Rabu, 15 Januari 2014

Resep Memperbaiki Diri


Alhamdulillah, pagi ini masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Tulisan ini dibuat sebagai cambuk diriku. Agar setiap kali aku membacanya aku jadi ingat dan semangat. Kucoba untuk membagikan, siapa tahu ada yang juga ikut ‘tercambuk’. Hehe. Bila begitu, ya Alhamdulillah.
Aku mencoba untuk tumbuh setiap harinya meskipun hanya 1%. Karena jika hari ini sama dengan hari kemarin maka kita rugi. Kalau lebih buruk ya celaka. Beruntunglah jika hari ini kita bisa lebih baik dari kemarin meskipun hanya 1%. Sadar bahwa kesempatan hidupku semakin berkurang setiap detiknya. Juga banyak yang ingin aku lakukan selama hidup. Bermanfaat untuk orang lain bukankah sebaik-baiknya manusia? Bagaimana resepnya?
SEDERHANA.
Niat dan mulailah.

Nah, yang pertama, yang utama, adalah ‘niat’. Untuk memunculkan niat, kita memang perlu motivasi. Motivasi terbesar dan terkuat adalah motivasi spiritual. Motivasi karena Allah. Ya, kita harus punya niat. Niat semata-mata ikhlas lillahi ta’ala. Niat yang muncul dari dalam diri dan hati kita. Kalau tidak punya niat, ya diniatkan. Hehehe. Tanyakan pada diri sendiri “bahagiakah aku dengan keadaan seperti ini?” “Apakah aku hanya ingin jadi orang yang biasa-biasa saja?”, “Tidak maukah aku menjadi orang yang beruntung?”, “Sudahkah aku memberikan yang terbaik untuk Allah?”, “Apa yang sudah kulakukan untuk akhiratku kelak? Waktuku terbatas” (dan lain sebagainya). Bagaimana? Masih belum punya alasan untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya? Menjadi luar biasa?. Mulai sekarang, niatkan untuk berubah. Bismillah.
Kedua, mulailah. Ya mulailah.
Kata orang ini yang paling sulit, bagaimana cara memulai?
Perlu dorongan kuat dalam diri dan melatih habit. Jadi pertama yang harus dilakukan adalah bentuk habit positif, habit yang luar biasa. Paksa. Move on. Dengan melatih habit yang luar biasa maka kita akan tanpa berpikir melakukan hal yang luar biasa.
kedua, membuang kebiasaan buruk. Sebaiknya mulai mengurangi atau kalau perlu menghilangkan kebiasaan buruk untuk memperbaiki diri. Agar nanti yang dominan adalah kebiasaan baik. Terlalu banyak melakukan hal mubah, akan mengurangi waktu untuk yang wajib dan sunnah. Akan mengurangi waktu meraih pahala. Ingat waktu itu tidak akan tergantikan.
Ketiga, agar semangat berubah tidak naik turun, kita bisa mencari teman yang bisa mendukung dan senantiasa mengingatkan. Tentunya juga menyemangati kita memberi motivasi. Semakin banyak teman, semakin kuat kita. Kita perlu tauladan yang juga luar biasa. Carilah orang-orang yang kita anggap luar biasa yang kita bisa belajar darinya. Siapakah yang lebih pantas untuk ditiru? Salah satu yang pantas adalah Rasulullah saw. Bahkan Allah dan malaikat saja bershalawat untuk beliau. Tidak hanya itu orang diluar muslim juga mengakui bahwa beliau adalah tokoh no 1 paling berpengaruh di dunia. Subhanallah.
Meski kita hidup di zaman yang sudah berabad ditinggal oleh Rasulullah, bukan alasan tidak bisa meneladani beliau. Kita bisa belajar dengan ulama (penj. orang yang berilmu). Sering-sering ikut pengajian. Banyak-banyak membaca buku berkualitas. Dan juga gencar diskusi. Zaman sekarang juga lebih mudah. Tinggal surfing di internet, searching dengan ustadz ‘google’ maka kita sudah dapatkan informasi yang ingin dicari. Namun kita tetap harus teliti dan berhati-hati. Karena bisa jadi informasi yang kita dapat salah, kan bahaya? Jadi intinya tetap harus menuntut ilmu dan ngaji. Sepakat?
Keempat, lingkungan juga sangat berpengaruh bagi kehidupan kita. So, kita harus mencari lingkungan yang baik, berkumpul dengan orang sholeh misalnya. Memang lingkungan sekarang sudah fasad. Karenanya kita harus benar-benar serba extra untuk tetap baik dan melakukan kebaikan saat orang-orang melakukan kerusakan.
Kelima, lakukanlah dakwah. Menyeru kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar. Dengan begitu dapat menguatkan diri kita. Mengajak juga yang lain berubah menjadi baik, kan kalau sama-sama itu nikmat. Selain itu, dakwah adalah perkara wajib yang harus kita lakukan, bukan hanya tugas kyai, ustadz-ustadzah, atau dari lulusan pesantren. Mari menguatkan diri dengan mengajak yang lain.
Terakhir, terapi istighfar. Karena orang yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat dosa. Tetapi orang yang bertaubat dan menyesali dosa yang diperbuat. Tidak ada dosa kecil jika tanpa istighfar, dan tidak ada dosa besar dengan istighfar. Istighfar bukan berarti menunggu ketika berbuat salah, karena Rasul bertaubat kepada Allah yang jelas-jelas ‘maksum’ dalam sehari sebanyak seratus kali. Bisa jadi karena maksiat yang kita masih lakukan, menyebabkan sulit untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan luar biasa. Semoga dengan terapi istighfar kita mendapat rahmat dari Allah, sehingga kita diringankan langkah menuju perubahan.
Note: “Langkah-langkah diatas, kalau masih kurang, mohon ditambahkan. Agar kita bisa berbagi bersama untuk berubah. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^