Kamis, 23 Oktober 2014

Barunang Miri, Desa yang Kurindu

Ada pedesaan terpencil yang bermil-mil jauh dari keramaian kota. Betapa tidak? Desa ini dikelilingi ribuan pohon sawit seperti pulau yang terdampar di tengah samudra.

Bila pertama kali coba-coba datang ke desa ini, menggunakan peta sekali pun akan tersesat. Inilah desa tempat ayahku dibesarkan yang hingga sekarang PLN tak jua tertarik untuk menerangi tempat ini.

Mengapa? Apa karena desa ini terlalu 'kecil' -yang bila turun ke sungai, ujung-ujung desa dapat terlihat dengan mudah tanpa teropong? Yang saat duduk di teras rumah hanya melihat pemandangan jalan selebar 2m lebih, di depannya sungai seukuran 7m lebih yang dibatasi hutan, setiap hari monyet-monyet berkelahi di sana.


Listrik akan menyala hanya saat malam tiba, itu pun hanya sampai jam 9 malam menggunakan mesin. Selebihnya tugas rembulan menerangi desa. Dan semua orang akan berlayar serempak ke pulau impiannya masing2. Kecuali aku. Tak akan ada suara kendaraan satu pun yang lewat. Sunyi sekali... Sampai-sampai bunyi nafasku terdengar jelas di telinga. Bahkan suara batuk seseorang yang jaraknya dua rumah dari tempatku berada, telingaku dapat mendengarnya.

Dan satu lagi, signal. Ya, itu menambah daftar pembangunan desa ini. Sulit sekali mencari signal di sini. Harus naik ke bukit dulu, atau abrakadabra tiba2 tertangkap. Namun terlepas dari semua itu, liburan disini tetap menyenangkan. Keramahan penduduk desa ini, kehangatannya terasa. Suasana yang begitu tenang dengan udara yang kesegarannya begitu lembut menyapa. Serta keceriaan anak-anak dengan mainan yang kreatif mereka buat sendiri dari alam. Itulah mengapa aku tetap akan merindukan desa ini, Barunang Miri, Parenggean.

*ditulis diam-diam, dalam gelap*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^