Minggu, 12 Januari 2014

Cup of Juice 2

Bila ditanya tentang apa saja kamu menulis, maka jawabnya 'tentang apa saja'. Salah satunya tentang apa yang bisa saya ingat sejak saya bisa mengingat, juga tentang apa yang saya pikirkan selagi masih bisa berpikir. Dan sungguh menarik menuliskan tentang taburan peristiwa kehidupan. Agar menjadi ingatan bahwa kita pernah mengalami sesuatu. Karena menulis tak hanya untuk dipahami tetapi juga untuk memahami. Semoga dapat menikmati cup of juice hari ini. Cerita mini dengan adik bungsu. Namanya Ade. Ada banyak hal yang saya dapatkan saat bersamanya. Me = Saya dan De = Ade. Mari berbagi~
 photo 82.gif photo 82.gif photo 82.gif

*Tak Bisa Sendiri*
Waktu itu sedang asyik membaca buku tentang menulis, Ade datang sambil membawa papan catur. Papan catur yang besarnya hampir mengalahkan Ade yang baru berusia 5 tahun. Ade duduk di samping kiriku. Aku berpura-pura tak melihatnya. Firasatku mengatakan dia akan mengajakku main catur. Seolah tak ingin mengganggu, Ade menyusun bidak-bidak catur itu sendiri. Dan tak disangka susunannya tepat, posisi raja, ratu, menteri, kuda, benteng dan pion. Hingga setelah selesai ia menyusun kedua kubu bidak itu, aku tak mampu menahan godaan untuk bertanya.
 photo 80.gif photo 80.gif photo 80.gif

Me : “Wah, hebat ya Ade bisa menyusunnya dengan benar. Belajar dari siapa?”
De : “Ade sendiri, ka.”
Me : ”Masa sih? Kakak ngga percaya.”
De : “Beneran ka, Ade sering ikut liatin abah main catur.”
Me : “Oh, uhm …, terus Ade bisa, main catur?”
De : “Bisa dong ka.”
Me : “Ah,  masa?”
De : “Iya, Ade itu bisa kalau berdua mainnya, kalau sendiri Ade ngga bisa. Ayo ka, kita main.”
Me : (Tuh kan, bener firasat saya)
 photo 53.gif photo 53.gif photo 53.gif

Note: “Kita memang tak bisa sendiri. Ada yang bisa?”
 photo 55.gif photo 55.gif photo 55.gif

*Mimpikan*

Dari dapur terlihat Ade membawa piring ditangan kanannya dan pisau ditangan kirinya. Di dalam piring itu ada buang mangga mentah yang telah dikupas kulitnya dan sebungkus kecap manis.  Sambil mengembangkan senyumnya, ia berjalan mendatangi saya. Sesampainya …,

De : “Kaka, potongkan buah ini dong.”
Me : “Oke, sini buahnya.  (penasaran mengapa buah mangga itu hanya dikupaskan tidak sekalian dipotongkan, saya pun bertanya). Ade, ini siapa yang ngupasin kulitnya?”
De : “A-de.”
Me : (Melihat bentuk kupasan yang rapi, siapa yang percaya Ade yang mengupas?). “Ah, masa? Ade bohong nih, masih ingat kan kalau bohong itu …”
De : “Beneran Ade ka, Coba  pejamkan mata kaka.”
Me : “Untuk apa?”
De : “Pejamkan aja dulu ka.”
Me : “Oke, oke.” (memejamkan mata)
De : “Coba kaka mimpikan Ade yang ngupas, Ade kan ka yang ngupas?”
Me : (mangut-mangut, waa saya dikerjain)
 photo 74.gif photo 74.gif photo 74.gif

Note: “Semua mimpi kita dapat menjadi kenyataan, bila kita mempunyai keberanian untuk mengejarnya (Walt Disney). Jangan berhenti percaya dengan mimpi anda.”
 photo 66.gif photo 66.gif photo 66.gif

*Tidak Terpikir*
Hari itu lagi-lagi saat sedang asyiknya membaca buku, Ade datang menghampiri sambil melihat apa yang saya baca. Tiba-tiba Ade bertanya,

De : “Ka, itu gambar apa?”
Me : “Oh, ini gambar foto keluarga.” (bukan foto asli, hanya gambar kartun). “Ini foto ayahnya, ibu, dan ini anaknya.”
De : “Oh, terus yang foto siapa ka?”
Me : (tidak terpikir) “Hhe, ini ngga ada yang foto (secara itu gambar kartun, saya langsung mengalihkan topik lain, nyari aman).
 photo 30.gif photo 30.gif photo 30.gif

Note: “Think like a child, Think out of the box.”
 photo 11.gif photo 11.gif photo 11.gif

*Tanpa Judul*                                                  
          Dan sekali lagi,  Ade menemukan saya sedang membaca. Karena saya sudah lelah bermain seharian dengannya, tapi Ade tidak. Ade tak pernah lelah, begitulah anak-anak.

De : “Ka, main game yuk.” (Game di PSP)
Me : “Kaka ngga bisa.” (maksudnya ngga bisa ikut main, hhe. Tapi saya yakin  Ade akan mengira saya beneran ngga bisa, sehingga Ade main sendiri. Oke, sip)
De : “Kaka itu ngelihatnya aja, Ade yang main.”
Me : (Aw, bener juga secara itu PSP). “Uhm, kaka mau baca nih, setelah ini ya.”

Note: “Hati-hati dengan kege-eran.”
 photo 13.gif photo 13.gif photo 13.gif
         
          Ade langsung pergi dengan wajah kesal. Saya pun tersenyum, karena Ade pasti akan kembali, entah apa lagi yang akan dilakukannya. Yang namanya anak-anak apa pun yang dia mau, dia akan berusaha membuatnya terjadi dengan segala cara, termasuk ‘nekat’ menangis di tempat umum bahkan sambil guling-guling. Dan benar selang beberapa menit kemudian. Ade datang, dia membawa kotak game PSP dan duduk di depan saya. Apa yang dia lakukan? Dia membaca tulisan di kotak game PSP itu, (Ade belum bisa membaca).

De : (Membaca dengan serius tulisan di kotak gamenya) “Ini game Ade. Gamenya ada banyak. Abang, kaka, Nabila, boleh main game ini. Apin, Riky, tidak boleh main game ini, karena mereka suka mengganggu Ade. Asabvgbjqrjnj jabqgbcqq grjabcmqb anygbabjn.”

          (Meski anda belum pernah melihat tulisan kotak game itu, anda pasti yakin bahwa bukan begitu tulisannya. Ade berpura-pura bisa membaca)
         
Note: Berusahalah mendapatkan apa yang diinginkan, salah satunya dengan cara berpura-pura seolah anda benar-benar telah mendapatkannya. Karena pikiran akan mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh.
 photo 07.gif photo 07.gif photo 07.gif

Saya pun tertawa mendengarnya. Dan Ade berhasil membuat buku bacaan itu tak lagi menarik. Saya ingin bermain dengannya.

Me : “Ade, sini, ayo main. Ade mau main apa?”
De : “Ajarin Ade membaca ka, kan Ade sebentar lagi mau masuk TK.”
Me : “Oh, oke, belajar juga tak kalah serunya dengan bermain. Tunggu sebentar, kaka tuliskan dulu bacaannya.”

          Setelah selesai menuliskannya, saya mengajarinya dengan memintanya meniru kata-kata saya. Karena hanya membaca dua huruf, misal ba, ca, da, be, ce, de, bi, ci, di, …, itu membuat Ade tertawa. Awalnya saya tak permasalahkan tapi itu terus berlanjut,

Me : “Ade sayang, nanti kalau Ade tertawa saat guru menyuruh membaca, Ade bisa disuruh pulang lho.” (dengan maksud agar Ade serius belajar, tapi…)
De : “Tas Ade gimana kak?”
Me : (Yah, malah tanya itu). “Ya, dibawa pulang juga.”
De : “Buku Ade?”
Me : “Ow, ya, dibawa pulang juga.”
De : “Pensil Ade?”
Me : (Haduh). “Ya, dibawa pulang juga.”
De : “Penghapus?”
Me : (gubrak)
 photo 20.gif photo 20.gif photo 20.gif

Note: “Jangan lupakan hal-hal kecil, karena hal besar berawal dari hal kecil.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^