Sabtu, 11 Januari 2014

Bukan Salah ''Kami''

"Sst, sst, ehm, ehm ...,''
"Su ..., ara dari ..., ma ..., na?''
"Dari bawah, aku dekat kakimu.''
"Siapa? Aku tidak melihat seorang pun?''
"Memang tidak ada siapa-siapa, karena itu aku memberanikan diri mengajakmu bicara.''
"Maksudnya? Jangan membuatku merasa aneh.''
"Kalau begitu, duduklah, kamu akan tahu siapa yang mengajakmu bicara.''
Ku ikuti sarannya sesegera mungkin. Aku penasaran.
"Aku sudah duduk, sekarang tunjukkan dirimu, apa yang kau inginkan dariku?''
"Aku di sampingmu, tepat di samping kananmu, kamu lihat?''
Kepalaku kutolehkan tak hanya ke kanan tapi juga ke kiri, ke depan, bahkan ke belakang, ''Mana, mana, kanan? Tidak ada, pun di mana-mana'' seruku dalam hati, tak sabar.

"Aku tidak melihat siapa pun selain ..., (haruskah mengatakannya?) ada seekor kucing yang tampak menyebalkan.''
"Yaa ..., itu berarti kamu melihatku.''
"Me ..., li ..., hat? Hanya kucing yang tampak menyebalkan YANG KULIHAT'' kataku setengah kesal.
"Akulah yang berbicara kepadamu, KUCING YANG TAMPAK MENYEBALKAN.''
Hening ...,
Masih hening ...,
Seketika aku berdiri, gemetar. Rasanya seperti keluar dari kulkas setelah sejam lebih di dalamnya, lalu disengat listrik. Ini mungkin analogi yang berlebihan, tapi ..., hey aku sungguh shock level up.
Bayangkan, bayangkan! Aku baru saja menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Telingaku mendengar dengan nyata. Seekor kucing tak mengatakan ''Meow, meoww'' tapi ah, ia berbahasa Indonesia dengan baik dan lancar (?!).
"Jangan takut, aku bukan Tom yang melihatmu seperti Jerry, hhaha, wajahmu terlalu baik untuk dijahili dan kamu sungguh tidak enak untuk dimakan. Hhahaha'' katanya mencoba mencairkanku yang setengah membeku setengah gemetar.
"Duduklah, aku tak ingin orang-orang memperhatikan kita, maksudku, aku tak ingin ada yang melihatku berbicara. Bahkan dari jenisku, karena aku akan mendapat hukuman yang membayangkannya saja rasanya bulu-buluku rontok semua. Jangan takut, duduklah'' katanya meyakinkan. Matanya menatapku penuh harap setelah celingukan kesegala arah.
"Ayolah duduk. Apa yang kamu lakukan? Berhentilah mencubit pipimu. Kamu membuatnya tambah bengkak. Percayalah, ini bukan mimpi. Dan jangan berpikir kamu gila'' katanya sambil tertawa getir.
"Apa kamu ingin aku membantumu duduk?'' Katanya lagi, kali ini mendekat mengelus-elus kakiku dengan tangan kiri atau kaki kiri, entahlah.
"AAAAAA ..., HENTIKAN! Ba ...,ba ..., baiklah, aku akan du ..., duk. Tapi tolong menjauhlah 50cm'' sahutku, aku tak dapat menjelaskan apa yang aku rasakan juga pikirkan, mungkin nano-nano, mungkin blank.
Yang ku tahu KENYATAANNYA adalah, sekarang aku telah duduk untuk mendengarkan seekor kucing yang tampak menyebalkan berbicara. Mengetahui ia bisa berbicara, kucing itu tampak menyeramkan sekarang.
"Oke, aku akan mengesampingkan logikaku saat ini, apa yang kamu inginkan? Apa kamu ingin balas dendam?'' Tanyaku setengah takut setengah curiga.
"Aku hanya ingin satu hal, melakukan pembelaan, maksudku menyampaikan kebenaran'' Jelas sang kucing.
"Kebenaran?'' Tanyaku tak mengerti.
"Iya, karena pikiranmu selama ini tentang kami itu salah. Aku ingin kamu menyukai kami. Ini untuk kebaikan bersama.'' Jawab kucing itu.
"Kebaikan bersama atau untuk kebaikanmu (saja)?'' Tak diragukan lagi, sepertinya ada udang dibalik batu.
"Waktuku sungguh berharga, banyak hal yang lebih penting dari sekadar mendengarkan 'pembelaan'mu. Karena apa pun yang akan kamu sampaikan, tak akan mengubahku. Aku tetap tak bisa menyukai kucing. Bagiku kalian sungguh menyebalkan.'' Jelasku, puas.
Kucing itu menatap dengan wajah memelas dan berkata, ''Aku telah mempertaruhkan hidupku untuk hal ini. Apa itu tidak menyentuh hatimu?''
Sembari berpikir, aku menarik nafas panjang, mengelus dada.
"Oke, oke, mengingatmu melakukan itu, aku akan menganggap mendengarkan pembelaanmu adalah hal yang 'lumayan' penting. ''
Kulihat kucing itu manyun dan ingin menyela, tapi langsung kulanjutkan kata-kataku. Ada yang ingin ku klarifikasi terlebih dulu.
"Tapi sebelum itu, kamu masih kurang 20cm lagi, jarak kita belum 50cm. Setidaknya kamu memberiku ruang agar bisa merasa sedikit nyaman dan, aman. Oia, pipiku ini tidak bengkak. Ini memang sudah begitu adanya." (Ah ini harus dijelaskan, ya aku tahu dia hanya 'kucing'. Tapi dikatakan bengkak? Ini kesalahan yang perlu diluruskan).
"Benarkah? Baiklah.'' Segera kucing itu menjauh. Meloncat gembira. Jaraknya 20cm lebih. Itu bagus. Lebih jauh lebih baik.
"Ehm, apa kamu dapat mendengar suaraku yang merdunya mengalahkan Iwan Fals bernyanyi dengan jarak seperti ini?'' Katanya mencoba membuatku tertawa. Tapi tidak berhasil.
"Oho, ya, aku bisa mendengarnya, bahkan suaramu lebih merdu dari nyanyian seekor burung yang sedang batuk berdahak.''
"Terimakasih pujiannya.'' Katanya sambil tersenyum, sekilas. Aku hanya mengangguk berat.
"Sebelum aku mulai, bisakah kita membuat sebuah kesepakatan?'' Pintanya.
"Kesepakatan?''
"Ya, kesepakatan untuk kebaikan bersama.''
Alasan itu lagi. "Kebaikan bersama atau untuk kebaikanmu (saja)?''
Dia tidak segera menjawab, dan langsung melanjutkan maksud perkataannya.
"Bisa kah kita sepakat untuk memulai pembicaraan ini dengan mental positif? Dalam artian hilangkan kesan negatifmu tentangku. Karena apa pun yang kukatakan akan percuma.''
Terangnya, ''Bila sesuatu dimulai dengan 'pikiran negatif' apalagi untuk sebuah penjelasan, maka kita tak akan pernah mendapatkan titik temu. Tak akan ada upaya untuk memahami satu sama lain. Dan pengertian pun akan sulit dicapai.''
"Benar juga" aku membenak.
"Kamu tak ingin kan,membuang waktumu yang berharga itu? Aku juga tak ingin pengorbananku ini sia-sia, bila aku tak berhasil memengaruhimu. Ups, maksudku membuatmu mengerti. Ini semua untuk kebaikanmu dan, aku (juga).''
"Tunggu dulu, maksudnya untuk kebaikan itu apa?''
"Bukankah kamu selalu merasa tidak nyaman dengan kehadiran kami? Apalagi orang-orang terdekatmu menyukai kami. Aku ingin membuatmu mengerti agar kamu bisa merasa nyaman.''
Kucing itu memperhatikanku yang sedang berpikir keras. Seakan tak ingin hilang kesempatan untuk membuatku menyetujuinya, segera ia bertanya dengan wajah memelas itu lagi, ''Bagaimana? Kamu mau kan menganggap seperti sedang mendengarkan temanmu berbicara? Atau bila itu berat bagimu, setidaknya kamu mengubah perasaan yang tidak suka itu menjadi 'netral'?''
"Okelah, aku akan mendengarkanmu dengan perasaan 'netral'. Sekarang, katakanlah yang ingin kau sampaikan. Dengan singkat, padat, dan jelas. Dan jangan mencoba membohongiku.''
"Ingat, dengan mental positif'' sindirnya.
Hampir sejam lebih aku mendengarkan kucing itu. Aku hanya menyimak. Sebuah penjelasan yang lebih tepatnya pembelaan.
Mengapa tempat yang cocok untuk mereka adalah 'rumah'. Keterpaksaan mencuri ikan selagi ada kesempatan. Tak sengaja mengotori lantai karena tak ada sendal yang cocok untuk mereka. Kebiasaan menggaruk karena itu sangat nyaman, bahkan terkadang mencakar-cakar. Cara mandi yang unik dengan menjilat tubuh sendiri. Alasan mengapa mereka kadang berkelahi dengan sesamanya yang baru dikenal. Juga alasan bahwa cara mereka berteman adalah dengan mengelus-elus dan berada di sekitar, juga selalu ingin mengikuti kemana empunya pergi. Bahkan katanya membuang kotoran sembarangan itu hal biasa yang dilakukan setiap hewan. Semua bukan 'salah' mereka karena begitulah 'hewan'. Termasuk bukan salah mereka bila ada yang memberi mereka nama dengan nama yang sama dengan namaku. (Ah, ini yang sulitku terima). Hanya saja mereka harus menyahut agar tetap bisa bertahan, diberi makan dan dibiarkan tinggal bersama.
Tak hanya itu, dia juga mengoceh betapa lucunya mereka, cute, manis, dan ramah. Suka bercanda, penghibur yang keren, setia dengan empunya, pendengar yang baik meski tak mengerti apa yang dibicarakan, serta pantas mendapat sebutan hewan kesayangan karena begitu penurut, pintar, dan selalu semangat untuk dilatih. Karenanya mereka dapat melakukan hal-hal yang menakjubkan. Seperti seakan mengerti bila dikatakan begini dan begitu, membedakan ini dan itu, dan melakukan hal ini pun hal itu. Ia juga memuji bangsanya bahwa mereka punya pesona tersendiri yang membuat orang-orang tertarik memiliki mereka.
"Jadi, bila kami tampak menyebalkan itu bukan salah kami. Bukankah kami ini hewan? Sekarang, apa alasanmu untuk tidak menyukai kami?''
Tanyanya membangunkanku. Ya, membangunkanku. Membangunkanku dari ..., dari ti-dur (?). Hey ..., rupanya ini semua (ternyata) MIMPI. Ya, jelas mimpi. Tak ada sejarahnya kucing bisa berbicara di dunia sebenarnya, kan?
Memikirkan mimpi barusan, membuat pikiranku jauh menerawang, ditambah rasa terkejut yang belum hilang, tak mampu membuat mataku kembali terpejam. Ini masih pukul 00.48. Kantukku telah pergi tak dapat ku kejar. Ada sesuatu yang mengusik ku. Pertanyaan terakhir sang kucing. Belum sempat aku memikirkan jawabannya tiba-tiba...
Aku mendengar suara, suara yang rasanya tak asing ditelingaku.
"Sst, sst, ehm, ehm ...,''
"Su ..., ara dari ..., ma ..., na?''
Aku gemetar. Tidak mungkin kataku berkali-kali dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^