Alhamdulillah,
pagi ini masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tulisan ini
dibuat sebagai cambuk diriku. Agar setiap kali aku membacanya aku jadi ingat
dan semangat. Kucoba untuk membagikan, siapa tahu ada yang juga ikut
‘tercambuk’. Hehe. Bila begitu, ya Alhamdulillah.
Aku
mencoba untuk tumbuh setiap harinya meskipun hanya 1%. Karena jika hari ini
sama dengan hari kemarin maka kita rugi. Kalau lebih buruk ya celaka. Beruntunglah
jika hari ini kita bisa lebih baik dari kemarin meskipun hanya 1%. Sadar bahwa
kesempatan hidupku semakin berkurang setiap detiknya. Juga banyak yang ingin
aku lakukan selama hidup. Bermanfaat untuk orang lain bukankah sebaik-baiknya
manusia? Bagaimana resepnya?
SEDERHANA.
Niat
dan mulailah.
Nah,
yang pertama, yang utama, adalah ‘niat’. Untuk memunculkan niat, kita memang
perlu motivasi. Motivasi terbesar dan terkuat adalah motivasi spiritual.
Motivasi karena Allah. Ya, kita harus punya niat. Niat semata-mata ikhlas
lillahi ta’ala. Niat yang muncul dari dalam diri dan hati kita. Kalau tidak
punya niat, ya diniatkan. Hehehe. Tanyakan pada diri sendiri “bahagiakah aku
dengan keadaan seperti ini?” “Apakah aku hanya ingin jadi orang yang
biasa-biasa saja?”, “Tidak maukah aku menjadi orang yang beruntung?”, “Sudahkah
aku memberikan yang terbaik untuk Allah?”, “Apa yang sudah kulakukan untuk
akhiratku kelak? Waktuku terbatas” (dan lain sebagainya). Bagaimana? Masih
belum punya alasan untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya? Menjadi
luar biasa?. Mulai sekarang, niatkan untuk berubah. Bismillah.
Kedua,
mulailah. Ya mulailah.
Kata
orang ini yang paling sulit, bagaimana cara memulai?
Perlu
dorongan kuat dalam diri dan melatih habit. Jadi pertama yang harus dilakukan
adalah bentuk habit positif, habit yang luar biasa. Paksa. Move on. Dengan melatih
habit yang luar biasa maka kita akan tanpa berpikir melakukan hal yang luar
biasa.
kedua,
membuang kebiasaan buruk. Sebaiknya mulai mengurangi atau kalau perlu
menghilangkan kebiasaan buruk untuk memperbaiki diri. Agar nanti yang dominan
adalah kebiasaan baik. Terlalu banyak melakukan hal mubah, akan mengurangi
waktu untuk yang wajib dan sunnah. Akan mengurangi waktu meraih pahala. Ingat
waktu itu tidak akan tergantikan.
Ketiga,
agar semangat berubah tidak naik turun, kita bisa mencari teman yang bisa
mendukung dan senantiasa mengingatkan. Tentunya juga menyemangati kita memberi
motivasi. Semakin banyak teman, semakin kuat kita. Kita perlu tauladan yang
juga luar biasa. Carilah orang-orang yang kita anggap luar biasa yang kita bisa
belajar darinya. Siapakah yang lebih pantas untuk ditiru? Salah satu yang
pantas adalah Rasulullah saw. Bahkan Allah dan malaikat saja bershalawat untuk
beliau. Tidak hanya itu orang diluar muslim juga mengakui bahwa beliau adalah
tokoh no 1 paling berpengaruh di dunia. Subhanallah.
Meski
kita hidup di zaman yang sudah berabad ditinggal oleh Rasulullah, bukan alasan
tidak bisa meneladani beliau. Kita bisa belajar dengan ulama (penj. orang yang
berilmu). Sering-sering ikut pengajian. Banyak-banyak membaca buku berkualitas.
Dan juga gencar diskusi. Zaman sekarang juga lebih mudah. Tinggal surfing di
internet, searching dengan ustadz ‘google’ maka kita sudah dapatkan informasi
yang ingin dicari. Namun kita tetap harus teliti dan berhati-hati. Karena bisa
jadi informasi yang kita dapat salah, kan bahaya? Jadi intinya tetap harus
menuntut ilmu dan ngaji. Sepakat?
Keempat,
lingkungan juga sangat berpengaruh bagi kehidupan kita. So, kita harus mencari
lingkungan yang baik, berkumpul dengan orang sholeh misalnya. Memang lingkungan
sekarang sudah fasad. Karenanya kita harus benar-benar serba extra untuk tetap
baik dan melakukan kebaikan saat orang-orang melakukan kerusakan.
Kelima,
lakukanlah dakwah. Menyeru kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar.
Dengan begitu dapat menguatkan diri kita. Mengajak juga yang lain berubah
menjadi baik, kan kalau sama-sama itu nikmat. Selain itu, dakwah adalah perkara
wajib yang harus kita lakukan, bukan hanya tugas kyai, ustadz-ustadzah, atau
dari lulusan pesantren. Mari menguatkan diri dengan mengajak yang lain.
Terakhir,
terapi istighfar. Karena orang yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat
dosa. Tetapi orang yang bertaubat dan menyesali dosa yang diperbuat. Tidak ada
dosa kecil jika tanpa istighfar, dan tidak ada dosa besar dengan istighfar.
Istighfar bukan berarti menunggu ketika berbuat salah, karena Rasul bertaubat
kepada Allah yang jelas-jelas ‘maksum’ dalam sehari sebanyak seratus kali. Bisa
jadi karena maksiat yang kita masih lakukan, menyebabkan sulit untuk berubah
menjadi pribadi yang lebih baik dan luar biasa. Semoga dengan terapi istighfar
kita mendapat rahmat dari Allah, sehingga kita diringankan langkah menuju
perubahan.
Note:
“Langkah-langkah diatas, kalau masih kurang, mohon ditambahkan. Agar kita bisa
berbagi bersama untuk berubah. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^