Minggu, 22 Desember 2013

Jadikan Aku Cantik


Hati. Tak punya mata, namun dapat melihat jauh lebih dalam. Siapa yang percaya ia punya telinga? Punya lidah? Entah, bagaimana bisa ia mendengar, saat dalam diam sekalipun. Suara hati, suara yang tak semua orang dapat mendengarnya. Bahkan ia dapat melangkah pergi, tanpa kaki. Kadang tak kembali.
Seandainya hati dapat terlihat oleh mata. Suaranya terdengar jelas ditelinga. Ia akan menyuruh kita duduk di depannya. Menatap mata kita dalam-dalam. Dan, dengan lembutnya berbicara. Suaranya akan begitu syahdu ditelinga. Dengarkanlah ia. Ia akan mengatakan banyak hal. Menceritakan sebuah rahasia.

Wahai kamu yang aku selalu bersamamu. Aku hatimu. Lihat aku, apakah aku terlihat buruk? Menakutkan? Jelek? Tidak, jangan tutup matamu, jangan buang mukamu. Inilah bentuk terindahku. Aku cantik dengan luka  yang  darahnya begitu segar  mengucur seperti ini. Aku cantik dengan banyaknya bekas jahitan ditubuhku.

Aku benar-benar cantik walau sepotong diriku pergi, aku memang  membiarkannya berlubang. Aku tetap akan cantik meski sepotong hati yang baru tak benar-benar pas mengisi tempat yang berlubang itu. Jangan takut aku terluka. Karena dengan begitulah aku dapat menembus baja, melelehkan besi, meleburkan karang. Bentuk yang laksana tambal sulam, jahitannya abstrak, tak pas, justru membuatku percaya diri bahwa aku lebih cantik dari mawar biru. Sungguh lebih exotic  dari pelangi dimalam hari.
Tentu kamu bertanya-tanya, mengapa demikian wahai hatiku? Bukankah lebih cantik jika seperti beningnya kaca tanpa goresan sedikitpun, yang bahkan  saat air diteteskan di atasnya sempurna tergelincir tanpa bekas, tanpa sisa?
Ya, itu memang cantik.  Namun bukanlah ‘cantik’ dalam makna sejatinya. Itulah gambaran hati dimana pemiliknya adalah orang-orang yang takut. Mereka tak berani sakit. Takut terluka. Hati yang tak tergores. Tak tersentuh.
Setiap luka itu -sengaja atau tidak- datang dari orang-orang yang kamu kasihi. Bukankah mereka orang-orang yang sungguh kamu sayangi? Jahitan-jahitan itu adalah diriku yang kamu sobek-sobek untuk mencintai mereka yang mencintaimu, sobekan itu juga kau berikan kepada mereka yang tak mencintaimu bahkan untuk mereka yang membencimu.
Itulah mengapa jahitan itu mirip lukisan abstrak. Kadang dijahit lembut, namun juga tak jarang djjahit dengan kasar. Meninggalkan bekas memang. Bekas yang akan membuatmu selalu ingat kepada mereka yang bersama merasakan cinta itu. Adakalanya potongan hati itu tak kembali. Atau akan diisi oleh potongan hati baru yang tak ‘pas’. Bahkan mungkin ia akan tetap berlubang, tak mengapa. Karena aku tak kan pernah habis. Semakin dibagi, semakin besar, semakin kuat, dan, semakin cantik…
Sekarang, apakah kamu mengerti wahai diri yang aku adalah hatimu? Dapatkah kamu melihat dengan nyata betapa cantiknya aku?  ‘Cantik’ dengan makna sejati. Aku hatimu. Jadikan aku ‘cantik’. Walau orang-orang tak menyadari kecantikanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tak usah sungkan bila ingin mengatakan... ^^