Sedikit berbagi, "apa yang dibaca, yang dilihat, didengar, pun
yang dipelajari belum tentu kebenaran. Kita perlu melakukan pembuktian." Itulah pelajaran yang saya dapatkan dari UK.
Bukan United Kingdom ya, lebih hebat
malah. Dari situlah banyak pelajaran berharga yang diberikan, UK, Universitas
Kehidupan.
Apa yang disebut
dengan kebenaran menjadi barang langka. Langka karena disembunyikan,
ditutup-tutupi, disamarkan, parahnya juga direlatifkan, kalau orang banyak yang
bilang begitu, orang akan menganggapnya benar. Mau mendapatkan informasi yang
benar-benar BENAR itu sulit. Memang diperlukan pemikiran yang mendalam sampai
pemikiran yang cemerlang.
Belajar dari
pengalaman, setiap kali membaca, saya tidak mau lagi buru-buru langsung
percaya, kecuali saya tahu persis kebenaran sumbernya. Dulu main 'telan' saja,
mudah percaya. Waktu itu saya ada membaca suatu berita, kebetulan saya tahu
persis bagaimana kejadiannya. Tapi, setelah saya membaca berita yang
menceritakan bagaimana kronologinya, jauh dari kenyataan, bahkan memutar
balikan fakta. Apalagi jika sesuatu itu
kita dapat dari ujar bin ujar, peluangnya besar akan ditambah-tambah atau
dikurang-kurang.
Pernah juga saat teman
saya ingin mencari madu murni, saya menunjukan suatu tempat yang menjual madu
tersebut. Saya kaget dengan reaksinya, "Kamu percaya kalau itu madu
murni?". "Disitu kan ada tulisannya, madu murni 100%", jawab
saya. Dia pun memberikan penjelasan yang membuat telinga saya hampir tak
percaya mendengarnya. Apa kata teman saya? "Belum tentu, bisa jadi itu
trik untuk menarik pelanggan". Oh, masya Allah. Bagaimana bila itu memang
benar? Sampai segitunya kah?!
Jangankan
tulisan-tulisan yang kita baca, atau info-info yang kita dengar, bahkan apa
yang kita pelajari dan yang diajarkan kepada kita pun belum tentu hal yang
benar. Teori evolusi misalnya. Jelas teori tersebut salah, tapi tetap
diajarkan. Teori yang mengajarkan pencipta itu tak ada, bagaimana mungkin masih
diajarkan? Di sekolah, kita juga diajarkan betapa baiknya demokrasi, padahal
kenyataannya berbanding terbalik. Salah satu bukti kerusakannya, korupsi yang
semakin subur dikarenakan pesta demokrasi yang begitu mahal, sehingga rakyat
tidak sejahtera. Atau pelajaran di buku-buku sejarah, belum tentu apa yang
dipelajari itu benar begitu kejadiannya di masa lalu boleh jadi ada yang
sengaja ditutupi atau dihilangkan. Buktinya, tentang Khilafah tak disinggung
sama sekali. Banyak umat muslim yang tak kenal Khilafah. Padahal itu merupakan
sejarah yang benar adanya.
Dan yang paling
menyadarkan saya bahwa memang kita tak boleh langsung percaya begitu saja tanpa
melakukan konfirmasi atau pembuktian terlebih dulu, adalah pengalaman ketika
saya ditanya; "Mengapa kamu Islam?", "Yakinkah kamu Islam itu
benar?", "Al-Qur'an itu benar wahyu Allah?", "Benarkah
Tuhan itu ada?". Ya, terhadap hal-hal yang kita yakini kebenarannya hanya
dari kepercayaan yang turun temurun atau hanya karena kita disuruh untuk
percaya, sesungguhnya kita perlu bukti kebenarannya.
Untuk itu, jangan
sampai otak kita diisi oleh informasi yang salah, hanya karena kita langsung
membenarkan apa yang kita baca, langsung percaya dengan apa yang dilihat mata,
meyakini apa yang didengar telinga, atau menelan mentah-mentah apa yang
diajarkan kepada kita, tanpa membuktikan kebenarannya terlebih dulu. Benar itu
pernyataan sama dengan kenyataan. Jadi, apa pernyataannya, bagaimana
kenyataannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^