Masih ingat sama cerita Jono? Jono yang kukira akan melakukan hal yang ditakutkan, ternyata tidak demikian. Dia malah asyik mengayunkan badannya dengan tali itu. Gembira sekali. Kalian tahu? Betapa lega aku melihatnya. Rasanya aku terbang melayang. Ups, aku lupa. Hey ..., bukankah dicerita Jono aku ini seekor burung? Ah, saking senangnya aku sampai lupa. Aku saat itu memang tak henti-henti mengepakkan sayapku. Kali ini, ada cerita tentang Jono yang tak kalah serunya. Iseng lagi buat cerita dari gambar di atas.
1. "Sudah sore nih, ayo pulang Jon''.
Seperti mengerti apa yang baru saja ku katakan, Jono segera pulang setelah mengumpulkan beberapa ranting kering.
"Untuk apa Jon?'' Aku tetap bertanya meski aku tahu Jono tak akan mengerti ucapanku. Yah, begitulah aku. Jono hanya menoleh.
Tiba lah Jono di rumahnya. Entah apa yang dilakukannya. Mungkin istirahat, lalu makan. Atau hanya mandi lalu ganti baju. Satu hal yang ku ketahui, Jono pergi lagi. Membawa ranting yang tadi dikumpulkannya. Memakai pakaian serba putih. Dan dengan tampang itu lagi, tampang yang selalu membuatku khawatir. "Jono oh Jono''.
10 menit perjalanan, sejauh mata memandang, ada sesuatu yang terjadi di sana.
"Hey Jon, ada asap mengepul, tinggi sekali. Jangan-jangan ada kebakaran Jon.''
Kulihat Jono mempercepat jalannya. Cepat, cepat, dan lari. "Tunggu Jon..."
Sesampainya...
"Baiklah, hanya lemparkan apapun yang tidak berguna ke dalam api itu.'' Kata seseorang.
"Siapa dia Jon?'' Tanyaku. "Mungkin ayahnya.'' Jawabku sendiri. Jono kan tak mengerti.
2. "Kamu akan melihat, luarbiasanya barang-barang yang tidak berguna menjadi bahan bakar yang mengagumkan.'' Kata orang itu lagi.
"Wah, benarkah? Ayo Jon, tunggu apalagi, gpl Jon, gpl... Aku ingin melihat, sangat-sangat ingin...'' Aku memaksa, haha.
"Jono oh Jono'', ekspresinya kali ini hanya berubah jadi datar saat memasukkan ranting-ranting itu ke dalam api. "SEMANGAT dong Jon''.
Dan, ternyata benar! Apinya bertambah besar. Waw.
3. "Huh, kamu menangis? Apa ada masalah?'' Tanya orang itu menjatuhkan pikiranku yang melayang, takjub melihat api yang di sebut-sebut si Jago merah.
"Siapa? Aku? Aku tidak menangis.'' Kataku sambil tersenyum. "Jangan-jangan ..., Jono.'' Segera ku alihkan pandanganku ke arahnya. Benar, ada bulir air mengalir dari pelupuk matanya yang sayu. Deras. "Jono oh Jono''.
"Kamu kenapa Jon? Cerita dong...''
4. "Tidak, aku hanya takut juga menjadi tidak berguna suatu hari nanti dan akhirnya sebagai bahan bakar dalam api neraka!'' Jelasnya, tangisnya semakin kencang. Mungkin air matanya yang berjatuhan itu akan mampu memadamkan si Jago merah.
Orang itu membisu. Tidak jadi memasukkan barang yang berupa tas dari kardus bekas yang sudah sobek di bagian bawahnya dan hilang talinya.
Meski aku hanyalah seekor burung. Tahukah kalian aku pun sungguh teramat takut menjadi bahan bakar api neraka yang panasnya berkali-kali lipat dari api di dunia? Yang bara apinya saja mampu mendidihkan otak.
Pernah melihat burung menangis? Ya, aku sedang menangis...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^