Senin, 13 Oktober 2014

Lebih Awal


Pada suatu hari, ah, rasanya lama sekali tidak menggunakan kalimat pembuka itu. Oke, pada suatu hari yang berkabut, berbau asap, saya pergi keluar. Di sini memang sedang dilanda asap, sebulanan sudah. Lebih bahkan. Nah, tepatnya pada sabtu siang saya pergi mengunjungi teman baik yang sedang berbahagia. Berbahagia  atas kelahiran anak pertamanya, perempuan.

Pada saat itulah saya mendapatkan pelajaran hidup, lagi. Pelajaran yang menggugah kesadaran. “Bagaimana jika saya berada diposisinya?” Itulah pelajarannya. Bukan, bukan diposisi dia yang telah menjadi seorang ibu. Itu pelajaran lain. Tapi diposisi dia yang tinggal di perumahan yang sangat jauh dengan jalan bak lautan, bergelombang. Separuh berbatu, separuh lagi bergurun pasir. Genap sudah.

Membayangkan dia dalam kondisi hamil melewati jalan itu. Pasti berat. Walaupun belum pernah hamil, tapi kalau memperhatikan orang hamil itu, ah, bagaimanalah.
Teringat waktu dulu pulang naik bis Palangka-Sampit, tahun 2011 lalu. Saya duduk tak jauh dari seorang ibu hamil, mungkin hamil 5 atau 6 bulan. Bercerita tentang ‘hamil’ saya jadi ingat tebak-tebakan dari teman. Ya, kami sering main tebak-tebakan. Dia bertanya gini, “Apa yang ada dalam perut ibu hamil?”. “Bulan”. Lho kok? Iya, karena ibu hamil pasti ditanya, “Ibu, sudah berapa bulan?” hehe.

Kembali ke ibu hamil tadi, setiap kali melewati jalan yang berlubang atau bergelombang, ibu hamil itu menjerit “aw”. Parahnya, sang supir mengendarai bis itu laju sekali. Saya yang dalam kondisi ‘normal’ saja rasanya terguncang, ngeri, kepala saya juga ikutan ngeri, eh nyeri maksudnya. Bisa dibayangkan bagaimana ibu hamil tadi? Beliau sampai menangis, jadilah kami semua panik dalam diam. Hanya suami beliau yang panik dalam suara, meminta supir untuk pelan-pelan. Apalagi waktu itu malam, penuh tikungan tajam pula, jalannya sempit, ah, masih jelas terasa ‘indahnya’ suasana kala itu!

Intinya, teman saya itu seorang wanita yang tangguh. Semangatnya itu lho. Rapat pun bela-belain datang. Kalau ingat ibu hamil tadi, jadi terbayang betapa ‘susah’ sebenarnya dia pergi melewati jalan itu. Dan itu membuat saya malu. Malu, karena dia selalu datang lebih awal dari saya.

Saya memang belum pernah merasakan perjuangan menjemput ilmu yang begitu melelahkan. Yang harus menempuh perjalanan jauh. Berangkat lebih pagi menerjang dingin. Melawan teriknya matahari. Apalagi kalau udaranya tercemar asap dan, bagaimana bila hujan?

Kebetulan di kampung, rumah saya letaknya cukup strategis. Tempat saya dekat dengan sekolah, TK sampai SMA. Pun ketika kuliah, Kira-kira 3 menit sudah sampai kampus dengan berkendaraan motor. Sungguh, rasanya saya masih belum bersyukur jika tempat saya dekat, tapi saya terlambat. Dibandingkan dengan teman-teman saya yang rumahnya lebih jauh apalagi dengan teman saya tadi, saya punya kesempatan besar datang lebih awal.

Seharusnya saya datang lebih awal dari siapapun teman saya yang tempatnya lebih jauh dari tempat saya, kan? Saya seharusnya membuang kebiasaan yang ‘tepat waktu’. Begitu datang, acara dimulai. Yang selalu ‘pas’, pas-pasan masuknya. Apalagi terlambat? Tempat dekat, kok lambat? Itu tidak boleh lagi terjadi. T-i-d-a-k. (Tolong ingatkan, kawan)

Mendengar apa kata William Shakespeare ini menambah merah wajah saya, “Lebih baik datang 3 jam lebih awal daripada terlambat 1 menit”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^