Bila ditanya tentang apa saja kamu menulis, maka jawabnya 'tentang
apa saja'. Salah satunya tentang apa yang bisa saya ingat sejak saya bisa
mengingat, juga tentang apa yang saya pikirkan selagi masih bisa berpikir. Dan
sungguh menarik menuliskan tentang taburan peristiwa kehidupan. Agar menjadi
ingatan bahwa kita pernah mengalami sesuatu. Karena menulis tak hanya untuk
dipahami tetapi juga untuk memahami. Semoga dapat menikmati cup of juice hari
ini. Cerita mini dengan adik bungsu. Namanya Ade. Ada banyak hal yang saya
dapatkan saat bersamanya. Me = Saya dan De = Ade. Mari berbagi~
*Tak Bisa Sendiri*
Waktu itu sedang asyik membaca buku tentang menulis, Ade datang
sambil membawa papan catur. Papan catur yang besarnya hampir mengalahkan Ade
yang baru berusia 5 tahun. Ade duduk di samping kiriku. Aku berpura-pura tak
melihatnya. Firasatku mengatakan dia akan mengajakku main catur. Seolah tak
ingin mengganggu, Ade menyusun bidak-bidak catur itu sendiri. Dan tak disangka
susunannya tepat, posisi raja, ratu, menteri, kuda, benteng dan pion. Hingga
setelah selesai ia menyusun kedua kubu bidak itu, aku tak mampu menahan godaan
untuk bertanya.
Me : “Wah, hebat ya Ade
bisa menyusunnya dengan benar. Belajar dari siapa?”
De : “Ade sendiri, ka.”
Me : ”Masa sih? Kakak
ngga percaya.”
De : “Beneran ka, Ade
sering ikut liatin abah main catur.”
Me : “Oh, uhm …, terus
Ade bisa, main catur?”
De : “Bisa dong ka.”
Me : “Ah, masa?”
De : “Iya, Ade itu bisa
kalau berdua mainnya, kalau sendiri Ade ngga bisa. Ayo ka, kita main.”
Me : (Tuh kan, bener
firasat saya)
Note:
“Kita memang tak bisa sendiri. Ada yang bisa?”
*Mimpikan*
Dari dapur terlihat Ade membawa piring ditangan kanannya dan pisau
ditangan kirinya. Di dalam piring itu ada buang mangga mentah yang telah
dikupas kulitnya dan sebungkus kecap manis. Sambil mengembangkan senyumnya, ia berjalan
mendatangi saya. Sesampainya …,
De : “Kaka, potongkan buah
ini dong.”
Me : “Oke, sini buahnya.
(penasaran mengapa buah mangga itu hanya
dikupaskan tidak sekalian dipotongkan, saya pun bertanya). Ade, ini siapa yang
ngupasin kulitnya?”
De : “A-de.”
Me : (Melihat bentuk kupasan
yang rapi, siapa yang percaya Ade yang mengupas?). “Ah, masa? Ade bohong nih,
masih ingat kan kalau bohong itu …”
De : “Beneran Ade ka,
Coba pejamkan mata kaka.”
Me : “Untuk apa?”
De : “Pejamkan aja dulu
ka.”
Me : “Oke, oke.”
(memejamkan mata)
De : “Coba kaka mimpikan
Ade yang ngupas, Ade kan ka yang ngupas?”
Me : (mangut-mangut, waa
saya dikerjain)
Note:
“Semua mimpi kita dapat menjadi kenyataan, bila kita mempunyai keberanian untuk
mengejarnya (Walt Disney). Jangan berhenti percaya dengan mimpi anda.”
*Tidak Terpikir*
Hari itu lagi-lagi saat sedang asyiknya membaca buku, Ade datang
menghampiri sambil melihat apa yang saya baca. Tiba-tiba Ade bertanya,
De : “Ka, itu gambar
apa?”
Me : “Oh, ini gambar
foto keluarga.” (bukan foto asli, hanya gambar kartun). “Ini foto ayahnya, ibu,
dan ini anaknya.”
De : “Oh, terus yang
foto siapa ka?”
Me : (tidak terpikir) “Hhe,
ini ngga ada yang foto (secara itu gambar kartun, saya langsung mengalihkan
topik lain, nyari aman).
Note:
“Think like a child, Think out of the box.”
*Tanpa Judul*
Dan sekali lagi, Ade menemukan saya sedang membaca. Karena saya
sudah lelah bermain seharian dengannya, tapi Ade tidak. Ade tak pernah lelah,
begitulah anak-anak.
De : “Ka, main game yuk.”
(Game di PSP)
Me : “Kaka ngga bisa.”
(maksudnya ngga bisa ikut main, hhe. Tapi saya yakin Ade akan mengira saya beneran ngga bisa,
sehingga Ade main sendiri. Oke, sip)
De : “Kaka itu
ngelihatnya aja, Ade yang main.”
Me : (Aw, bener juga
secara itu PSP). “Uhm, kaka mau baca nih, setelah ini ya.”
Note:
“Hati-hati dengan kege-eran.”
Ade langsung pergi dengan wajah kesal. Saya pun tersenyum,
karena Ade pasti akan kembali, entah apa lagi yang akan dilakukannya. Yang
namanya anak-anak apa pun yang dia mau, dia akan berusaha membuatnya terjadi
dengan segala cara, termasuk ‘nekat’ menangis di tempat umum bahkan sambil
guling-guling. Dan benar selang beberapa menit kemudian. Ade datang, dia
membawa kotak game PSP dan duduk di depan saya. Apa yang dia lakukan? Dia
membaca tulisan di kotak game PSP itu, (Ade belum bisa membaca).
De : (Membaca dengan
serius tulisan di kotak gamenya) “Ini game Ade. Gamenya ada banyak. Abang,
kaka, Nabila, boleh main game ini. Apin, Riky, tidak boleh main game ini,
karena mereka suka mengganggu Ade. Asabvgbjqrjnj jabqgbcqq grjabcmqb anygbabjn.”
(Meski anda belum pernah melihat tulisan kotak game itu,
anda pasti yakin bahwa bukan begitu tulisannya. Ade berpura-pura bisa membaca)
Note:
Berusahalah mendapatkan apa yang diinginkan, salah satunya dengan cara
berpura-pura seolah anda benar-benar telah mendapatkannya. Karena pikiran akan
mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh.
Saya pun tertawa mendengarnya. Dan Ade berhasil membuat buku
bacaan itu tak lagi menarik. Saya ingin bermain dengannya.
Me : “Ade, sini, ayo
main. Ade mau main apa?”
De : “Ajarin Ade membaca
ka, kan Ade sebentar lagi mau masuk TK.”
Me : “Oh, oke, belajar
juga tak kalah serunya dengan bermain. Tunggu sebentar, kaka tuliskan dulu
bacaannya.”
Setelah selesai menuliskannya, saya mengajarinya dengan
memintanya meniru kata-kata saya. Karena hanya membaca dua huruf, misal ba, ca,
da, be, ce, de, bi, ci, di, …, itu membuat Ade tertawa. Awalnya saya tak
permasalahkan tapi itu terus berlanjut,
Me : “Ade sayang, nanti
kalau Ade tertawa saat guru menyuruh membaca, Ade bisa disuruh pulang lho.”
(dengan maksud agar Ade serius belajar, tapi…)
De : “Tas Ade gimana
kak?”
Me : (Yah, malah tanya
itu). “Ya, dibawa pulang juga.”
De : “Buku Ade?”
Me : “Ow, ya, dibawa
pulang juga.”
De : “Pensil Ade?”
Me : (Haduh). “Ya,
dibawa pulang juga.”
De : “Penghapus?”
Me : (gubrak)
Note:
“Jangan lupakan hal-hal kecil, karena hal besar berawal dari hal kecil.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^