Senin, 01 Desember 2014

Pesan dari 'One Litre Of Tears'

Baiklah, tulisan ini terinspirasi film Jepang. Eits, kali ini bukan Naruto. Nah dibagian ending, itu ngena banget pesannya menurut saya. Saduran dari kisah nyata. Sebenarnya film ini bukan terhitung film baru. Bahkan bisa dikategorikan film lama, bingitt.

Mungkin banyak diantara teman-teman yang pernah menonton film ini. "One Litre of Tears", judulnya familiar banget kan? Dulu juga pernah ada versi Indonesianya. Tapi saya tidak nonton. Waktu itu saya masih kecil, jadi belum suka nonton film. Hehe.

Jujur, film itu berhasil menguras air mata saya. Bukan karena sayanya yang cengeng ya, tapi beneran emang sedih filmnya!

Berkisah tentang perjuangan hidup seorang anak perempuan. Aya Namanya. Usianya baru menginjak 15 tahun. Usia yang memasuki tahun pertama SMA.

Namun, diusia yang begitu belia, dia terkena penyakit yang tak ada obatnya. Ya, penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Ia mengalami kerusakan sumsum tulang belakang. Ia mulai sering terjatuh dan menjatuhkan apapun yang dipegangnya. Kadang, ia juga tak dapat menggerakkan tubuhnya. Ia mulai sulit berjalan juga berkata. Perlahan penyakit itu melumpuhkan seluruh tubuhnya. Ia pun pada akhirnya terbaring tak berdaya. Dan tinggal menunggu kematian datang menjemputnya.

Sebenarnya, pesan yang ingin disampaikan film itu tentang perjuangan Aya melawan penyakitnya. Bukan ingin sok bijak, sebagaimana Aya yang tidak menyerah dengan keadaan, maka  seharusnya begitu jua kita. Tak menyerah dengan keadaan, tak pesimis pada kehidupan. Sesulit apapun hidup yang kita jalani, seberat apapun ujian yang kita hadapi. Walau masa depan dirasa tak lagi ada harapan, tapi pasti masih ada yang bisa kita lakukan, selama nafas masih berhembus, darah belum berhenti mengalir, dan jantung tetap berdetak. Satu lagi, begitu banyak hal yang selalu dapat kita syukuri sebenarnya, meski  dunia rasanya penuh duri.

Ya, Aya tak kehilangan senyumnya. Senyumannya bahkan lebih hangat dari mentari. Setelah ia tahu sakitnya tak bisa disembuhkan, satu keinginannya, menolong orang lain, sebisanya. Dan ia pun menulis. Bahkan saat tangannya mulai tak mampu lagi memegang pena, saat tulisannya hampir tak dapat dibaca, ia tetap mencoba menulis. "Arigatou" yang berarti "terima kasih" adalah kata terakhir yang ia tulis. Ternyata, usaha kerasnya berbuah manis. Tulisan-tulisannya sungguh menginspirasi banyak orang, terutama mereka yang terkena penyakit sama sepertinya. Ia banyak sekali mendapat surat dari pembaca. Itulah yang juga memotivasinya berjuang tetap hidup melawan penyakitnya selain kasih sayang dari keluarga dan teman-temannya. Luarbiasa memang, ia dapat bertahan selama 10 tahun!

Namun sesungguhnya, ada pesan yang lebih dalam lagi dari film itu. Pesan yang sayang sekali bila tak sampai pada kita setelah menonton film itu. Pesan pada bagian akhirnya. Pesan yang ia tulis pada buku hariannya. Ia menulis, "apa tujuan aku hidup?"

Belajar dari kisah hidup Aya, satu, akankah kita baru mencari dan menyadari apa tujuan kita hidup ketika kita merasa kematian itu telah dekat? Hey, kapan kita merasa kematian itu hampir tiba waktunya? Setiap saat, bukan? Ya, setiap saat, meskipun kita tak divonis penyakit mematikan. Karena Rasul katakan,

"Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian." (HR. Ad-Dailami)

Dua, menurut teman-teman sekalian, kepada siapa sebenarnya Aya bertanya "apa tujuan aku hidup?" Kepada ibunya? Kepada dirinya sendiri? Atau, kita sendiri, kepada siapa seharusnya kita bertanya, "apa tujuan aku hidup?" Ya, benar sekali, kepada yang bisa memberikan kita jawaban yang pasti benar, dimana nilai kebenarannya tak diragukan lagi. Sekali lagi, ya, tepat sekali, kepada yang menghidupkan dan menciptakan kita, kepada Allah. Apa jawaban Allah bila kita bertanya "apa tujuan aku hidup?",

 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz-dzaariyaat: 56)

Bahkan minimal 5 kali dalam setiap hari kita, selalu terucap,

"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-an'aam: 162)

Tiga, seandainya kita berada di posisi Aya, bagaimanakah kita menjalani kehidupan? Masih muda, begitu banyak mimpi-mimpi yang sudah kita bayangkan di masa depan, lalu penyakit itu datang dan mengambil semuanya. Saat kita mencoba membayangkan hari esok, hanya penderitaan dan rasa sakitlah yang terlihat, atau bahkan kematian.  Ya, siapapun kiranya tidak mengharapkan hal seperti itu terjadi. But, who knows?

Ada seseorang yang sebenarnya banyak orang diluar sana mengharapkan berada di posisinya, tetapi karena ia merasa nasib baik selalu tak berpihak padanya, cobaan demi cobaan yang membuatnya berpikir bahwa hidup itu melelahkan, ia tak sanggup. Setiap saya ke tempatnya, ada saja tulisan di dinding kamarnya atau disetiap statusnya, "Aku sudah lelah, aku ingin kembali kepadaMu", "Cabut saja nyawaku", dan doa-doa yang menyakitkan hati membacanya. Padahal Rasulullah berpesan,

"Janganlah ada orang yang menginginkan mati karena kesusahan yang dideritanya. Apabila harus melakukannya hendaklah ia cukup berkata, "Ya Allah, tetap hidupkan aku selama kehidupan itu baik bagiku dan wafatkanlah aku jika kematian baik untukku." (HR. Bukhari)

Ya, mungkin bila saya ada di posisinya saya belum tentu sanggup, tapi dia di posisinya sebenarnya dia pasti sanggup, mengapa? karena,

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS Al-Baqarah: 286)

Maka, kita, di posisi kita, bagaimanapun kehidupan yang kita jalani dan ujian yang diberikan, kita harus yakin bahwa kita sebenarnya 'sanggup'.

Terakhir, karena kita tidak tahu kapan kematian itu datang dan datangnya itu merupakan kepastian, maka apa yang seharusnya kita lakukan? Musrifah saya selalu mengingatkan yang intinya, "Sudahkah mempersiapkan diri bertemu dengan Allah? Saat kita akan ujian, skripsi, kita mau mempersiapkan diri, maka bagaimana persiapan kita bertemu dengan Allah, sudah sejauh mana?"

Sungguh, sudah sejauh mana persiapan itu… Kalau ditanya, 'sudah siapkah bila kematian itu datang?' Jujur, belum siap… Dan mengatakan 'belum siap' tak memberikan jaminan sama sekali kematian akan ditunda. Yaa Allah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^