Senin, 27 Oktober 2014

Apa Pernyataannya, Bagaimana Kenyataannya

Sedikit berbagi, "apa yang dibaca, yang dilihat, didengar, pun yang dipelajari belum tentu kebenaran. Kita perlu melakukan pembuktian."  Itulah pelajaran yang saya dapatkan dari UK. Bukan United Kingdom ya, lebih hebat malah. Dari situlah banyak pelajaran berharga yang diberikan, UK, Universitas Kehidupan.

Apa yang disebut dengan kebenaran menjadi barang langka. Langka karena disembunyikan, ditutup-tutupi, disamarkan, parahnya juga direlatifkan, kalau orang banyak yang bilang begitu, orang akan menganggapnya benar. Mau mendapatkan informasi yang benar-benar BENAR itu sulit. Memang diperlukan pemikiran yang mendalam sampai pemikiran yang cemerlang.

Belajar dari pengalaman, setiap kali membaca, saya tidak mau lagi buru-buru langsung percaya, kecuali saya tahu persis kebenaran sumbernya. Dulu main 'telan' saja, mudah percaya. Waktu itu saya ada membaca suatu berita, kebetulan saya tahu persis bagaimana kejadiannya. Tapi, setelah saya membaca berita yang menceritakan bagaimana kronologinya, jauh dari kenyataan, bahkan memutar balikan fakta.  Apalagi jika sesuatu itu kita dapat dari ujar bin ujar, peluangnya besar akan ditambah-tambah atau dikurang-kurang.

Pernah juga saat teman saya ingin mencari madu murni, saya menunjukan suatu tempat yang menjual madu tersebut. Saya kaget dengan reaksinya, "Kamu percaya kalau itu madu murni?". "Disitu kan ada tulisannya, madu murni 100%", jawab saya. Dia pun memberikan penjelasan yang membuat telinga saya hampir tak percaya mendengarnya. Apa kata teman saya? "Belum tentu, bisa jadi itu trik untuk menarik pelanggan". Oh, masya Allah. Bagaimana bila itu memang benar? Sampai segitunya kah?!

Jangankan tulisan-tulisan yang kita baca, atau info-info yang kita dengar, bahkan apa yang kita pelajari dan yang diajarkan kepada kita pun belum tentu hal yang benar. Teori evolusi misalnya. Jelas teori tersebut salah, tapi tetap diajarkan. Teori yang mengajarkan pencipta itu tak ada, bagaimana mungkin masih diajarkan? Di sekolah, kita juga diajarkan betapa baiknya demokrasi, padahal kenyataannya berbanding terbalik. Salah satu bukti kerusakannya, korupsi yang semakin subur dikarenakan pesta demokrasi yang begitu mahal, sehingga rakyat tidak sejahtera. Atau pelajaran di buku-buku sejarah, belum tentu apa yang dipelajari itu benar begitu kejadiannya di masa lalu boleh jadi ada yang sengaja ditutupi atau dihilangkan. Buktinya, tentang Khilafah tak disinggung sama sekali. Banyak umat muslim yang tak kenal Khilafah. Padahal itu merupakan sejarah yang benar adanya.

Dan yang paling menyadarkan saya bahwa memang kita tak boleh langsung percaya begitu saja tanpa melakukan konfirmasi atau pembuktian terlebih dulu, adalah pengalaman ketika saya ditanya; "Mengapa kamu Islam?", "Yakinkah kamu Islam itu benar?", "Al-Qur'an itu benar wahyu Allah?", "Benarkah Tuhan itu ada?". Ya, terhadap hal-hal yang kita yakini kebenarannya hanya dari kepercayaan yang turun temurun atau hanya karena kita disuruh untuk percaya, sesungguhnya kita perlu bukti kebenarannya.

Untuk itu, jangan sampai otak kita diisi oleh informasi yang salah, hanya karena kita langsung membenarkan apa yang kita baca, langsung percaya dengan apa yang dilihat mata, meyakini apa yang didengar telinga, atau menelan mentah-mentah apa yang diajarkan kepada kita, tanpa membuktikan kebenarannya terlebih dulu. Benar itu pernyataan sama dengan kenyataan. Jadi, apa pernyataannya, bagaimana kenyataannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^