kau serahkan, pun sebaliknya,
seribu tusukan akan kau layangkan, satu detik saja kau meminta untuk
memperlihatkan sehelai rambut ini kepada yang bukan mahram, niscaya tak akan
kukabulkan."
Mengapa ia bisa demikian? Karena ia memahami ada
kenikmatan yang jauh lebih lagi, dan siksa yang jauh lebih pedih lagi. Ia tahu
dampak dari perbuatan yang ia lakukan. Ia memikirkan dampak jangka panjang
sekali. Ialah orang yang cerdas. Pun, ketika kita berpuasa, kita pasti tidak
berani makan meski hanya sebutir nasi atau minum setetes air kalau belum
waktunya. Saya yakin kita semua tahu alasannya mengapa.
Jadi orang yang cerdas itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^