Hati. Tak punya mata, namun dapat melihat
jauh lebih dalam. Siapa yang percaya ia punya telinga? Punya lidah? Entah, bagaimana
bisa ia mendengar, saat dalam diam sekalipun. Suara hati, suara yang tak semua
orang dapat mendengarnya. Bahkan ia dapat melangkah pergi, tanpa kaki. Kadang
tak kembali.
Seandainya hati dapat terlihat oleh mata.
Suaranya terdengar jelas ditelinga. Ia akan menyuruh kita duduk di depannya.
Menatap mata kita dalam-dalam. Dan, dengan lembutnya berbicara. Suaranya akan
begitu syahdu ditelinga. Dengarkanlah ia. Ia akan mengatakan banyak hal.
Menceritakan sebuah rahasia.
Wahai
kamu yang aku selalu bersamamu. Aku hatimu. Lihat aku, apakah aku terlihat
buruk? Menakutkan? Jelek? Tidak, jangan tutup matamu, jangan buang mukamu. Inilah
bentuk terindahku. Aku cantik dengan luka yang darahnya begitu segar mengucur seperti ini. Aku cantik dengan banyaknya
bekas jahitan ditubuhku.
Aku
benar-benar cantik walau sepotong diriku pergi, aku memang membiarkannya berlubang. Aku tetap akan cantik
meski sepotong hati yang baru tak benar-benar pas mengisi tempat yang berlubang
itu. Jangan takut aku terluka. Karena dengan begitulah aku dapat menembus baja,
melelehkan besi, meleburkan karang. Bentuk yang laksana tambal sulam, jahitannya
abstrak, tak pas, justru membuatku percaya diri bahwa aku lebih cantik dari
mawar biru. Sungguh lebih exotic dari
pelangi dimalam hari.
Tentu
kamu bertanya-tanya, mengapa demikian wahai hatiku? Bukankah lebih cantik jika
seperti beningnya kaca tanpa goresan sedikitpun, yang bahkan saat air diteteskan di atasnya sempurna
tergelincir tanpa bekas, tanpa sisa?
Ya,
itu memang cantik. Namun bukanlah ‘cantik’
dalam makna sejatinya. Itulah gambaran hati dimana pemiliknya adalah
orang-orang yang takut. Mereka tak berani sakit. Takut terluka. Hati yang tak
tergores. Tak tersentuh.
Setiap
luka itu -sengaja atau tidak- datang dari orang-orang yang kamu kasihi. Bukankah
mereka orang-orang yang sungguh kamu sayangi? Jahitan-jahitan itu adalah diriku
yang kamu sobek-sobek untuk mencintai mereka yang mencintaimu, sobekan itu juga
kau berikan kepada mereka yang tak mencintaimu bahkan untuk mereka yang membencimu.
Itulah
mengapa jahitan itu mirip lukisan abstrak. Kadang dijahit lembut, namun juga
tak jarang djjahit dengan kasar. Meninggalkan bekas memang. Bekas yang akan
membuatmu selalu ingat kepada mereka yang bersama merasakan cinta itu. Adakalanya
potongan hati itu tak kembali. Atau akan diisi oleh potongan hati baru yang tak
‘pas’. Bahkan mungkin ia akan tetap berlubang, tak mengapa. Karena aku tak kan
pernah habis. Semakin dibagi, semakin besar, semakin kuat, dan, semakin cantik…
Sekarang,
apakah kamu mengerti wahai diri yang aku adalah hatimu? Dapatkah kamu melihat
dengan nyata betapa cantiknya aku? ‘Cantik’
dengan makna sejati. Aku hatimu. Jadikan aku ‘cantik’. Walau orang-orang tak menyadari
kecantikanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^