Setiap kali ingin menulis, terdengar suara yang mirip dengan
suara saya. Entah darimana datangnya. Dari kepala atau dari hati. Nyaring
terdengar. Berteriak. Berkali-kali suara itu muncul. Suara yang lebih dari
membuat saya merinding. Suara yang membuat saya hilang keinginan untuk menulis.
Suara yang dapat memadamkan semangat api menelurkan ide. Suara yang melupakan
saya dengan komitmen untuk menulis setiap hari. Suara yang selalu meneriakkan,
“Mengapa menulis itu? Harusnya menulis skripsi”. Apakah suara itu yang salah?
Jika saya mengiyakan, maka saya melakukan pembenaran.
Atau empat kata ini, “saya tidak punya waktu”. Empat kata
itukah kambing hitamnya? Ah, katanya suka menulis. Kalau memang suka, tentu
akan berusaha meluangkan waktu untuk
menulis, sesibuk bagaimanapun.
Tidak punya ide? Alasan apa lagi ini? Ide berhamburan
dimana-mana. Apa yang dilihat, bisa jadi itu ide. Segala yang didengar, boleh
jadi ada terselip ide. Ketika membaca, berdiskusi, datang ke sebuah acara, atau
apalah, apapun pengalaman yang didapat, semua itu sumber ide. Hidup adalah
sumber ide yang tak pernah kering. Tak punya ide? Tak mungkin itu alasannya.
Kadang ada muncul ketakutan. Takut nanti menulis tulisan yang
buruk. Takut tulisannya tidak ada guna. Bahkan takut tidak ada yang membaca. Kalau
memang tulisannya buruk dan membosankan, bila ternyata tak ada guna, pun tak
ada yang mau membaca, apakah menulis itu perbuatan yang sia-sia? Setidaknya
belajar menulis, kan? Lalu? Ah, bagaimanalah saya ini kalau belajar saja takut.
Malaskah? Katanya tidak ada orang yang malas, yang ada itu
adalah orang yang tidak punya motivasi. Jadi bukan malas menulis, melainkan tak
punya motivasi untuk menulis. Tapi sepertinya tidak ada orang yang tak punya
motivasi, tepatnya orang itu tidak berusaha memotivasi dirinya sendiri. Apa
tujuan saya menulis, mengapa saya harus menulis, dan impian menjadi penulis,
saya harus terus mengingatnya.
Sekarang apa lagi, apa yang menahan untuk menulis? Benar
memang apa yang dikatakan seseorang, “Jika sesuatu itu penting, pasti berusaha
mencari jalan. Bila tidak penting, ya hanya akan mencari-cari alasan”.
Pentingkah menulis itu bagi saya? Penting. Kalau begitu no excuse!
Menulis!
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus