Baiklah,
tulisan ini terinspirasi film Jepang. Eits, kali ini bukan Naruto. Nah dibagian
ending, itu ngena banget pesannya menurut saya. Saduran dari kisah nyata.
Sebenarnya film ini bukan terhitung film baru. Bahkan bisa dikategorikan film
lama, bingitt.
Mungkin
banyak diantara teman-teman yang pernah menonton film ini. "One Litre of
Tears", judulnya familiar banget kan? Dulu juga pernah ada versi
Indonesianya. Tapi saya tidak nonton. Waktu itu saya masih kecil, jadi belum
suka nonton film. Hehe.
Jujur, film
itu berhasil menguras air mata saya. Bukan karena sayanya yang cengeng ya, tapi
beneran emang sedih filmnya!
Berkisah
tentang perjuangan hidup seorang anak perempuan. Aya Namanya. Usianya baru
menginjak 15 tahun. Usia yang memasuki tahun pertama SMA.
Namun,
diusia yang begitu belia, dia terkena penyakit yang tak ada obatnya. Ya,
penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Ia mengalami kerusakan sumsum tulang
belakang. Ia mulai sering terjatuh dan menjatuhkan apapun yang dipegangnya.
Kadang, ia juga tak dapat menggerakkan tubuhnya. Ia mulai sulit berjalan juga
berkata. Perlahan penyakit itu melumpuhkan seluruh tubuhnya. Ia pun pada
akhirnya terbaring tak berdaya. Dan tinggal menunggu kematian datang
menjemputnya.
Sebenarnya,
pesan yang ingin disampaikan film itu tentang perjuangan Aya melawan
penyakitnya. Bukan ingin sok bijak, sebagaimana Aya yang tidak menyerah dengan
keadaan, maka seharusnya begitu jua
kita. Tak menyerah dengan keadaan, tak pesimis pada kehidupan. Sesulit apapun
hidup yang kita jalani, seberat apapun ujian yang kita hadapi. Walau masa depan
dirasa tak lagi ada harapan, tapi pasti masih ada yang bisa kita lakukan,
selama nafas masih berhembus, darah belum berhenti mengalir, dan jantung tetap
berdetak. Satu lagi, begitu banyak hal yang selalu dapat kita syukuri
sebenarnya, meski dunia rasanya penuh
duri.
Ya, Aya tak
kehilangan senyumnya. Senyumannya bahkan lebih hangat dari mentari. Setelah ia
tahu sakitnya tak bisa disembuhkan, satu keinginannya, menolong orang lain,
sebisanya. Dan ia pun menulis. Bahkan saat tangannya mulai tak mampu lagi
memegang pena, saat tulisannya hampir tak dapat dibaca, ia tetap mencoba
menulis. "Arigatou" yang berarti "terima kasih" adalah kata
terakhir yang ia tulis. Ternyata, usaha kerasnya berbuah manis.
Tulisan-tulisannya sungguh menginspirasi banyak orang, terutama mereka yang
terkena penyakit sama sepertinya. Ia banyak sekali mendapat surat dari pembaca.
Itulah yang juga memotivasinya berjuang tetap hidup melawan penyakitnya selain
kasih sayang dari keluarga dan teman-temannya. Luarbiasa memang, ia dapat
bertahan selama 10 tahun!
Namun
sesungguhnya, ada pesan yang lebih dalam lagi dari film itu. Pesan yang sayang
sekali bila tak sampai pada kita setelah menonton film itu. Pesan pada bagian
akhirnya. Pesan yang ia tulis pada buku hariannya. Ia menulis, "apa tujuan aku hidup?"
Belajar
dari kisah hidup Aya, satu, akankah kita baru mencari dan menyadari apa tujuan
kita hidup ketika kita merasa kematian itu telah dekat? Hey, kapan kita merasa
kematian itu hampir tiba waktunya? Setiap saat, bukan? Ya, setiap saat,
meskipun kita tak divonis penyakit mematikan. Karena Rasul katakan,
"Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba
yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan
baginya akan sakitnya kematian." (HR. Ad-Dailami)
Dua,
menurut teman-teman sekalian, kepada siapa sebenarnya Aya bertanya "apa tujuan aku hidup?" Kepada
ibunya? Kepada dirinya sendiri? Atau, kita sendiri, kepada siapa seharusnya
kita bertanya, "apa tujuan aku hidup?"
Ya, benar sekali, kepada yang bisa memberikan kita jawaban yang pasti benar,
dimana nilai kebenarannya tak diragukan lagi. Sekali lagi, ya, tepat sekali,
kepada yang menghidupkan dan menciptakan kita, kepada Allah. Apa jawaban Allah
bila kita bertanya "apa tujuan aku hidup?",
"Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS
Adz-dzaariyaat: 56)
Bahkan
minimal 5 kali dalam setiap hari kita, selalu terucap,
"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS
Al-an'aam: 162)
Tiga,
seandainya kita berada di posisi Aya, bagaimanakah kita menjalani kehidupan?
Masih muda, begitu banyak mimpi-mimpi yang sudah kita bayangkan di masa depan,
lalu penyakit itu datang dan mengambil semuanya. Saat kita mencoba membayangkan
hari esok, hanya penderitaan dan rasa sakitlah yang terlihat, atau bahkan
kematian. Ya, siapapun kiranya tidak
mengharapkan hal seperti itu terjadi. But, who
knows?
Ada
seseorang yang sebenarnya banyak orang diluar sana mengharapkan berada di
posisinya, tetapi karena ia merasa nasib baik selalu tak berpihak padanya,
cobaan demi cobaan yang membuatnya berpikir bahwa hidup itu melelahkan, ia tak
sanggup. Setiap saya ke tempatnya, ada saja tulisan di dinding kamarnya atau
disetiap statusnya, "Aku sudah lelah, aku ingin kembali kepadaMu",
"Cabut saja nyawaku", dan doa-doa yang menyakitkan hati membacanya.
Padahal Rasulullah berpesan,
"Janganlah ada orang yang menginginkan mati
karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah ia
cukup berkata, "Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik
bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku." (HR.
Bukhari)
Ya, mungkin
bila saya ada di posisinya saya belum tentu sanggup, tapi dia di posisinya
sebenarnya dia pasti sanggup, mengapa? karena,
"Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami
memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah
Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS
Al-Baqarah: 286)
Maka, kita,
di posisi kita, bagaimanapun kehidupan yang kita jalani dan ujian yang
diberikan, kita harus yakin bahwa kita sebenarnya 'sanggup'.
Terakhir,
karena kita tidak tahu kapan kematian itu datang dan datangnya itu merupakan
kepastian, maka apa yang seharusnya kita lakukan? Musrifah saya selalu
mengingatkan yang intinya, "Sudahkah
mempersiapkan diri bertemu dengan Allah? Saat kita akan ujian, skripsi, kita
mau mempersiapkan diri, maka bagaimana persiapan kita bertemu dengan Allah,
sudah sejauh mana?"
Sungguh,
sudah sejauh mana persiapan itu… Kalau ditanya, 'sudah siapkah bila kematian
itu datang?' Jujur, belum siap… Dan mengatakan 'belum siap' tak memberikan
jaminan sama sekali kematian akan ditunda. Yaa Allah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^